Aspirin Bisa Melindungi Jantung?

Penulis: Darmansyah

Jumat, 16 Juni 2017 | 15:06 WIB

Dibaca: 0 kali

Aspirin.

Ya, obat sakit kepala paling terkenal.

Dan juga, menurut banyak orang efektif untuk obat sakit jantung.

Benarkah?

Ini yang jadi pertanyaan.

Dan kesimpulan para peneliti, fungsi aspirin untuk jantung masih di wilayah abu-abu alias belum dipastikan kebenarannya.

Aspirin diyakini memiliki berbagai fungsi selain menghilangkan sakit kepala Anda.

Pil ini dikaitkan dengan penurunan risiko kanker dan bisa membersihkan jerawat sekaligus.

Namun bagaimana dengan manfaat sebagai obat pelindung jantung seperti yang seringkali disampaikan?

Ternyata fungsi aspirin untuk jantung masih di wilayah abu-abu alias belum dipastikan kebenarannya.

Dalam riset yang dipublikasikan di Clinical Cardiology, para peneliti melacak riwayat kesehatan tiga puluh tiga ribu pasien yang menderita atherosclerosis, atau penyempitan dan pengerasan pembuluh darah yang memunculkan risiko serangan jantung dan stroke.

Hasilnya, mereka yang mengkonsumsi aspirin dengan teratur memang lebih kecil kemungkinannya terkena serangan jantung atau stroke, namun hanya bila mereka sebelumnya pernah terkena serangan itu.

Pada kelompok ini aspirin memotong risiko serangan jantung dan stroke hingga sembilan belas persen.

Akan tetapi, menurut riset yang dipimpin Anthony Bavry, M.D itu, tidak ada pengurangan risiko serangan jantung atau stroke di antara mereka yang sebelumnya belum pernah mengalaminya.

Aspirin meningkatkan keselamatan mereka yang pernah terkena serangan jantung atau stroke dengan memperkecil kemungkinan terjadinya penyumbatan pembuluh darah.

Meski demikian, karena ini adalah riset pengamatan, hasilnya belum bisa disebut sebagai sebab dan akibat.

Percobaan klinis lebih lanjut diperlukan untuk memastikan kaitan aspirin dengan risiko-risiko di atas dan apakah ia bisa mencegahnya.

Selain itu perlu diketahui, seperti halnya obat-obatan lain, aspirin juga memiliki efek samping, seperti masalah pencernaan.

Maka bila dokter Anda menyarankan mengkonsumsi aspirin, bicarakanlah hal ini pada mereka.

Para peneliti sebelumnya sudah mendapati bahwa non-steroid anti-inflammatory drugs  seperti aspirin memang dapat mengurangi risiko kanker usus besar.

Namun, mereka saat itu belum dapat memahami alasan obat tersebut hanya memberi manfaat bagi sebagian pasien.

Dalam laporan penelitian yang dimuat di Science Translational Medicine, para peneliti menyatakan mereka meneliti jaringan dari orang-orang yang mulai mengidap kanker usus besar untuk mencari jawaban.

Penelitian melibatkan dua ratus tujuh puluh jaringan kanker usus besar dari seratus dua puluh tujuh ribu relawan dari penelitian selama tiga dekade ini.

Penelitian mendapatkan bahwa pasien dengan profil genetik yang tak bisa menghasilakan kadar tinggi enzim hampir tak mendapatkan manfaat apa pun dari aspirin untuk kanker usus besarnya.

“Namun orang-orang dalam penelitian ini yang memiliki tingkat enzim tinggi dan meminum aspirin, mereka memangkas risiko kanker usus besar hingga setengahnya,” ujar peneliti senior Sanford Markowitz dari Case Western Reserve School of Medicine.

“Temuan ini menghasilkan data bersih ya atau tidak, tentang siapa yang akan mendapat manfaat aspirin dalam kasus kanker kolon ini,” imbuh Markowitz.

Hasil penelitian ini penting, kata para peneliti, karena konsumsi aspirin bagi beberapa pasien juga meningkatkan risiko sakit maag dan memicu pendarahan gastrointestinal.

Para peneliti ini masih berharap dapat melanjutkan penelitian untuk mempermudah identifikasi bagi pasien yang bisa dan tidak mungkin mendapatkan efek positif dari aspirin untuk kasus kanker.

Kanker usus besar merupakan kanker paling mematikan nomor dua setelah kanker paru-paru.

Namun, angka kematian akibat kanker usus besar terus menurun dalam dua dekade terakhir dengan meningkatnya kesadaran orang-orang rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, terutama kolonoskopi.

Aspirin selama ini dikenal sebagai obat sakit kepala.

 

Meskipun obat ini juga bisa digunakan di saat-saat darurat sebagai pengencer darah saat terjadinya serangan jantung. Namun sebuah penelitian baru menunjukkan, aspirin juga merupakan pengobatan yang efektif bagi sakit tenggorokan.

Menurut hasil penelitian para ahli dari University of Cardiff Common Cold Centre, dua tablet aspirin yang dilarutkan pada air efektif dalam mengobati sakit tenggorokan.

Dengan catatan, larutan tersebut digunakan dengan cara berkumur, bukan ditelan. Efeknya akan berlangsung lebih dari enam jam.

Produk-produk pelega napas yang mengandung mentol juga diketahui bermanfaat untuk sakit tenggorokan. Ketua penelitian, Profesor Ron Eccles, mengatakan, produk-produk tersebut membantu menghilangkan sumbatan hidung dengan sensasi sejuknya.

“Selain itu, juga memperbaiki gejala sakit tenggorokan dengan aksi bius lokal,” ujar staf pengajar di School of Biosciences, University of Cardiff ini.

Menurut para pakar di Waikato University, Selandia Baru, beberapa jenis madu juga dapat melawan infeksi penyebab sakit tenggorokan.

Madu, kata mereka, secara alami mengandung hidrogen peroksida yang memiliki kemampuan antibakteri.

Sementara itu, menurut penelitian asal University of Maryland, madu yang diberikan pada anak-anak sebelum waktu tidur dapat menekan batuk di malam hari.

Bahkan, kata mereka, madu melakukannya lebih efisien ketimbang sirup batuk yang dijual bebas.

Cara yang unik lagi untuk mengobati sakit tenggorokan dengan efektif yaitu akupuntur telinga. Menurut Eccles, efeknya mungkin seperti plasebo, tetapi tetap memberikan manfaat yang baik.

Komentar