Awas, Minuman Manis Itu Bikin Gendut

Penulis: Darmansyah

Rabu, 13 Januari 2016 | 10:00 WIB

Dibaca: 0 kali

Mengonsumsi minuman manis ?

Setiap hari?

Jus dalam kemasan, kopi bercampur krim, atau soft drink?

Awas, asupan itu sedang mengintai Anda untuk memilikiperut gendut.

Lantas kenapa minuman manis dikaitkan dengan perut gendut atau buncit?

Sebuah studi di Amerika Serikat, Framingham Heart Study, menjelaskan minuman manis bisa menyebabkan lemak visceral menumpuk di rongga perut dan menyelimuti organ-organ dalam lainnya.

Sebut sajai liver dan pancreas. Dan lemak itu sangat berbahaya karena dapat memengaruhi fungsi hormon, seperti insulin.

Terganggunya kerja insulin dan terjadinya resistensi insulin merupakan salah satu penyebab diabetes melitus dan meningkatkan risiko penyakit jantung.

Minuman mengandung gula seperti soda atau jus kemasan ditambahkan sukrosa atau sirup jagung tinggi fruktosa meningkatan lemak visceral.

Asosiasi jantung Amerika merekomendasikan untuk membatasi asupan gula tambahan tak lebih dari seratus kalori setiap hari untuk wanita, dan seratus lima puluh kalori untuk pria.

Mengonsumsi minuman manis setiap hari, misalnya jus dalam kemasan, kopi bercampur krim, atau soft drink merupakan salah satu penyebab perut gendut.

Lemak visceral yang menumpuk di rongga perut dan menyelimuti organ-organ dalam seperti liver dan pankreas merupakan lemak yang sangat berbahaya karena dapat memengaruhi fungsi hormon, seperti insulin.

Terganggunya kerja insulin dan terjadinya resistensi insulin merupakan salah satu penyebab diabetes melitus dan meningkatkan risiko penyakit jantung.

Kegemukan dan perut buncit menjadi sebuah fenomena yang tak pernah redup diperbincangkan.

Tetapi, sebenarnya apa sih perbedaan gemuk dan buncit?

Secara umum, istilah gemuk dipakai untuk kelebihan berat badan. Berdasarkan Indeks Massa Tubuh, gemuk dapat dikategorikan overweight dan obesitas.

“Dalam pandangan awam kelihatan sama-sama gemuk, tapi mungkin agak gemuk dan gemuk sekali.”

“Ditinjau dari komposisi tubuh, kegemukan merupakan kondisi dimana massa lemak terdapat dalam jumlah berlebihan,” jelas seorang ahli.

Sementara yang dimaksud buncit adalah kegemukan di perut. Lemak di daerah ini menggambarkan jumlah massa lemak viseral.

Massa lemak viseral inilah yang berhubungan erat dengan risiko penyakit metabolik, seperti penyakit jantung dan pembuluh darah. Nah, sudah jelas kan, perbedaan gemuk dan buncit?

Masalahnya kemudian, kenapa kegemukan dan perut buncit bisa terjadi?
“Utamanya akibat ketidakseimbangan antara asupan dan keluaran kalori. Dalam hal ini, kalori yang masuk lebih besar dari kalori yang digunakan sehingga disimpan sebagai lemak dalam tubuh.”

Tentu kita perlu mewaspadai risikonya.

Kegemukan meningkatkan berbagai risiko penyakit, di antaranya jantung, stroke, diabetes, persendian, dan masih banyak lagi.

Hal ini karena lemak yang berlebihan dalam tubuh mengeluarkan zat-zat “peradangan” sehingga orang gemuk sesungguhnya berada dalam kondisi “radang kronik”.

Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, perlu upaya agar berat badan normal bisa tercapai bagi yang gemuk serta buncit ini.

“Solusinya adalah dengan menjaga keseimbangan asupan makan dan aktivitas fisik. Selalu menerapkan pola makan yang seimbang dan sehat serta olahraga seumur hidup.”

“Tujuan jangka panjangnya untuk meraih hidup sehat. Jadi tidak hanya menyasar tujuan jangka pendek, yaitu sebatas untuk menurunkan berat badan,” paparnya.

Bagi yang overweight, secara umum penurunan berat badan yang optimal adalah setengah sampai satu kilogram per minggu.

Hal ini untuk menghindari rebound.

Penurunan berat badan bisa saja dianjurkan lebih dari itu atau kurang dari itu bila ada indikasi medis tertentu.

Karena itu, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter ahli.

Komentar