Awas, Ditemukan Pestisida di Dalam Madu

Penulis: Darmansyah

Kamis, 12 Oktober 2017 | 14:09 WIB

Dibaca: 0 kali

Laman situs “extra crispy,” secara mengejutkan menurunkan tulisan yang mengungkapkan adanya pestisida dalam madu lebah.

Dampak dari adanya pestisida dalam madu ini adalah ancaman kepunhan bakal dialami oleh lebah.

“Populasi lebah madu tengah terancam kepunahannya,” tulis “xtracrispy,” hari ini, Kamis, 12 Oktober.

Seperti juga ditulis jurnal Science baru-baru ini, sekitar tiga perempat dari seluruh madu di seluruh dunia diketahui terkontaminasi pestisida yang membahayakan lebah.

Para ilmuwan menganalisis seratus sembilan puluh delapan sampel madu dari seluruh dunia, kecuali benua Antartika, mengenai lima jenis pestisida yang disebut neonicotinoid atau neonik.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa tujuh puluh lima persen dari seluruh sampel setidaknya mengandung satu jenis neonicotinoid.

Kontaminasi tertinggi ditemukan di Amerika Utara, Asia, dan Eropa.

Informasi mengenai kontaminasi madu tersebut terdengar menakutkan, tetapi perlu diketahui bahwa neonicotinoid yang ditemukan di madu saat ini masih dalam kadar wajar.

Saat ini, manusia masih dapat mengonsumsi madu dengan aman. Namun, belum ada penelitian yang mengetahui tentang efek jangka panjangnya.

“Kami harus makan banyak madu dan produk terkontaminasi lainnya untuk mengetahui efeknya,” ujar pemimpin Laboratorium Biologi Tanah di Universitas Neuchatel Swiss, Alexandre Aebi

Pestisida jenis ini juga bersifat racun bagi lebah. Neonicotinoid dapat mengacaukan otak yang dimiliki penyerbuk sehingga kemampuan lebah untuk belajar dan mengingat menurun.

Lebah dapat melupakan perjalanan kembali ke sarangnya untuk memanen nektar dan serbuk sari.

Menurut Aebi, bahan kimia ini dapat membuat lebah lebih rentan terhadap parasit dan penyakit. Hal tersebut dapat menurunkan jumlah populasi lebah di dunia.

Dilansir dari The Verge, pada empat tahun silam, Uni Eropa melarang penggunaan tiga neonik pada taman yang dikunjungi oleh lebah.

Namun, karena pestisida ini tetap digunakan untuk melapisi benih tanaman, sebagian besar bahan kimia ini meleleh ke tanah dan mengontaminasi tanaman lain di dekatnya.

Ahli Neurobiologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Dundee, Christoper Conolly menghimbau pemerintah di seluruh dunia harus mencegah petani untuk menggunakan neonik secara luas.

Meski belum ditemukan efek jangka panjang yang negatif bagi manusia, mengurangi penggunaan pestisida ini berguna untuk melindungi ekosistem dunia.

Tanaman membutuhkan berbagai pernyebuk untuk bertahan hidup dan manusia juga membutuhkan madu sebagai sumber kesehatan.

Tingginya paparan pestisida diduga menjadi penyebab runtuhnya koloni lebah. Pestisida yang disemprotkan pada tanaman membuat lebah madu rentan terhadap parast.

Hal ini berkontribusi terhadap penurunan populasi lebah.

“Peneliti menemukan tiga puluh tiga jenis pestisida, beberapa di antaranya memiliki tingkat mematikan, pada serbuk sari yang dikumpulkan dari lebah,” tulis LA Times

Dua jenis dari tiga puluh lima pestisida tersebut bisa membunuh setengah dari populasi lebah dalam waktu dua hari jika digunakan dalam dosis tertentu.

Serbuk sari ini berasal dari tanaman pangan di lima negara bagian di Amerika, salah satunya California. Residu pestisida menempel pada serbuk sari. Tidak hanya dari tanaman pangan, ternyata beberapa serbuk sari yang dikumpulkan lebah berasal dari bunga liar.

Hasil penemuan yang dilaporkan dalam jurnal PLOS One ini menyoroti bagaimana penggunaan bahan kimia dalam bidang pertanian mampu membunuh lebah. Beberapa di antaranya dikaitkan dengan respons yang lemah dari sistem kekebalan tubuh lebah akibat residu pestisida.

Lebah merupakan serangga yang memiliki peranan penting dalam pasokan pangan dunia. Selain karena pestisida, populasi lebah menurun karena adanya perubahan iklim, perusakan habitat, dan eksploitasi lebah untuk dimanfaatkan patogennya.

Komentar