close
Nuga Sehat

Awas! Ini Bahaya Anda Merokok di Pagi Hari

800×600

Merokok di pagi hari?

Wuah, bahayanya besar sekali.

Ya, banyak orang yang sengaja merokok di pagi hari, tepatnya sebelum memulai berbagai aktivitas hariannya.

Dengan melakukannya, mereka akan merasakan sensasi lebih segar, suasana hati yang lebih baik, dan mampu berkonsentrasi dengan lebih maksimal.

Masalahnya adalah sudah menjadi rahasia umum jika merokok sangat tidak baik bagi kesehatan tubuh.

Menurut pakar kesehatan, pagi hari termasuk dalam waktu yang paling buruk untuk merokok selain setelah makan.

Memang, hal ini bukan berarti waktu-waktu lainnya dianggap lebih aman untuk merokok. Hanya saja, dampak dari merokok di waktu ini bisa sangat fatal.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli dari Pennsylvania State University, dihasilkan fakta bahwa merokok di pagi hari bisa menyebabkan datangnya berbagai macam kanker.

“Penelitian ini menemukan fakta tentang dampak dari merokok setelah bangun tidur atau di pagi hari. Di dalam tubuh pelakunya cenderung memiliki kandungan NNAL atau karsinogen spesifik yang sangat tinggi.

Jumlahnya bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di dalam tubuh para perokok yang memilih untuk menunda kebiasaannya ini di waktu yang lebih siang,” ucap Steven Branstetter yang terlibat dalam penelitian ini.

Masalahnya adalah semakin tinggi kadar NNAL di dalam tubuh, semakin tinggi pula risiko kanker yang akan muncul.

Dalam penelitian ini, dua ribu orang dewasa yang memiliki kebiasaan merokok dilibatkan. Mereka kemudian diminta untuk menjawab pertanyaan tentang kebiasaan merokok mereka, khususnya kapan mereka akan mulai melakukannya.

Para partisipan juga memberikan sampel urine untuk mengetahui jumlah NNAL di dalam tubuhnya.

Hasil dari penelitian ini adalah, sekitar tiga puluh dua persen perokok langsung menyalakan rokoknya hanya dalam waktu lima menit setelah bangun tidur, tiga puluyh satu persen menyalakannya sekitar enam hingga tiga puluh  menit setelah bangun tidur, dan delapan belas persen sisanya menyalakannya sekitar tiga puluh satu hingga enam puluh satu menit setelah bangun tidur.

Mereka yang langsung menyalakan rokoknya cenderung memiliki kadar NNAL jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yang memilih untuk menundanya hingga beberapa saat.

Penelitian ini tidak menyarankan para perokok untuk mengisapnya di waktu yang lebih siang karena kebiasaan ini tetap saja bisa memicu datangnya penyakit yang mematikan meski frekuensi merokok sudah dikurangi.

Tak hanya bisa memicu masalah kesehatan seperti kanker atau penyakit jantung, sebuah penelitian berhasil membuktikan bahwa merokok ternyata juga bisa menyebabkan pikun atau gangguan pada memori. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Dilansir dari The Sun, para peneliti menyebutkan bahwa kandungan beracun dari rokok bisa masuk ke dalam bagian otak yang mempengaruhi bagian berwarna abu-abu pada bagian hippocampus otak yang terkait dengan emosi, daya ingat dan sistem saraf.

Bahkan, kandungan beracun rokok ini bisa memicu gangguan daya ingat di masa sekarang dan merusak memori masa lalu.

Dalam penelitian yang dilakukan dengan melibatkan dua ribu orang tua di Belanda ini, disebutkan bahwa mereka yang hobi merokok cenderung mengalami pembentukan kalsium pada bagian hippocampus otaknya.

Hal ini bisa menghambat daya ingat dan sistem saraf dengan signifikan sehingga meningkatkan risiko terkena penyakit layaknya alzheimer dan demensia.

Pemimpin penelitian, Dr. Esther de Brouwer dari University Medical Centre in Holland menyebutkan bahwa semakin tua usia seseorang, semakin banyak pembentukan kalsium di bagian hippocampus otak sehingga mempengaruhi daya memori. Hanya saja, bagi para perokok, proses pembentukan kalsium ini bisa menjadi lebih cepat. Hal yang sama juga terjadi pada penderita diabetes.

Dalam penelitian yang kemudian hasilnya dipublikasikan dalam jurnal berjudul Radiology ini, disebutkan bahwa merokok dan menderita diabetes juga memiliki peran besar dalam meningkatkan risiko terkena penyakit kardiovaskular seperti stroke atau serangan jantung.

Mengingat penyakit-penyakit ini sangat mematikan, pakar kesehatan pun menyarankan kita untuk sebisa mungkin menghindari rokok demi kesehatan tubuh.

Selain itu merokok juga bias memicu diabetes

Penelitian yang dilakukan oleh para ahli dari University of Oxford, Chinese Academy of Medical Sciences, dan Peking University, berhasil menemukan fakta tentang kebiasaan merokok yang ternyata juga ikut andil dalam menyebabkan diabetes.

Fakta ini terungkap setelah para ahli ini mengumpulkan data dari lima ratis ribuan partisipan berusia tiga puluh hingga tujuh puluh sembilan tahun yang tinggal di lima kota besar dan lima daerah pedesaan di Tiongkok.

Dilansir dari News Max Health, seluruh partisipan tidak memiliki sejarah diabetes di awal penelitian.

Namun, setelah diikuti kebiasaan sehari-hari dan kondisi kesehatannya selama sembilan tahun, dihasilkan fakta bahwa mereka yang terbiasa merokok cenderung memiliki risiko untuk terkena diabetes lima belas hingga tiga puluh persen lebih tinggi jika dibandingkan dengan mereka yang tidak menghisapnya.

Mereka yang rutin merokok setiap hari atau memulainya sejak usia dini juga cenderung memiliki risiko yang jauh lebih besar untuk terkena diabetes.

Pria dengan Indeks Massa Tubuh ) seimbang yang merupakan perokok berat (mengonsumsi lebih dari tiga puluh batang rokok setiap hari) memiliki risiko tiga puluh persen lebih besar daripada pria yang tidak merokok. Namun, pria dengan dengan kadar BMI berlebihan memiliki risiko untuk terkena penyakit mematikan ini hingga 60 persen lebih tinggi.

Sementara itu, meskipun jumlah perokok wanita cenderung rendah, kaum hawa yang terbiasa menghisap rokok ternyata memiliki risiko terkena diabetes jauh lebih tinggi, yakni sekitar 68 persen. Hal ini disebabkan berbedanya distribusi lemak tubuh pada wanita dan pria.

Profesor Liming Li yang merupakan penulis dari penelitian ini menyebutkan bahwa merokok memang bisa memberikan dampak yang sangat buruk bagi kesehatan tubuh.

Hal ini bisa dijadikan dasar strategi bagi pemerintah dan praktisi kesehatan di seluruh dunia demi semakin menekan jumlah perokok agar bisa menurunkan jumlah penderita penyakit berbahaya, termasuk diabetes.