Belasan Pasien Difteri di RS Zainal Abidin

Penulis: Darmansyah

Selasa, 21 Februari 2017 | 15:08 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda tahu apa itu difteri?

Ya, difteri atau dikenal juga batuk rejan adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae yang bila tak ditangani dapat berakhir fatal.

Pasien yang terinfeksi bisa meninggal karena tertutup jalur pernapasannya atau bisa juga karena peradangan pada otot jantung.

Apabila pasien selamat, sistem saraf juga seringnya terkena pengaruh bakteri sehingga bisa menyebabkan kelumpuhan.

Meski mungkin terdengar menyeramkan, di dunia kasus untuk penyakit ini sebetulnya sudah jarang karena ada metode pencegahan efektifnya yaitu dengan vaksinasi DPT.

Hanya saja para ahli kesehatan kini melihat tren penyakit kembali seiring dengan meningkatnya sikap penolakan vaksin.

Dan itulah yang kini dilami beberapa warga Aceh, terkena difteri.

Mereka dirawat  di RS  Zainal Abidin dan  untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sebagian dari mereka dirawat di ruang isolasi.

Pada Selasa, menurut pihak RS,  tercatat ada 17 pasien pasien difteri yang telah dirawat sejak Januari-Februari.

Beberapa di antaranya dirawat di ruang isolasi.

“Sekarang masih ada lima pasien yang kita rawat di ruang isolasi,” kata Wakil Direktur Pelayanan RSUZA, Azharuddin.

Kelima pasien ini dirujuk dari rumah sakit daerah, seperti dari Pidie, Aceh Utara, dan Aceh Timur. Kondisi beberapa pasien, kata Azharuddin, sangat khas. Mereka semua kini dirawat di ruang isolasi agar tidak menular ke pasien lain termasuk tenaga medis.

RSUZA sendiri saat ini punya ruangan isolasi dengan jumlah enam tempat tidur. Saat ini, kondisi perawatan pasien di RSUZA keluar masuk, sehingga ketika ada yang masuk ada juga yang keluar karena sudah membaik.

Bila sudah terlambat ditangani, difteri dapat berakhir fatal. Sejauh ini dari 17 pasien yang dirawat di RSUZA, dua di antaranya meninggal dunia. Kefatalan ini terjadi akibat tertutupnya jalur pernapasan atau bisa juga karena peradangan pada otot jantung.

Dijelaskan Azhar, biasanya pasien difteri susah menelan sesuatu dan sulit bernafas. Jika sudah termasuk kategori berat, muncul selaput di bagian mulut dan leher kadang bengkak.

“Begitu ganasnya bakteri difteri ini,” terang Azhar.

Selain itu, gejala difteri biasanya muncul disertai demam, sakit kepala dan batuk. Pasien yang dicurigai terserang difteri diminta untuk segera memeriksa ke dokter.

Untuk mencegah seseorang terkena penyakit ini, sudah ada vaksinasi DPT.

Inilah yang menyebabkan kejadian penyakit difteri sempat berkurang.

Hanya saja para ahli kesehatan kini melihat tren penyakit ini kembali seiring dengan meningkatnya sikap penolakan vaksin.

Kekhawatiran kami adalah bila situasi ini dibiarkan, dalam jangka panjang kami mungkin akan melihat peningkatan penyakit di negeri ini secara keseluruhan

Di Indonesia kejadian serupa juga pernah terjadi tahun lalu. Kejadian luar biasa difteri terjadi di wilayah Padang membuat Kementerian Kesehatan RI turun tangan merespons dengan meluncurkan program Outbreak Response Imunization.

Difteri disebabkan oleh dua jenis bakteri, yaitu Corynebacterium diphtheriae dan Corynebacterium ulcerans.

Masa inkubasi saat bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul penyakit ini umumnya dua hingga lima hari

Difteri juga terkadang dapat menyerang kulit dan menyebabkan bisul. Bisul-bisul tersebut akan sembuh dalam beberapa bulan, tapi biasanya akan meninggalkan bekas pada kulit.

Segera periksakan diri ke dokter jika Anda atau anak Anda menunjukkan gejala-gejala di atas. Penyakit ini harus diobati secepatnya untuk mencegah komplikasi.

Penyebaran bakteri difteri dapat terjadi dengan mudah dan yang utama adalah melalui udara saat seorang penderita bersin atau batuk.

Selain itu, ada beberapa metode penularan lain yang perlu diwaspadai.

Bakteri difteri akan memproduksi toksin yang akan membunuh sel-sel dalam tenggorokan.

Sel-sel yang mati tersebutlah yang akan membentuk membran abu-abu pada tenggorokan. Di samping itu, toksin juga dapat menyebar lewat darah dan menyerang jantung serta sistem saraf.

Orang yang sudah menerima vaksinasi masih bisa terinfeksi penyakit ini. Namun mereka biasanya tidak menunjukkan gejala saat sedang terinfeksi. Tetapi Anda harus tetap waspada karena mereka juga dapat menularkan difteri.

Diagnosis awal difteri biasanya terlihat dari gejalanya, misalnya sakit tenggorokan yang disertai pembentukan membran abu-abu.

Dokter juga dapat mengambil sampel dari lendir di tenggorokan, hidung, atau bisul untuk diperiksa di laboratorium.

Jika seseorang diduga tertular difteri, dokter akan segera memulai penanganan, bahkan sebelum ada hasil laboratorium.

Dokter akan menganjurkannya untuk menjalani perawatan dalam ruang isolasi di rumah sakit. Lalu langkah pengobatan akan dilakukan dengan dua jenis obat, yaitu antibiotik dan antitoksin.

Antibiotik akan membantu tubuh untuk membunuh bakteri dan menyembuhkan infeksi. Dosis penggunaan antibiotik tergantung pada tingkat keparahan gejala dan lama pasien menderita difteri.

Sebagian besar penderita tidak akan menularkan bakteri difteri lagi setelah meminum antibiotik selama dua hari. Tetapi sangat penting bagi mereka untuk tetap menyelesaikan proses pengobatan antibiotik sesuai anjuran dokter, yaitu selama dua minggu. Penderita kemudian akan menjalani pemeriksaan laboratorium. Jika bakteri difteri masih ditemukan dalam tubuh pasien, dokter akan melanjutkan penggunaan antibiotik selama 10 hari.

Sementara antitoksin berfungsi untuk menetralisasi toksin atau racun difteri yang menyebar dalam tubuh.

Sebelum memberikan antitoksin, dokter biasanya akan mengecek apakah pasien memiliki alergi terhadap obat tersebut atau tidak.

Jika terjadi reaksi alergi, dokter akan memberikan antitoksin dengan dosis rendah dan perlahan-lahan meningkatkannya sambil melihat perkembangan kondisi pasien.

Bagi penderita yang mengalami kesulitan bernapas karena hambatan membran abu-abu dalam tenggorokan, dokter akan menganjurkan proses pengangkatan membran. Sedangkan penderita difteri dengan gejala bisul pada kulit dianjurkan untuk membersihkan bisul dengan sabun dan air secara seksama.

Selain penderita, orang-orang yang berada di dekatnya juga disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter karena penyakit ini sangat mudah menular.

Misalnya, keluarga yang tinggal serumah atau petugas medis yang menangani pasien difteri.

Dokter akan menyarankan mereka untuk menjalani tes dan memberikan antibiotik.

Terkadang vaksin difteri juga kembali diberikan jika dibutuhkan. Hal ini dilakukan guna meningkatkan proteksi terhadap penyakit ini.

Komentar