Awas, Pemakaian Antibiotik Meningkat

Penulis: Darmansyah

Senin, 19 November 2018 | 08:43 WIB

Dibaca: 0 kali

Antibiotik?

Ya, antibiotik memang akrab dite;linga setiap orang yang harus berhubungan dengan obat

Lantas?

Untuk Anda tahu konsumsi antibiotik global  sepanjang tahun dua ribuan ini meningkat tajam dan  mendorong banyak pihak meminta agar ada kebijakan baru dalam penggunaan obat ini.

Desakan ini dikeluarkan karena kekhawatiran akan ancaman global dari virus mematikan yang tidak lagi bisa diatasi dengan antibiotik.

Sebuah studi mengungkapkan konsumsi antibiotik dunia naik enam puluh lima persen sepanjang dua tahun lalu

Studi ini juga menemukan bahwa kenaikan itu didorong oleh penggunaan antibiotik di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Tim peneliti yang dipimpin oleh ilmuwan Universitas John Hopkins dan Center for Disease Dynamics, Economics and Policy menyebutkan bahwa negara-negara di dunia harus mulai berinvestasi pada pengobatan alternatif, sanitasi dan vaksinasi.

“Peningkatan konsumsi antibiotik di seluruh dunia, tantangan dari resistensi terhadap antibiotik akan semakin memburuk,” tulis para peneliti

“Resistensi antibiotik akibat konsumsi antibiotik merupakan ancaman kesehatan global yang terus meningkat,” bunyi hasil penelitian itu.

“Seperti perubahan iklim, kemungkinan akan ada titik balik yang belum diketahui, dan hal ini mungkin akan menjadi masalah besar di masa depan jika tidak ada antibiotik yang efektif.”

Eili Klein, peneliti dari Center for Disease Dynamics, Economics and Policy yang ikut dalam penelitian itu, mengatakan bahwa peningkatan konsumsi itu memperlihatkan “peningkatan akses akan obat-obatan yang diperlukan di negara-negara tempat banyak penyakit yang hanya bisa diatasi dengan antibiotik.”

Tetapi, kata Klein: “Ketika semakin banyak negara bisa mendapatkan obat ini, tingkat penggunaan semakin tinggi dan akan membuat tingkat resistensi semakin tinggi pula.”

Satu kelompok pakar yang dibentuk di Inggris pada empat tahun silam memperkirakan bahwa pada  dua tahun lalu terdapat setidaknya  tujuh ratus ribu kematian akibat penyakit karena resistensi obat.

Selama enam belas tahun yang diteliti, peningkatan konsumsi antibiotik tidak begitu tinggi di tiga negara yang memiliki tingkat penggunaan tertinggi: Amerika Serikat, Perancis dan Italia.

Tetapi di tempat lain situasinya berbeda.

Untuk kawasan Asia, konsumsi antibiotik India berlipat ganda, China naik tujuh puluh sembilan persen, sementara Pakistan naik enam puluh lima persen.

Tiga negara ini adalah pengguna antibiotik terbanyak di kelompok negara yang dalam studi ini masuk kategori dengan pendapatan rendah dan menengah.

Studi ini juga menemukan negara-negara yang bermasalah di sejumlah bidang, mulai dari sanitasi buruk, akses mendapatkan vaksin yang tidak teratur dan kurang air bersih. Kondisi ini seluruhnya bisa membuat penyakit menular dan penyakit yang memiliki resistensi tinggi pada obat menyebar.

“Pemikiran ulang radikal pada kebijakan untuk mengurangi penggunaan [antibiotik] sangat diperlukan, antara lain investasi besar-besaran untuk meningkatkan kebersihan, sanitasi, vaksinasi, dan akses mendapatkan alat pemeriksaan untuk mencegah penggunaan antibiotik yang tidak perlu,” tulis studi ini.

Bagi Klein, mengurangi penggunaan berlebihan antibiotik harus menjadi “langkah pertama dan prioritas semua negara”

Untuk diketahui, sembilan dekade silam, Alexander Fleming bisa dibilang berjasa atas penemuan penisilin–salah satu antibiotik

Temuan itu memberikan manfaat besar bagi kehidupan manusia. Namun, di saat yang sama, dia juga mengingatkan bahwa orang kudu berhati-hati dalam menggunakan antibiotik. Salah menggunakan, resistensi antibiotik yang dihadapi.

Obat-obatan seperti amoxicillin, cefradoxil, erythromicyn, dan tetrasiklin tentu sudah familiar di telinga masyarakat.

Deret obat-obatan itu tak bisa disamakan dengan jenis obat lain, sebab mereka termasuk dalam golongan antibiotik yang bertugas untuk membasmi bakteri yang menyerang tubuh.

Apa yang dikhawatirkan Fleming terjadi di zaman kiwari. Bakteri bukan sekadar mahkluk kecil yang mudah diatasi begitu saja. Semakin ke sini, bakteri kian kuat dan antibiotik yang masuk ke dalam tubuh pun tak mampu membasminya.

Ahli mikrobiologi, dr Anis Kurniawan, menjelaskan bahwa bakteri mampu bertahan dalam beragam kondisi. Namun, pemakaian antibiotik sembarangan, membuat bakteri semakin ‘pintar’ dan kebal terhadap usaha antibiotik untuk membasminya.

Organisasi Kesehatan Dunia ) menyebut bahwa resistensi antibiotik bertanggung jawab atas  tujuh ratus ribu kematian di seluruh dunia.

Para ahli memprediksi, resistensi antibiotik akan mengakibatkan sekitar sepuluh  juta kematian secara global p

Di tahap awal, resistensi antibiotik tak begitu dirasakan oleh penderitanya. Biasanya, mereka akan datang ke rumah sakit dalam kondisi parah. Infeksi sudah terlampau berat dan bakteri sulit dibasmi.

Oleh karena itu,  perlu  digalakkan  kesadaran masyarakat akan resistensi antibiotik. Apalagi, menurut WHO, wilayah Asia termasuk wilayah dengan kasus resistensi antibiotik yang tinggi.

Anis mengamati ada beberapa hal yang memicu tingginya kasus resistensi antibiotik. Beberapa faktor itu di antaranya penjualan bebas, penggunaan sembarangan, serta penggunaan antibiotik untuk pakan ternak.

Di luar itu, lanjut Anis, ada pula yang menekan dokter untuk memberinya antibiotik meski hanya menderita flu.

Komentar