Anda Tahu Kenapa Tidur Siang Itu Baik?

Penulis: Darmansyah

Senin, 5 Juni 2017 | 15:13 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda tahu kenapa tidur siang itu baik untuk tubuh?

Untuk Anda tahu, dalam waktu yang tepat, tidur siang bisa mengembalikan tenaga dan konsentrasi sepanjang hari.

Dan Anda juga harus tahu bahwa tidur siang sering  membuat Anda sulit terlelap di malam hari.

Namun bila Anda melakukannya dalam waktu yang tepat, tidur siang justru bisa mengembalikan tenaga dan konsentrasi sepanjang hari.

Oleh karenanya ini menjadi salah satu cara menghadapi hari yang melelahkan.

Banyak riset mendapati bahwa tidur siang bisa meningkatkan performa, kewaspadaan, konsentrasi dan kemampuan penilaian seseorang.

Hal-hal tersebut penting dimiliki oleh astronot di stasiun ruang angkasa yang mengorbit Bumi, sehingga NASA tertarik untuk meneliti manfaat tidur siang.

Ketika peneliti NASA melakukan study terhadap astronotnya, mereka menemukan bahwa tidur siang dua puluh lima menit bisa meningkatkan kemampuan penilaian hingga tiga puluh lima persen dan kewaspadaan enam belas persen.

Tidak heran bila NASA menganjurkan para astronot untuk tidur siang.

Dalam riset lain, para peneliti membandingkan perbedaan manfaat tidur siang dengan minum kopi.

Mereka menemukan orang yang tidur siang lima belas  hingga dua puluh  menit akan lebih awas dan melakukan pekerjaan lebih baik di sisa harinya dibanding mereka yang mengakalinya dengan minum segelas besar kopi yang mengandung seratus lima puluh  miligram kafein.

Saat kita tidur siang, bagian otak kita yang selalu bekerja saat kita bangun, memiliki kesempatan untuk beristirahat.

Ini seperti otot yang berkesempatan memperbaiki diri saat istirahat.

Dalam sebuah review soal efektivitas, para peneliti menemukan bahwa tidur selama sepuluh menit memberi manfaat terbesar, meski banyak juga yang menyebut angka “yang penting di bawah tiga puluh menit”.

Tidur siang lebih lama dari setengah jamt akan kontraproduktif karena membuat kita bangun dengan rasa pening, malas, dan lamban dibanding sebelum kita tidur.

Kondisi ini disebut “sleep inertia” yang terjadi saat kita terbangun di tengah tidur lelap.

Rasa pening itu adalah cara alami tubuh untuk menyuruh kita kembali tidur.

Tidur lelap sendiri umumnya belum terjadi pada setengah jam pertama, dan itu sebabnya kita disarankan untuk tidak tidur siang lebih dari setengah jamt.

Dalam beberapa situasi, orang boleh saja tidur siang selama sembilan puluh menit hingga dua jam.

Tidur yang lama itu akan menyerupai tidur malam, sehingga bisa membuat Anda justru kesulitan tidur malamnya.

Para peneliti hanya menyarankan tidur siang yang lama bagi mereka yang memang butuh tidur di siang hari seperti para atlet yang berlatih dua kali dalam sehari.

Karenanya bila sempat, ambilah waktu sepuluh hingga tiga puluh menit untuk tidur siang. Anda akan bangun dengan rasa bugar dan melanjutkan hari dengan lebih bersemangat.

Para peneliti menemukan kata baru untuk menggambarkan perasaan puas setelah tidur siang singkat: “nappiness”.

Prof. Richard Wiseman dari University of Hertfordshire mengatakan, “Riset sebelumnya membuktikan bahwa tidur siang di bawah setengahjam membuat kita lebih fokus, produktif dan kreatif. Penelitian kami menemukan bahwa kita juga dapat menjadi lebih bahagia dengan tidur siang singkat.”

