Awas!! Media Sosial Bisa Bikin Depresi

Penulis: Darmansyah

Kamis, 30 Juni 2016 | 08:55 WIB

Dibaca: 0 kali

Laman situs “boldsky,” hari nini, Kamis, 30 Juni 2016, menuding pemakaian media sosial berlebihan akan berdampak nyata pada penurunan kualitas kerja dan sekaligus mendatangkankan kebosanan, kelelahan dan konsentrasi.

“Dengan menurunnya  konsentrasi dipastikan akan berakibat gangguan  aktivitas sehari-hari. Kalau itu terjadi terus menerus  bisa membuat Anda gagal untuk fokus mengerjakan tugas dan tidak dapat menyelesaikannya dengan baik,” tulis laman situs terkenal itu.

“Boldsky” memberi contoh  pada seorang pelajar, yang menurutnya penurunan  konsentrasi bisa mengganggu nilai akademik maupun prestasi pendidikan.

Begitu pula dengan pekerja yang akan mengalami penurunan kualitas kerja, termasuk produktivitas.

Kehilangan atau kekurangan konsentrasi yang media sosial bisa terjadi tanpa disadari.

Menggunakan media sosial secara berlebihan dapat dipastikan membuat Anda sulit berkonsentrasi.

Saat ini hampir semua pelajar dan pekerja menggunakan smartphone.

Setidaknya, ada lebih dari dua media sosial yang digunakan.

Informasi menarik yang muncul di media sosial setiap detiknya bisa membunuh konsentrasi seseorang.

Semakin Anda aktif, semakin sering pula interaksi di media sosial yang membuat Anda sulit berhenti.

Tentu tidak hanya media sosial, faktor  rasa lapar juga bisa menjadi alasan utama menurunnya konsentrasi.

Ketika kurang makan dan merasa lapar, konsentrasi akan beralih ke urusan perut.

Banyak orang yang tidak bisa fokus mengerjakan tugas ketika merasa lapar.

Jangan lupa asupan nutrusi sehat, termasuk cukup minum untuk menjaga tingkat konsentrasi dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Selain itu depresi, stres, cemas juga  sangat bisa menghilangkan konsentrasi.

Pikiran Anda akan disibukkan dengan permasalahan yang ada.

Ketika depresi, seseorang akan merasakan kesedihan mendalam dan umumnya kehilangan motivasi atau menarik diri yang pada akhirnya menghilangkan konsentrasi untuk melakukan sesuatu.

Meski membantu kita untuk mudah terhubung dengan orang lain tanpa dibatasi waktu dan tempat, Anda harus menghindarkan pemakaian media sosial secara berlebihan

Menggunakan media sosial dapat membangkitkan banyak emosi dalam diri kita, terutama emosi negative

Media sosial membuat Anda terus-menerus dibombardir dengan update tentang berbagai hal menarik, yang terjadi dalam kehidupan teman-teman Anda, dibandingkan dengan kehidupan Anda yang jadi tampak membosankan.

Jadi, ketika kita melihat seorang teman yang bepergian keliling dunia atau bersenang-senang dengan pacarnya, Anda justru merenungkan hal itu dan merasa tak beruntung karena tak mengalaminya.

Media sosial, pada saat yang sama, juga membuat kita merasa senang jika mendapatkan komentar yang baik pada update Anda sendiri atau ketika seseorang mendoakan Anda di hari ulang tahun, atau untuk beberapa prestasi yang Anda buat.

Depresi pada media sosial timbul karena kita membandingkan hidup kita dengan orang-orang yang kita lihat lewat potongan-potongan update-nya di dunia maya.

Situs media sosial bisa sangat menyesatkan karena kita hanya melihat apa yang orang pilih untuk dibagi ke timeline.

Karena memang, Anda akan memilih untuk berbagi hanya aspek yang paling menarik dan yang baik dari hidup Anda di social media dan meninggalkan yang tidak begitu baik.

Hal yang sama berlaku untuk orang lain. Mereka semua punya aspek kehidupan yang buruk, yang tidak mau mereka bagi.

Sebaiknya, Anda sadari hal itu dan berhenti membandingkan diri Anda dengan kehidupan orang lain, karena kita semua sama-sama punya aspek baik dan buruk dalam kehidupan.

Media sosial memang belum tepat diterima sebagai istilah terkait gangguan mental, juga belum masuk dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, buku resmi yang mencatat nama-nama semua gangguan mental yang dikenal.

Namun, depresi akibat media sosial sudah memberi dampak sangat nyata yang mempengaruhi remaja dan bahkan orang dewasa saat ini.

Untuk menghindari depresi yang disebabkan oleh media sosial, para ahli menyarankan untuk berhenti membandingkan hidup Anda dengan orang lain.

Komentar