Banyak Olahraga Turunkan Hasrat Seksual?

Penulis: Darmansyah

Jumat, 20 Oktober 2017 | 08:11 WIB

Dibaca: 0 kali

Sebuah peneltian terbaru tentang olahraga dikaitkan dengan seks datang dengan kabar mengejutkan.

Seperti ditulis laman “healthy fresh,” hari ini, Jumat, 20 Oktober, banyak penelitian yang melihat bagaimana hubungan olahraga dan produksi hormon yang berhubungan dengan gairah seksual seseorang.

A.C. Hackney, seorang peneliti dari University of North Carolina, Amerika Serikat, sebelumnya telah meneliti efek ketahanan olahraga pria pada sistem reproduksinya.

Penelitian yang dipublikasikan melalui Journal of Endocrinological Investigation  ini menyebutkan bahwa berolahraga terlalu banyak memiliki efek yang merugikan pada sistem reproduksi pria.

Dalam penelitiannya, Hackney menyebutkan pria yang berolahraga tanpa istirahat menunjukkan sebuah kondisi yang disebut hipogonad-olahraga.

Hipogonad sendiri merupakan jenis gangguan yang menyerang organ seksual.

Dalam hal ini, yang diserang adalah hormon testoteron dan luteinizing hormone

“Bukti yang ada menunjukkan bahwa kondisi hipogonad-olahraga terbatas pada pria yang terus menerus berolahraga dalam waktu yang lama,” tulis Hackney dalam abstrak penelitiannya.

Hackney juga menerangkan bahwa adaptasi endokrin reproduksi pria yang rutin berolahraga juga belum terjawab melalui penelitiannya, sehingga penelitian lebih lanjut mengenai kondisi hipogonad-olahraga ini masih perlu dilakukan.

Penurunan hasrat seksual pada orang yang rutin berolahraga tidak hanya terjadi pada pria saja. Wanita pun mengalaminya.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim dari departemen konesiologi, Pennsylvania State University membuktikannya.

Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa olahraga fisik secara berlebihan memiliki konsekuensi negatif yang signifikan pada seluruh tubuh wanita.

Salah satunya adalah disfungsi sistem reproduksi.

Disefisensi energi saat berolahraga secara berlebihan mengubah produksi hormon reproduksi di semua tingkat sumbu hipotalamus-hipofisis-ovarium

Dengan begitu, konsentrasi hormon esterogen dan progesteron akan menurun.

Akibatnya, gairah seksual perempuan yang melakukan olahraga secara berlebihan akan menurun.

Tak hanya itu, penelitian yang dipublikasikan  itu juga menyebutkan bahwa olahraga berlebihan juga akan menghasilkan spektrum gangguan haid atau sering disingkat EAMD.

Namun, penelitian yang diterbitkan dalam buku Exercise and Human Reproduction ini juga menyebutkan EAMD dapat dicegah.

Caranya dengan mempertahankan berat badan yang sehat dan keadaan penuh energi.

Untuk Anda tahu banyak atlet yang menghindari seks di puncak kejayaannya.

Merekat yang mempercayai bahwa hubungan seksual dapat mengganggu konsentrasi mereka

Bahkan mereka menganggap hubungan seksual hanya menguras energi saja.

Padahal, menurut penelitian ilmiah, puasa bercinta tidak memberi pengaruh pada performa seseorang.

Spesialis kedokteran olahraga di McGill University di Montreal, Kanada, Ian Shrier, mengatakan, “Ada dua angapan di mana seks bisa mempengaruhi penampilan atlet. Pertama, itu akan membuat Anda capek dan lemah esoknya.”

“ Namun ini tidak terbukti selama seseorang memiliki cukup istirahat. Kedua, seks mempengaruhi psikologis. Bagian ini juga belum diuji.”

Menurut Shrier, mitos yang pertama tidak didukung data ilmiah.

Memang benar bahwa seks akan membuat lelah bila dilakukan kurang dari dua jam sebelum pertandingan.

Ini masuk akal karena bercinta juga butuh energi. Namun bila seseorang punya kesempatan untuk memulihkan diri, maka tidak ada yang salah dengan seks.

Seks bisa mempengaruhi penampilan bila membuat seseorang kurang tidur atau tidak bisa istirahat,” kata David Bishop, pimpinan peneliti di Institute of Sport, Exercise and Active Living, Victoria University di Melbourne, Australia.

“Namun saya tidak melihat masalah bila seseorang bercinta lalu bisa beristirahat setelahnya.”

Walau begitu, untuk alasan konsentrasi, peneliti lain beranggapan bahwa seks bisa mengganggu.

Emmanuele Jannini pakar endrikonolgi dan seksologi dari Universitas Roma-Tor Vergata, Italia, menyarankan para atlet untuk menghindari seks jika konsentrasi adalah hal yang penting dalam pertandingan, meskipun aktivitas seks adalah kegiatan yang menyenangkan dan menyehatkan.

Komentar