“Anda Kok Masih Seperti Dulu Juga”

Penulis: Darmansyah

Sabtu, 10 Mei 2014 | 12:24 WIB

Dibaca: 0 kali

“Anda kok masih seperti dulu juga, Nggak ada tuanya,” itulah rekaman sebuah percakapan di sebuah kafe di antar dua pria “manula.” Yang satu tak bisa menyembunyikan wajahnya dari tampilan seorang “kakek-kakek” dengan perut buncit, kepada botak dan kantong mata menggelantung.

Sedangkan yang satunya, masih seperti dulu. Langsing. Rambut masih lebat, walau pun helai putihnya sudah menebar, dan face-nya masih kencang dengan pertanda usia manulan menggelantung di kulit lehernya.

Mereka sama-sama sedang menjalani usia awal enam puluhan. Sama-sama sudah pensiun. Si yang gemuk sudah berkutat dengan darah tingginya yang akut dan selalu nynyir dengan tensinya.

Sedangkan yang lainnya masih memiliki tekanan darah normal bisa makan apa saja, tapi tak mau ia lakukan serampangan.

Nah, siapa yang tidak ingin kelihatan awet muda, walau pun usia terus bertambah.

Tahu kesalahan yang dilakukan oleh manulan enampuluhan yang buncit, tampilan kakek-kakek benaran dan penyakitan tadi? Di usia puncaknya, empat puluhan, ia beradah puncak dunia. Karier melejit, uang melimpah, sehingga makanan apa pun dilahap.

Segala sesuatu pekerjaan yang membutuhkan kerja fisik, sudah dilakukan orang lain.

Berhubung sibuk, tak ada waktu lagi untuk olahraga sehingga secara fisik, pria sukses itu memiliki karakteristik kepala botak, perut gendut, dan tubuh menggelambir karena kurang gerak.

“Bisa dikatakan bahwa para pria itu pada usia empat puluhan berada di puncak dunia tapi mulai mengalami gangguan kesehatan karena proses penuaan. Peaking his life but failing his health,” ungkap Arif Adimoelja dokter terkenal yang mengamati polah pria “hebat” di Jakarta.

Sudah tak peduli pada penampilan, kaum pria juga tak terlalu mementingkan kesehatan dan ogah mengubah hidup menjadi lebih sehat.

Satu-satunya hal yang menjadikan pria mau mengubah gaya hidup adalah ketika mereka tak berdaya gara-gara sakit berat.”.

Kepala botak dan perut gendut sebaiknya tak dipandang sebelah mata. Pasalnya, fenomena itu bisa jadi tanda penurunan kadar testosteron.

Untuk itu para pria silakan mencermati tubuh fisik mereka sendiri untuk mencari tanda-tanda kekurangan testosteron. Tanda-tanda pria yang punya cukup testosteron adalah tubuh berotot dan perut ramping.

Sementara itu, pria yang kekurangan hormon testosteron cenderung gemuk bergelambir, berperut gendut, dan kepala botak.

Ciri fisik pria yang mengalami kekurangan testosteron adalah berkurangnya volume otot, sementara volume lemak bertambah.

Belakangan ini kegemukan mewabah di seluruh dunia. Kegemukan itu umumnya terpusat pada perut buncit. Pada pria, tampak pula payudara yang membesar karena kegemukan.

Usia orang gemuk jadi pendek karena berbagai potensi penyakit yang tersembunyi di balik tubuh gemuk.
Dengan kondisi gemuk itu, serangan jantung, stroke atau pun diabetes tidak lagi menunggu usia di atas lima puluhan tahun.

Antiaging atau antipenuaan adalah ilmu yang sangat baru di dunia kedokteran. Dalam perspektif antiaging, penuaan itu kedudukannya setara dengan penyakit, sehingga bisa dicegah dan dihambat.

“Manusia bisa bertambah usia secara kronologis, tetapi bukan berarti dia harus menua karena dihinggapi berbagai penyakit. Meskipun umur terus bertambah, kualitas hidup tetap prima karena kesehatan yang prima juga,” ungkapnya.

Kita bisa mencegah penuaan sejak dini dengan pola hidup sehat sehari-hari. Pola hidup sehat itu bisa dimulai dari makanan yang diasup sehari-hari.

Kelebihan makanan dan minuman selain menyebabkan bertambahnya berat badan, juga memperbanyak radikal bebas di dalam tubuh.

Menurut teori radikal bebas, penuaan dini terjadi karena adanya oksigen reaktif yang terikat pada sel-sel tubuh. Asupan makanan yang terlalu banyak akan diubah menjadi glukosa.
Selanjutnya glukosa ini diubah menjadi energi dalam sitoplasma. Glukosa yang terlalu banyak ini kemudian menjadi oksigen reaktif atau radikal bebas, yang bila tidak ditangkal akan menyebabkan penuaan dini.

Komentar