Awas, Begadang Bisa Memperpendek Usia

Penulis: Darmansyah

Jumat, 13 April 2018 | 14:58 WIB

Dibaca: 0 kali

Apakah Anda teramsuk orang  orang yang menganggap begadang sebagai suatu hal yang wajar?

Bahkan sesuatu yang harus dijalani?

Kalau Anda menjawab iya,maka  perlu lebih hati-hati terhadap berbagai efek begadang pada kesehatan tubuh di kemudian hari.

Pasalnya, seperti ditulis laman kesehatan terkenal “hello sehat,” hari ini, Jumat,  tidur yang cukup adalah salah satu kunci kesehatan.

Tidur termasuk sebagai aktivitas yang punya segudang manfaat. Saat tidur, otak akan melepaskan hormon dan senyawa yang membantu proses metabolisme dalam tubuh.

Mulai dari mengembalikan nafsu makan, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan daya ingat, memperbaiki mood, meningkatkan kebugaran, hingga meningkatkan energi dan fokus untuk beraktivitas keesokan harinya.

Tidur cukup bahkan dapat membantu kita mengelola stres dan gejala gangguan kejiwaan, seperti gangguan kecemasan dan depresi.

Lama waktu tidur yang ideal bagi orang dewasa dan lansia adalah sekitar tujuh sampai delapan jam. Sementara itu, anak-anak dan remaja membutuhkan waktu tidur yang lebih lama

Efek begadang pada kesehatan tubuh sudah dibuktikan oleh banyak studi ilmiah.

Kebiasaan begadang dilaporkan dapat meningkatkan risiko sejumlah masalah kesehatan serius, mulai dari hipertensi, diabetes, penyakit jantung, obesitas, sleep apnea, hingga kematian dini.

Hal ini dibuktikan oleh periset asal Inggris dan Italia yang menganalisis kebiasaan tidur dari satu koma tiga juta juta orang, yang dikumpulkan dari enam belas studi terpisah.

Temuannya menunjukkan bahwa orang yang setiap malam tidur kurang dari enam jam cenderung berisiko mengalami kematian dini sebesar dua belas persen.

Mereka juga menemukan bahwa orang yang mengurangi waktu tidur dari tujuh jam menjadi lima jam atau kurang memiliki satu koma tujuh kali risiko kematian lebih cepat.

Apa penyebabnya?

Sejumlah penelitian menemukan bahwa tidur malam kurang dari lima jam sapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang pada akhirnya dapat meningkatkan tekanan darah.

Terlebih lagi, kurang tidur juga dapat memicu terjadinya kekurangan magnesium yag dapat menyebabkan pengerasan dinding pembuluh darah arteri (ateroskelosis). Aterosklerosis dapat meningkatkan risiko hipertensi, stroke, dan masalah jantung lainnya.

Selain itu, efek begadang juga tampak pada peningkatan kadar gula darah tubuh. Kurang tidur dapat menyebabkan tubuh resisten terhadap insulin serta meningkatkan hormon stres kortisol sehingga tubuh tidak bisa menyerap sisa gula yang ada dalam darah.

Akibatnya, kadar gula dalam darah semakin meningkat.

Kondisi ini dapat memicu diabetes. Efek begadang terlalu sering juga dapat meningkatkan pelepasan hormon lapar ghrelin yang bisa membuat nafsu makan meningkat.

Tidak heran kalau kurang tidur lama-lama bisa bikin tubuh gemuk, yang bisa memicu obesitas di kemudian hari.

Obesitas, hipertensi, dan diabetes tentu akan berdampak sangat buruk bagi kesehatan Anda. Apalagi jika terjadi bersamaan. Terlepas dari risiko penyakit, kurang tidur juga dapat menurunkan fokus dan kewaspadaan kita.

Hal ini dapat sangat berbahaya jika sedang mengendarai kendaraan. Bahaya berkendara saat ngantuk bahkan bisa disejajarkan dengan nyetir sambil mabuk.

Nyetir saat mengantuk setelah tidur malam hanya 3 jam meningkatkan risiko kecelakaan bermotor hingga lebih dari empat kali lipat.

Banyaknya tugas dari kantor sering memaksa kita pulang malam dan menggeser waktu tidur menjadi larut malam.

Kondisi ini dalam jangka panjang bisa jadi bumerang bagi kesehatan.

Dari sebuah penelitian terhadap lebih dari Lima ratus ribu orang terungkap, orang yang tidur larut malam dan mengerjakan pekerjaan hingga pagi cenderung punya masalah kesehatan, dan sekitar lima puluh ribu orang dari kelompok ini meninggal dalam studi enam setengah tahun.

Masalah kesehatan yang menghantui para penyuka begadang ini antara lain diabetes, gangguan psikologis, dan juga gangguan neurologi

Studi tersebut dilakukan oleh tim dari University of Surrey dan Northwestern University.

Mereka menilai resiko kematian secara keseluruhan pada dua tipe orang berbeda, orang yang tidur larut malam dan mendapatkan tidur dengan jam yang cukup.

Kristen Knutson, profesor neurologi di Northwestern University, Feinberg School of Medicine, mengatakan kebiasaan tidur larut malam memiliki konsekuensi kesehatan bagi tubuh.

Mereka disebut juga bisa tidak cocok dengan lingkungan yang memiliki jam tidur normal.

Beberapa dampak faktual yang terjadi seperti stres secara psikologis, kemudian makan pada waktu yang salah untuk tubuh, tidak cukup berolahraga, tidak cukup tidur, terjaga di malam hari, hingga menggunakan obat-obatan terlarang dan minuman keras.

“Ada berbagai macam perilaku tidak sehat yang berhubungan dengan tidur larut malam,” katanya.

Tapi, menurut Knutson, pola tersebut bukan lah kutukan dan mudah diperbaiki, sehingga kita bisa membuat pola tidur lebih baik agar terhindar dari masalah-masalah kesehatan yang tidak diinginkan.

Komentar