Belum Kenyang Kalau Makan Tanpa Nasi

Penulis: Darmansyah

Rabu, 24 Januari 2018 | 10:06 WIB

Dibaca: 0 kali

Apakah Anda termasuk salah seorang yang belum “kenyang” kalau belum mengisi perut dengan nasi?

Ya, mungkin bukan hanya Anda sendiri. Banyak orang yang juga seperti Anda.

Dan ilmuwan Jepang menungkapka hal ini dengan kaitannya  neuron dalam otak.

Saat neuron ini aktif, keinginan untuk makan semakin besar.

Bahkan kita sering mendengar kalimat belum kenyang kalau belum makan nasi. I

Dan itu merupakan salah satu kalimat yang paling sering kita dengar di Indonesia.

Aneh.

Ya, nggaklah

Menurut ilmuwan dari Institut Nasional Ilmu Fisiologis Jepang, keinginan untuk terus melahap karbohidrat sebenarnya datang dari dalam otak.

Mereka berkata bahwa hal itu karena neuron atau sel saraf yang dapat merespons stres sosial sedang aktif dan membuat nafsu makan bertambah.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu mengalihkan keinginan mengonsumsi karbohidrat, makanan manis, atau makanan cepat saji yang tidak sehat.

Sebelumnya, mereka melakukan uji coba pada tikus.

Mereka membuktikan bahwa tikus dengan neuron yang aktif dapat mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat dengan kecepatan tiga kali tikus dalam kondisi normal.

Selain itu, tikus juga mengurangi separuh asupan makanan berlemak tinggi.

“Ini adalah penelitian pertama yang menunjukkan bagaimana otak memainkan peran dalam preferensi untuk karbohidrat atau lemak,” ujar Yasuhiko Minokoshi, ilmuwan yang memimpin penelitian, dikutip dari AFP.

Minokoshi berkata bahwa manusia pada umumnya memang memilih makanan berdasarkan selera dan keadaan gizi tubuh. Namun, mekanisme pasti yang terlibat di dalamnya adalah sebuah misteri.

“Banyak orang yang setelah makan banyak permen saat stres cenderung menyalahkan diri karena tidak dapat menahannya. Tapi, seandainya mereka tahu kalau itu karena neuron, mungkin tidak akan sulit untuk mengendalikan diri sendiri,” sambungnya.

Namun, Minokoshi berkata bahwa masih sulit menerapkan temuannya untuk memperbaiki pola makan manusia. Pasalnya, sekadar menekan neuron yang memiliki banyak peran penting bisa memicu efek samping.

“Jika kita bisa menemukan molekul tertentu dalam neuron dan menekan sebagian aktivitasnya, kita bisa mengurangi makan berlebihan dari makanan yang tinggi karbohidrat,” jelasnya.

Dalam waktu dekat, temuan ini akan segera dipublikasikan dalam jurnal online AS Cell Reports.

Lantas muncul juga pertanyaan, apakah orang yang tidak makan nasi hidupnya lebih sehat?

Ya, seperti diketahui, nasi merupakan salah satu sumber karbohidrat yang sangat penting bagi tubuh.

Karbohidrat merupakan sumber energi utama yang dibutuhkan oleh tubuh untuk beraktivitas. Namun, banyak orang yang menganggap nasi sebagai musuh bebuyutan. Terutama orang yang sedang menurunkan berat badannya.

Karena takut gemuk, mereka pun membatasi nasi atau bahkan tidak makan nasi sama sekali.

Sebenarnya bolehkah seperti itu?

Apakah tubuh akan jadi lebih sehat?

Karbohidrat yang terkandung dalam nasi diperlukan tubuh untuk membantu proses pembakaran kalori menjadi energi.

Hal ini yang membuat tubuh menjadi lebih kuat dan berenergi ketika melakukan aktivitas. Jika Anda sengaja tidak makan nasi atau karbohidrat lain, maka tubuh tidak akan mendapat energi untuk beraktivitas secara optimal.

Itulah mengapa nasi bisa menjadi salah satu sumber energi Anda. Sebenarnya, Anda memang tidak diharuskan untuk makan nasi setiap waktu makan. Tidak masalah juga jika Anda tidak makan nasi.

Namun, semua itu dibolehkan selama Anda tetap menjaga kadar karbohidrat tubuh Anda dengan mengonsumsi makanan lain yang mengandung karbohidrat.

Anda dapat mengganti nasi dengan jenis karbohidrat lain. Misalnya kentang, roti, bihun, ubi, dan berbagai makanan pokok lainnya.

Sebaiknya Anda juga tetap menjaga kadar nutrisi dalam tubuh dengan tetap mengonsumsi makanan bergizi. Jangan sampai tubuh kurang mendapatkan karbohidrat dalam asupan gizi setiap harinya.

Umumnya seseorang tidak makan nasi atau karbohidrat lain dalam melakukan diet untuk menurunkan berat badan.

Sebenarnya diet rendah karbohidrat sendiri bukan berarti tidak mengonsumsi karbohidrat, tapi cukup dengan mengurangi asupan karbohidrat dari biasanya.

Tidak makan nasi atau sumber karbohidrat lain membuat Anda tak bersemangat menjalani aktivitas, merasa kelelahan, dan tidak enak badan seharian.

Kebiasaan ini juga justru akan merusak program diet Anda.

Telah dibuktikan bahwa sengaja tidak mengonsumsi karbohidrat sama sekali saat diet justru membuat Anda tambah sulit menurunkan berat badan.

Pada umumnya, orang dewasa yang sehat dianjurkan menerima asupan karbohidrat sekitar 3tiga ratus hingg alima ratus gram per hari.

Saat menjalani diet, asupan karbohidrat dapat dikurangi setengahnya atau menjadi sekitar seratus lima puluh hingga dua ratus gram.

Pengurangan karbohidrat harus disesuaikan dengan pola aktivitas Anda, dan dilakukan secara perlahan dalam hitungan mingguan maupun bulanan.

Hindari menurunkan asupan karbohidrat terlalu banyak jika Anda aktif bergerak dengan intensitas yang cukup tinggi.

Terlalu sedikit karbohidrat akan menurunkan metabolisme dan dapat menghilangkan massa otot.

Penurunan asupan karbohidrat juga harus diimbangi dengan asupan protein dan serat yang mencukupi.

Ketika kekurangan karbohidrat, tubuh akan lemas dan mengambil protein dan lemak untuk dijadikan energi.

Proses pecahnya lemak untuk dijadikan energi dapat menyebabkan terjadinya penumpukan unsur keton di dalam darah.

Jika dibiarkan terus berlangsung, kondisi ini bisa berlanjut jadi ketosis. Kondisi dapat menyebabkan gejala pusing, lemas, mual dan dehidrasi.

Kekurangan karbohidrat berisiko membuat Anda kekurangan nutrisi lain yang penting untuk fungsi tubuh. Beberapa efek samping lain jika tubuh tidak mendapat asupan karbohidrat yaitu:

Komentar