Apakah Penyakit Fobia Itu Bisa Dihilangkan

Penulis: Darmansyah

Senin, 13 Agustus 2018 | 15:17 WIB

Dibaca: 0 kali

Semua orang pasti pernah merasa takut, tapi tidak semua orang memiliki fobia.

Fobia adalah perasaan takut berlebihan, ekstrem, tidak terkendali, dan tidak masuk akal terhadap suatu objek maupun situasi yang sebenarnya tidak mengancam atau membahayakan nyawa.

Sebuah ketakutan dapat dikatakan menjadi fobia apabila telah berlangsung selama lebih dari 6 bulan dan sampai menyebabkan gangguan terhadap aktivitas sehari-hari.

Fobia termasuk ke dalam gangguan psikologis yang dapat ditangani dengan terapi CBT.

Salah satu metode CBT untuk mengatasi fobia adalah dengan terapi desensitasi. Seperti apa jalannya terapi tersebut, dan apakah benar-benar efektif?

Tidak seperti rasa takut pada umumnya seperti takut tertabrak mobil atau takut tidak lulus kuliah, fobia biasanya dipicu oleh satu hal spesifik — bisa objek atau situasi.

Contoh fobia yang paling umum adalah claustrophobia (takut tempat sempit tertutup) dan acrophobia (takut ketinggian).

Fobia juga tak seperti rasa takut biasa yang hanya berlangsung sebentar dan akan mereda segera setelah pemicunya menghilang.

Rasa takut yang dimunculkan oleh fobia bisa berlangsung lama hingga dapat berdampak merusak, baik secara fisik maupun mental.

Bahkan, hanya dengan memikirkan objek atau situasi yang ditakuti bisa membuat Anda memucat, mual, berkeringat dingin, panik, gemetaran, linglung (disorientasi), dan cemas berlebihan.

Maka, seseorang yang memiliki fobia akan berusaha sekeras mungkin untuk melakukan segala macam cara menghindari pemicu rasa takutnya.

Sebagai contoh, seseorang yang fobia kuman akan menghindari kontak fisik seperti berjabat tangan dengan orang lain atau memegang tombol lift.

Mereka juga akan melakukan berbagai cara untuk membersihkan tubuh dan lingkungan sekitar mereka dari kontaminasi bakteri, dan menjaganya agar tetap selalu bersih.

Sampai saat ini, para ahli belum menemukan penyebab pasti dari fobia. Genetik, riwayat kesehatan, dan faktor lingkungan sama-sama dapat memengaruhi kecenderungan seseorang mengalami fobia.

Anak yang memiliki kerabat dekat dengan anxiety disorder memiliki kemungkinan untuk mengalami phobia.

Suatu kejadian traumatis juga dapat menyebabkan phobia, seperti misalnya nyaris tenggelam bisa menyebabkan phobia terhadap air.

Pernah terkurung dalam ruangan sempit atau berada di ketinggian ekstrem dalam waktu lama; diserang dan digigit hewan juga dapat menimbulkan fobia. Selain itu, fobia juga dapat terjadi setelah seseorang mengalami trauma pada otak.

Teknik desensitisasi dikenal juga dengan nama teknik paparan. Seperti namanya, Anda akan secara sengaja dipaparkan alias dipertemukan dengan pemicu fobia Anda.

Prinsipnya, jika Anda kembali dipertemukan dengan pemicu rasa takut yang sama terus-terusan, tubuh akan merespon “teror” tersebut dengan melepaskan hormon-hormon stres yang menimbulkan gejala-gejala fobia.

Para ahli berpendapat bahwa pemaparan terhadap suatu pemicu secara bertahap dan berkelanjutan lama-lama dapat mengurangi sensitivitas seseorang terhadap pemicu tersebut.

Mungkin sederhananya bisa diibaratkan ketika Anda harus/hanya diperbolehkan makan satu jenis menu saja setiap hari. Lama-lama Anda akan pasrah saja meski merasa muak atau bosan setengah mati, karena tidak ada pilihan lain.

Terapi desensitasi merupakan bagian dari terapi CBT yang dilakukan di bawah pengawasan seorang psikiater. Terapi CBT bertujuan untuk mengubah proses pola pikir serta perilaku Anda jadi lebih baik.

Setelah menjalani sesi konseling awal untuk mengetahui informasi dasar mengenai latar belakang diri Anda, kebiasaan dan rutinitas, hingga hal-hal seputar fobia Anda  psikiater Anda kemudian akan mengajarkan Anda teknik-teknik relaksasi yang untuk membuat Anda tetap tenang ketika menghadapi pemicu fobia, misalnya teknik pernapasan dalam, self-hypnosis, dan meditasi untuk mengosongkan pikiran.

Selanjutnya, Anda akan diminta untuk memberi skor angka dari terendah ke paling tinggi untuk mengetahui seberapa takutnya Anda terhadap si pemicu fobia tersebut.

Pemberian skor ini juga disituasikan dengan jenis pemicu yang berbeda, agar hasilnya lebih akurat.

Setelah membuat skor tersebut, psikiater akan mulai sengaja memaparkan Anda terhadap si pemicu fobia tersebut secara perlahan. Dimulai dari yang paling rendah, yaitu meminta Anda untuk membayangkan laba-laba.

Sementara Anda membayangkan hal itu, ia akan memandu Anda untuk memulai teknik relaksasi yang diajarkan. Setelah Anda terbiasa untuk membayangkn laba-laba tanpa bereaksi berlebihan, kemudian Anda akan “naik level”.

Selanjutnya psikiater akan meminta Anda melihat foto laba-laba, dan begitu seterusnya sampai Anda berhadapan langsung dengan laba-laba hidup.

Setiap kali akan “naik level”, psikiater akan lebih dulu menilai perkembangan Anda sebelum melanjutkan terapi ke jenjang berikutnya sampai akhirnya Anda sudah merasa tidak takut lagi dan terbebas dari fobia.

Namun tentu mengatasi fobia dengan cara ini tidak bisa sembarangan. Sebelum psikiater menerapkan terapi desensitasi, biasanya Anda akan diminta untuk menceritakan masalah atau kesulitan yang sedang dihadapi untuk mencari tahu kemungkinan penyebabnya.

Setelah itu, Anda dan terapis akan menentukan perubahan apa yang ingin diwujudkan dan tujuan apa yang ingin dicapai.

Pada akhirnya, terapi perilaku dan kognitif dapat membantu Anda menyadari bahwa situasi, benda atau hewan yang Anda takuti selama ini ternyata tidak seburuk yang dibayangkan dan tidak membahayakan nyawa.

Teknik ini perlu dilakukan beberapa kali, hingga akhirnya Anda menjadi terbiasa dan tidak menjadi takut lagi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, penggunaan teknik ini ternyata cukup ampuh untuk membantu mengatasi fobia.

Komentar