Awas!! Obat Hipertensi Bisa Bikin Impotensi

Penulis: Darmansyah

Minggu, 4 Januari 2015 | 11:58 WIB

Dibaca: 4 kali

Anda penderita penyakit darah tinggi? Hipertensi. Kalau iya, mulailah hati-hati dengan obat penurun tensi. Sebab, menurut penelitian terbaru, sebagian besar obat penurun tensi berdampak pada disfungsi ereksi atau impotensi, terutama pada pria.
Kalau begitu bagaimana mengatasinya?

Menurut Harrison’s Principles of Internal Medicine dari Anthony Fauci, beberapa kelas obat tekanan darah telah dikaitkan dengan disfungsi ereksi.

Sementara kandungannya bekerja mengobati gangguan kesehatan, obat-obatan tersebut juga dapat memengaruhi hormon, saraf, atau sirkulasi darah manusia, sehingga menyebabkan atau meningkatkan risiko disfungsi ereksi.

Obat jenis diuretik atau pemicu buang air kecil seperti hydrochlorothiazide dan beta-blocker seperti Atenolol dapat menyebabkan disfungsi ereksi, seperti dilansir dari laman Web MD.

Obat-obatan jenis ini merupakan obat pertama yang biasanya diresepkan dokter jika Anda tidak mampu menurunkan tekanan darah tinggi melalui diet sehat dan olahraga.

Dokter biasanya akan memberitahu efek samping obat yang diresepkan. Dan jika obat yang sedang Anda konsumsi berefek pada kinerja seksual, diskusikan masalah ini dengan dokter.

Jangan berhenti minum obat tanpa terlebih dahulu berkonsultasi, karena beberapa obat dapat menyebabkan reaksi berbahaya yang mengancam nyawa bila tiba-tiba dihentikan.

Secara rinci, berikut beberapa nama obat generik untuk tekanan darah tinggi yang berdampak pada kemampuan ereksi pria.

Ada sejumlah obat resep dan obat bebas yang dapat menyebabkan disfungsi ereksi. Sementara kandungannya bekerja mengobati penyakit atau gangguan kesehatan, obat-obatan tersebut juga dapat memengaruhi hormon, saraf, atau sirkulasi darah manusia, sehingga menyebabkan atau meningkatkan risiko disfungsi ereksi.

Menurut Harrison’s Principles of Internal Medicine dari Anthony Fauci, beberapa kelas obat tekanan darah telah dikaitkan dengan disfungsi ereksi. Thiazide diuretics adalah salah satu yang paling umum. Contoh lainnya hydrochlolorthiazide dan chlorthalidone.

ACE inhibitor seperti enalapril dan captopril juga dapat menyebabkan impotensi. Diltiazem dan amlodipine adalah contoh dari kelas obat tekanan darah yang dikenal sebagai calcium channel blockers, yang juga dapat menyebabkan impotensi karena memiliki beta blocker.

Sebagaimana dicatat oleh American Academy of Family Physicians, antidepresan berhubungan dengan disfungsi ereksi. Yang paling umum adalah antidepresan SSRI (Selective serotonin reuptake inhibitor) dan tricyclic.

Contoh SSRI termasuk fluoxetine, paroxetine dan escitalopram. Tricyclic termasuk nortriptyline dan amitriptyline. SRRI lebih mungkin menyebabkan anorgasmia (tidak mampu orgasme) ketimbang impotensi.

Beberapa obat antihistamin seperti dimehydrinate, diphenhydramine, hydroxyzine, meclizine, dan promethazine juga bisa meningkatkan risiko disfungsi ereksi.

Obat non-steroid antiinflamasi seperti naproxen dan indomethacin juga berperan dalam disfungsi ereksi.

Obat-obatan untuk penyakit Parkinson bekerja dengan memengaruhi sistem saraf. Efeknya juga bisa memicu disfungsi ereksi. Contohnya biperiden, benztropine, trihexyphenidyl, procyclidine, bromocriptine, dan levodopa.

Obat antipsikotik digunakan untuk mengobati skizofrenia dan beberapa gangguan psikotik lainnya. Beberapa obat ini dapat mengganggu fungsi seksual, seperti dicatat oleh The American Society of Family Physicians. Obat ini mengganggu beberapa fase dari respons seksual.

Menurut artikel yang diterbitkan pada tahun 2001 dalam jurnal medis Endocrine Reviews, beberapa obat digunakan untuk menurunkan kadar hormon pria atau memblokir kegiatannya.

Salah satu pengobatan kanker prostat melibatkan pemberian obat yang disebut leuprolid untuk menurunkan testosteron. Hasilnya adalah untuk menghambat pertumbuhan tumor dan mengurangi nyeri tulang pada pasien. Namun, hormon pria yang diturunkan juga dapat mengganggu fungsi seksualnya.

Menurut Harrison’s Principles of Internal Medicine, H2 blocker adalah obat yang dipakai untuk mengobati asam lambung berlebih di perut atau gastroesophageal reflux (GERD) atau rasa panas di dada. Cimetidine, nizatidine, dan ranitidine adalah yang paling mungkin menyebabkan efek samping ini.

Obat penenang otot: cyclobenzaprine dan orphenadrine; obat antiaritmia: disopyramide; obat kanker prostat: flutamide dan leuprolide; serta beberapa obat kemoterapi juga berpengaruh pada kinerja pria di ranjang.

Komentar