Awas! Stress Bisa Bikin Anda Stroke

Penulis: Darmansyah

Jumat, 13 Januari 2017 | 09:55 WIB

Dibaca: 1 kali

Tingginya tingkat stress yang dialami seseorang, seperti diungkapkan sebuah studi  yang dilakukan Rumah Sakit Umum Massachusetts, Amerika Serikat, akan berkaitan langsung dengan penyakit jantung atau stroke.

Kaitan tersebut berpusat di area otak bernama amygdala, yang memang bertanggung jawab menanggulangi stres.

Amygdala adalah kelompok saraf berbentuk almond yang bertanggung jawab mengatur emosi, rasa takut, kecemasan, kesenangan dan stres.

“Saat amygdala aktif menangani stres, itu akan memicu aktivitas ekstra pada sumsum tulang belakang dan menyebabkan peradangan di arteri. Itu bisa jadi meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit jantung dan stroke,” ujar kepala peneliti, Ahmed Tawakol dari Rumah Sakit Umum Massachusetts.

Tawakol menyebut bahwa amygdala mengirimkan sinyal pada sumsum tulang belakang untuk memproduksi lebih banyak sel darah putih.

Hal itu secara otomatis menyebabkan arteri menyempit sehingga terjadi peradangan yang mengarah pada gangguan kardiovaskular.

“Dari penelitian itu, bisa ditarik kesimpulan bahwa mengurangi stres bisa memberikan manfaat yang lebih besar bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah,” tutur Tawakol.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal medis The Lancet itu membandingkan hasil PET dan pindai otak  atau CT scan, sumsum tulang belakang, limpa, serta kondisi arteri, pada 293 pasien.

Para responden disurvei selama empat tahun, dimana dua puluhan  pasien diantaranya, menderita gangguan kardiovaskular, termasuk serangan jantung, gagal jantung, stroke, dan penyempitan pembuluh darah.

Sementara itu, sebanyak tiga belas partisipan yang memiliki stres pasca trauma, diketahui punya gangguan kardiovaskular lebih tinggi pula. Selain memiliki tekanan darah yang tinggi.

“Intinya, mereka yang punya aktivitas amygdala yang tinggi, punya risiko menderita gangguan pembuluh darah yang lebih tinggi juga,” tegas Tawakol.

Di sisi lain, peneliti dari Leiden University, Ilze Bot mengatakan stres merupakan faktor risiko utama penyebab penyakit kardiovaskular.

Sebelumnya, sebuah studi pada tiga tahun silam menyebutkan bahwa stres kronis akan meningkatkan produksi sel darah putih, yang bisa menghambat dinding arteri, menghalangi aliran darah sehingga memicu penggumpalan dan meningkatkan tekanan darah serta risiko serangan jantung juga stroke.

Dampak buruk stres pada otak yang sebenarnya belum dapat teruraikan dengan sepenuhnya, dari hal yang banyak kita tahu seperti sekarang ini, bahwa dampak stres dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang pada tubuh, pikiran, dan suasan hati.

Stres telah menjadi bagian yang tidak terlepaskakn dari kehidupan kita, begitu seringnya sehingga kita hampir tidak pernah menyadari bahwa kita mungkin sedang mengalami stres.

Hal ini dapat muncul mulai dari sakit kepala, rasa lekas marah, dan dapat berkembang menjadi demam, atau mungkin menyebabkan serangan jantung bahkan stroke.

Bagaimana stres dapat menyebabkan kerusakan pada tubuh kita, meskipun kita mencoba untuk mengabaikannya?

Kondisi ini memiliki banyak keterkaitannya dengan otak manusia dan bagaimana stres dapat mempengaruhinya.

Nah, sementara itu, untuk lebih jauh lagi mengetahui apa saja dampak buruk yang dapat mempengaruhi otak akibat stres yang terjadi

Pertaman stres melemahkan daya ingat

Kenaikan tingkat glukokortikoid akibat stres yang berkepanjangan akan berepngaruh pada melemahnya daya ingat seseorang.

Hal ini terjadi disebabkan karena ujung saraf yang lebih tua merasakan kesulitan utnuk berhubungan dnegan sel-sel otak yang baru.

Selain itu, stres yang sering terjadi akan semakin mempersulit otak dalam mengirimkan informasi atau feedbacknya, sehingga menyebabkan kehilangan ingatan dalam jangka pendek.

Yang pada akhirnya, hal ini akan dapat menyebabkan timbulnya alzheimer dan dimensia pada manusia.

Selain itu, stres menyebabkan penyusunan otak

Kondisi stres yang terjadi akan dapat menyebabkan komposisi otak yang terenggut, sehingga membuat daerah hippocampus orak menyusut beberapa tempo.

seperti ini lebih sering terlihat pada korban tauma atau kekerasan.

Penyusutan otak dapat menyebabkan seseorang kesulitan untuk mengingat sesuatu dan sulit berkonsentrasi.

Bila ini pula yang mengganggu keterampulan motorik dan membuat seseorang kesulitan utnuk merancanakan sesuatu.

Dan stres lebih mungkin membuat saraf terjepit

Tugas dari kantor atau sekolah yang begitu banyak atau terlalu berat memikirkan sesuatu akan mungkin membaut seseorang mudah mengalami stres.

Namun tahukah anda stres dapat mengurangi sirkulasi darah di otak secara drastis, sehingga dapat meningkatkan resiko menderita stroke.

Saraf pada pembuluh darah akan mulai mengalami penyusutan atau terjepit secara bersamaan.

Jika hal ini terjadi, maka akan dapat menghalangi pasokan darah, nutrisi serta oksigen ke otak serta menghambat kemampuan otak untuk menyembuhkan dirinya sendiri dengan lebih cepat.

Komentar