Awas, Dampak Kurang Tidur Bisa Pikun

Penulis: Darmansyah

Jumat, 8 September 2017 | 08:53 WIB

Dibaca: 0 kali

Kurang tidur bukan lagi fenomena baru yang dialami masyarakat modern.

Bahkan mungkin Anda sendiri juga habis begadang semalam, entah karena kerja lembur atau bersenang-senang.

Tapi awas. Akibat kurang tidur tidak hanya membuat Anda jadi lesu dan mengantuk sepanjang hari, fungsi otak juga ikut merosot tajam sehingga dapat memicu munculnya beragam masalah kesehatan mental.

Apa saja masalah kejiwaan yang mungkin terjadi akibat kurang tidur?

Para peneliti telah menemukan bahwa akibat kurang tidur dapat menyebabkan kewaspadaan dan konsentrasi otak menurun. Tak heran jika setelah berjam-jam (atau bahkan berhari-hari) tidak tidur nyenyak, Anda jadi suka bingung sendiri, gampang lupa, dan sulit berpikir jernih.

Dalam dunia medis, kondisi gangguan berpikir akibat otak yang kelelahan ini sering disebut sebagai brain fog. Tapi Anda mungkin lebih familiar dengan istilah lemot. Otak yang lemot membuat Anda kesulitan mengambil keputusan penting.

Meski terkesan sepele, brain fog ini tidak boleh disepelekan karena bisa jadi merupakan gejala awal dari penyakit demensia.

Ketika Anda mengantuk, Anda cenderung gampang lupa. Selain karena konsentrasi dan fokus otak yang memburuk, akibat kurang tidur, ingatan juga perlahan memburuk.

Pasalnya selama Anda tidur, saraf-saraf dalam otak yang menyimpan ingatan punya kesempatan memperbaiki diri.

Seorang ahli dari Fakultas Kedokteran Universitas Maryland di Amerika Serikat (AS), dr. Avelino Verceles, mengatakan, “Saat tidur, otak merekam berbagai hal yang telah kita pelajari dan alami seharian ke dalam ingatan jangka pendek”

Kurang tidur bisa memengaruhi kemampuan Anda untuk memahami informasi baru lewat dua cara.

Pertama, Anda akan menjadi tidak fokus sehingga sulit untuk menerima informasi baru. Dengan begitu, Anda tidak dapat belajar dengan efisien.

Kedua, seperti yang telah disebutkan di atas, kurang tidur berdampak pada kemampuan mengingat.

Daya ingat yang lemah akan mempersulit Anda untuk menyimpan informasi baru yang Anda pelajari ke dalam ingatan.

Kurang tidur memang bukan penyebab langsung dari gangguan kejiwaan.

Meskipun begitu, beragam penelitian menemukan adanya potensi besar kemunculan beberapa penyakit mental, seperti depresi, ADHD, gangguan kecemasan, dan gangguan bipolar sebagai akibat kurang tidur.

Sebuah penelitian di Michigan, AS, mengamati seribu orang

Hasilnya, mereka yang mengidap insomnia pada wawancara pertama memiliki risiko empat kali lebih besar menderita depresi ketika diwawancara lagi tiga tahun setelahnya.

Studi lain menemukan bahwa masalah gangguan tidur terjadi sebelum munculnya depresi. Selain itu, penderita depresi yang mengalami insomnia akan lebih sulit disembuhkan dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami insomnia.

Pada sebuah penelitian, para ahli menemukan bahwa insomnia dan gangguan tidur lainnya mungkin memperparah episode mania (manic) atau depresi  pada pasien dengan gangguan bipolar.

Kurang tidur itu sendiri dipercaya dapat memicu episode mania, yaitu fase ledakan emosi atau perilaku yang tak terkendali.

Selain itu Anda juga perlu tahu tentang sehatnya kecukupan tidur.

Tim ahli dari Harvard Medical School memberikan tips agar ingatan Anda tetap tajam serta tubuh selalu dalam kondisi bugar.

Tekanan sehari-hari dan stres “kecil” seperti adu argumen dengan kolega atau kemacetan, bisa mempengaruhi fokus dan kemampuan ingatan.

Bahkan bila masalah dibiarkan membesar maka yang terjadi adalah rasa cermas berlanjut dan bisa menyebabkan gangguan ingatan.

Siasati dengan mengelola stres Anda. Bersikap menerima hal-hal yang tidak bisa kita ubah adalah salah satunya. Melakukan Yoga, meditasi dan rileksasi cukup membantu.

Bila dibandingkan, orang yang tidurnya kurang berkualitas di malam hari cenderung lebih  pelupa dibandingkan dengan orang yang tidur nyenyak. Tidur yang berkualitas saat malam hari sangat baik untuk memperkuat ingatan.

Kebanyakan orang menggantungkan diri pada obat-obatan untuk mengatasi insomnia, padahal dalam jangka panjang obat ini juga bisa mengganggu ingatan dan fungsi otak secara umum.

Itulah mengapa sebaiknya kita mencoba memperbaiki kebiasaan tidur terlebih dahulu sebelum beralih ke pengobatan. Selain itu, gunakan obat-obatan dalam pengawasan dokter dan gunakan dosis terendah untuk waktu sesingkat mungkin agar tidur Anda kembali normal.

Berhenti merokok lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, tapi jika Anda memerlukan motivasi tambahan, ketahuilah bahwa perokok cenderung punya masalah ingatan yang berkaitan dengan usia dan masalah memori lainnya.

Orang yang merokok lebih dari dua bungkus rokok per hari pada usia paruh baya beresiko dua kali lipat terkena demensia di hari tua dibandingkan dengan bukan perokok.

Namun, mereka yang berhenti merokok pada usia pertengahan dan mereka yang merokok kurang dari setengah bungkus sehari memiliki resiko demensia yang sama dengan orang yang tidak pernah merokok.

Orang yang kecanduan alkohol mengalami kesulitan dalam ingatan jangka pendek, seperti menghafal daftar.

Jenis lain dari kehilangan ingatan yang terkait dengan penggunaan alkohol disebut sindrom Korsakoff.

Dalam kondisi ini, defisiensi vitamin B1 jangka panjang dikombinasikan dengan efek racun alkohol di otak bisa memicu amnesia yang mendadak dan dramatis.

Dalam beberapa kasus, kehilangan ingatan ini bersifat permanen, namun jika dideteksi lebih awal, bisa diperbaiki sampai tingkat tertentu.

Trauma kepala merupakan penyebab utama hilangnya ingatan dan meningkatkan risiko demensia.

Selalu gunakan perlengkapan yang sesuai selama aktivitas berkecepatan tinggi dan olahraga kontak fisik, termasuk bersepeda atau latihan tinju.

Komentar