Bahaya Tidak Olahraga? Ya, Kematian Dini

Penulis: Darmansyah

Rabu, 24 Oktober 2018 | 08:19 WIB

Dibaca: 1 kali

Tanpa olahraga, fungsi tubuh tak akan berjalan optimal.

Faktanya, ada sederet bahaya yang mengintai di balik kebiasaan melupakan olahraga atau aktivitas fisik.

Bahaya jarang berolahraga tak main-main.

Bahkan, sebuah penelitian teranyar menemukan tingkat risiko kematian lebih tinggi pada orang-orang yang jarang berolahraga.

Bahaya yang ditimbulkan disebut lebih parah daripada kebiasaan merokok, mengidap diabetes, atau menderita hipertensi.

Penelitian yang dipublikasikan pada jurnal JAMA Network Open itu menyebutkan bahwa jarang berolahraga memiliki risiko kematian tiga puluh persen lebih tinggi.

“Jarang berolahraga harus diperlakukan sebagai penyakit yang memiliki resep,” ujar pemimpin studi, dr Wael Jaber, ahli kesehatan jantung di Cleveland

Peneliti mempelajari seratus dua puluh dua ribu pasien yang getol melakukan treadmill di Cleveland Clinic selama dua puluh tiga tahun

Mereka mengukur semua penyebab kematian peserta penelitian, khususnya yang berkaitan dengan kebiasaan jarang berolahraga. Sebanyak dua belas persen kematian disebabkan oleh tingkat intensitas olahraga atau aktivitas fisik yang rendah.

Risiko kematian yang lebih tinggi itu terlihat ketika peneliti membandingkan kedua kelompok: mereka yang getol berolahraga dan mereka yang jarang berolahraga.

“Orang-orang yang jarang berolahraga atau melakukan treadmill berisiko dua kali lipat terserang gagal ginjal,” kata Jaber.

Meski sudah jadi rahasia umum, tapi penelitian ini disebut-sebut semakin meyakinkan anggapan bahwa kebugaran bisa memberikan angka harapan hidup yang lebih panjang. Manfaat olahraga kebugaran seperti aerobik, kata Jaber, tak berbatas.

Sebelumnya, sejumlah penelitian mengaitkan intensitas olahraga yang tinggi dengan risiko kematian. Namun, hal itu dibantah dalam penelitian teranyar ini.

“Tak ada tingkat intensitas olahraga tertentu yang bisa menimbulkan risiko kematian. Di sini justru kami melihat intensitas olahraga tinggi memiliki risiko kematian yang lebih rendah,” jelas Jaber.

Manfaat dari getol berolahraga bisa dirasakan orang tanpa pandang bulu, segala umur, dan segala jenis kelamin. “Meskipun Anda berusia  empat puluh hingga delapan puluh tahun, manfaat olahraga tetap bisa Anda dapatkan,” kata Jaber.

Dengan kata lain, penelitian ini mengajak Anda untuk bergerak dan bangkit dari kasur atau tempat duduk Anda.

Ahli kesehatan jantung di Lenox Hill Hospital, Satjit Bhusri, mengatakan bahwa penelitian ini memperkuat apa yang telah diketahui sebelumnya.

Gaya hidup minim aktivitas fisik telah menimbulkan risiko tinggi gangguan jantung. Namun, Bhusri yakin jika hal tersebut dapat diubah.

“Kita ditakdirkan untuk berjalan, berlari, berolahraga. Ini semua tentang bangkit dari kursi dan bergerak lah,” tutup Bhusri.

Sementara itu malas gerak adalah kebiasaan yang perlu diubah.

Namun, bagi beberapa orang kebiasaan tersebut sudah menjadi bagian dari rutinitas harian sehingga mereka terlanjur merasa nyaman. Anda mungkin memang tak akan merasakan langsung risiko dari gaya hidup sedentari.

Dampak dari gaya hidup sedentari baru akan mulai terasa bertahun-tahun setelah Anda terbiasa menjalani rutinitas tersebut.

Menurut Badan Kesehatan Dunia atau WHO, gaya hidup sedentari adalah salah satu dari sepuluh penyebab kematian terbanyak di dunia.

Selain itu, data yang dilaporkan oleh European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition pada sepuoluh tahun lalu menunjukkan bahwa kematian akibat kebiasaan malas gerak jumlahnya dua kali lebih banyak dibandingkan kematian karena obesitas.

Jika gaya hidup sedentari diikuti dengan pola makan yang tidak seimbang dan kebiasaan tidak sehat seperti merokok atau minum alkohol, Anda pun berisiko mengalami lebih banyak masalah kesehatan.

Walau kadang tidak disadari, kebanyakan duduk seharian dan kurang bergerak berdampak secara langsung pada kesehatan Anda

Ketika Anda bekerja sambil duduk, tulang belakang Anda akan jadi tegang karena terlalu lama membungkuk atau melengkung.

Oleh karenanya, paru-paru Anda tidak akan mendapatkan cukup ruang untuk mengembang cukup besar. Jika paru-paru Anda terhimpit, seluruh tubuh Anda akan menerima kadar oksigen yang lebih sedikit, apalagi karena sirkulasi juga akan terganggu kalau Anda tidak cukup bergerak.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Aerobics Research Center di Amerika Serikat menunjukkan bahwa aktivitas fisik mampu mengurangi risiko stroke pada pria hingga sebesar enam puluh persen.

Penelitian lain yang diterbitkan dalam Nurses’ Health Study membuktikan bahwa wanita yang cukup bergerak atau beraktivitas fisik memiliki peluang terhindar dari stroke dan serangan jantung sebesar lima puluh persen

Maka, Anda yang terlalu sering duduk bekerja atau bermalas-malasan di depan layar komputer memiliki risiko cukup besar mengalami stroke.

Anda yang menjalani gaya hidup sedentari atau malas gerak cenderung lebih mudah mengalami berbagai gangguan fungsi kognitif dalam jangka panjang. Kurangnya aktivitas fisik menyebabkan fungsi otak menurun.

Aktivitas fisik mampu merangsang aliran darah yang penuh oksigen menuju otak serta memperbaiki sel dan jaringan otak yang mulai rusak.

Bergerak dan berolahraga juga akan menumbuhkan berbagai sel saraf baru dalam otak. Hal ini membuat otak semakin tajam dan daya ingat semakin kuat.

Kalau Anda menghabiskan kira-kira 70% dari waktu Anda seharian dengan duduk dan tiduran, Anda berisiko mengalami resistensi insulin.

Kondisi ini menyebabkan meningkatnya kadar gula dalam darah sehingga peluang Anda terserang diabetes pun meningkat.

Apalagi biasanya sambil duduk atau tiduran, orang-orang cenderung mencari camilan yang kurang sehat. Camilan tersebut bisa jadi mengandung gula yang sangat tinggi, misalnya es krim, permen, cokelat, atau minuman kemasan yang manis.

Tubuh manusia sudah dirancang sedemikian rupa untuk terus bergerak secara aktif untuk bisa bertahan diri. Otot dan tulang Anda harus dilatih setiap hari agar tetap sehat dan kuat.

Kebiasaan malas gerak akan membuat Anda kehilangan massa otot. Kepadatan tulang juga akan berkurang drastis. Jika dibiarkan, kondisi tersebut akan mengarah pada osteoporosis.

Akibatnya, menjalani aktivitas sehari-hari pun jadi lebih sulit karena Anda semakin lemas dan cepat lelah.

Komentar