Namun studi itu menemukan bahwa mereka yang tidur siang lebih lama kurang bahagia dibandingkan dengan yang tidak tidur siang sama sekali.

Selanjutnya, mereka yang tidur siang selama satu jam juga mendapatkan hasil terbaik daripada mereka yang tidur siang lebih pendek atau lebih panjang.

Orang-orang yang tidak tidur siang atau tidur siang lebih lama mengalami penurunan kemampuan mental sebanyak empat sampai enam kali lebih besar dari mereka yang tidur siang satu jam. Tidur siang juga bisa memastikan lansia mendapatkan tidur malam yang baik.

Studi menemukan, peserta yang melaporkan kurang tidur siang cenderung tidur malamnya pun kurang berkualitas.

Riset baru membuktikan tidur siang baik untuk meningkatkan memori. Diungkapkan pula dalam riset itu, memori yang ada kaitannya dengan penghargaan diperkuat oleh tidur. Tidur siang singkat setelah belajar pun ternyata bermanfaat.

Pemimpin riset tersebut, Dr. Kinga Igloi dari University of Geneva mengatakan,”Hadiah mungkin bertindak sebagai sejenis penanda, membungkus informasi di dalam otak selama masa pembelajaran. Selama tidur, informasi itu terkonsolidasi baik dengan informasi yang berhubungan dengan hadiah rendah, dan dipindahkan ke area otak penyimpan memori jangka panjang.”

“Penemuan kami relevan untuk mengerti efek menghancurkan kurang tidur,” tambahnya.

Untuk sampai ke penemuan itu, Dr. Igloi dan tim meneliti tiga puluh satu sukarelawan sehat. Mereka secara acak diberi tugas ke dalam kelompok tidur atau kelompok bangun dan sensitivitas kedua kelompok terhadap hadiah diukur sama.

Otak para sukarealawan dipindai ketika mereka dilatih mengingat pasangan-pasangan gambar.

Delapan seri gambar diperlihatkan dan sukarelawan diberi tahu bahwa mengingat empat pasang gambar akan memperoleh hadiah lebih besar.

Mengikuti istirahat sembilan puluh menit dengan tidur atau istirahat, mereka diuji memorinya terhadap pasangan gambar dan diminta memberi peringkat seberapa percaya diri mereka dalam memberi jawaban yang benar.

Sukarelawan juga diminta ambil bagian dalam tes kejutan dengan keadaan yang sama tiga bulan kemudian.

Kinerja kedua kelompok lebih baik untuk mereka yang mendapat hadiah lebih tinggi tetapi kelompok yang tidur mengingat lebih baik secara keseluruhan.

Periset mencatat penemuan mencolok, yaitu selama tes kejutan tiga bulan kemudian sukarelawan yang tidur setelah belajar secara selektif lebih baik memasangkan dengan gambar dengan hadiah lebih besar.

Mereka yang tidur juga lebih percaya diri menjawab dengan benar selama tes memori, bahkan tiga bulan kemudian.

Pemindaian MRI mengungkapkan kelompok tidur mengalami aktivitas lebih besar di daerah hippocampus, area kecil di otak yang penting untuk membentuk memori.

Hal ini terkait dengan jumlah lebih tinggi semburan aktivitas otak yang disebut spindle lambat.

Setelah tiga bulan kelompok tidur juga menunjukkan konektivitas meningkat antara hippocampus, medial prefrontal cortexdan strriatum, daerah di otak yang terlibat dalam konsolidasi memori dan proses pemberian hadiah.

Dr. Igloi mengatakan,”Kita sudah tahu bahwa tidur membantu memperkuat memori, tetapi kita juga sekarang tahu tidur membantu memilih dan menyimpan memori dengan nilai hadiah lebih besar.”

“Hal ini membuat penyesuaian akal bahwa konsolidasi memori seharusnya bekerja dengan memprioritaskan informasi yang penting demi kesuksesan dan kelangsungan hidup kita,” katanya. Penemuan ini diterbitkan di jurnal eLife.

Komentar