Anda Bernafas Lewat Hidung atau Mulut?

Penulis: Darmansyah

Rabu, 19 Juli 2017 | 08:00 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda pernah tahu bernafas yang benar?

Dengan hidung atau dengan mulut. Dan mana yang benar.

Ya, setiap saat kita bernafas. Untuk itulah sebaiknya Anda melakukannya dengan benar

Menurut Dr. Lewis Ehrlich, secara permanen manusia dirancang untuk bernafas melalui hidung bukan dengan mulut.

Tapi masih banyak orang bernafas melalui mulut.

Inilah yang sering  menimbulkan berbagai masalah kesehatan dari alergi rhinitis sampai sleep apnea atau gangguan pernafasan saat tidur.

Kata  Dr. Lewis Ehrlich, hidung merupakan jalur pertahanan utama untuk melawan bakteri dan racun di udara yang Anda hirup.

“Di dalam saluran hidung ada banyak mekanisme penyaringan yang berperan. Bila kita memanfaatkan ini, kita bisa menghangatkan, menyaring dan melembabkan udara yang kita hirup. Ini mengurangi kemungkinan alergi, demam, pembesaran amandel dan masalah pernapasan kronis lainnya,” jelasnya.

Lalu apa yang terjadi saat Anda melewati proses filtrasi ini?

Tubuh Anda bergantung pada amandel sebagai “garis pertahanan terakhir.” Ini bisa memperbesarnya, meningkatkan kemungkinan infeksi dan menyebabkan kesulitan bernafas di malam hari. Tentu ini bukan lah hal bagus.

Selain itu, bernapas melalui hidung Anda merangsang produksi oksida nitrat, sebuah pengatur untuk membantu menurunkan tekanan darah. Oksida nitrat juga bekerja membunuh bakteri dan menjaga sinus tidak terkena infeksi.

“Bernafas lewat mulut cenderung kehilangan manfaat ini dan pada umumnya akan merasakan adanya kemacetan di sinus dan memiliki infeksi yang lebih sering,” tambah Ehrlich.

Sedangkan dengan pernapasan melalui hidung, berarti Anda akan mendapat manfaat  dari postur tubuh

Mereka yang bernafas dengan mulut umumnya memajukan mukanya lebih ke depan sehingga akan terjadi ketegangan otot di sekitar leher, kepala dan rahang, dan membuat tubuh tidak tegak sepenuhnya.

Selain itu, Anda bisa lebih mengendalikan stres dan kecemasan dengan bernafas lebih dalam, dan hal ini bisa dicapai bila kita bernafas dengan hidung.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam The Journal of Neuroscience juga menemukan cara-cara di mana bernafas mempengaruhi area otak yang mengatur emosi memori.

Responden diperlihatkan foto wajah yang menunjukkan rasa kaget atau takut dan diminta menyebutkan emosi itu saat nafas mereka direkam.

Hasilnya, mereka bisa lebih akurat mengidentifikasi rasa takut saat menghirup nafas melalui hidung mereka, yang berarti bisa menghasilkan respons yang lebih cepat terhadap bahaya.

Pernapasan melalui hidung mengurangi risiko kerusakan gigi dan penyakit gusi.

Bila mulut Anda tertutup, maka air liur bisa bekerja membersihkan gigi dan gusi Anda. Enzimnya juga membantu menetralkan asam di mulut yang bisa membusuk gigi dan menyebabkan bau mulut.

Saat kita bernapas melalui hidung kita, lidah kita berada di langit-langit mulut yang bisa mengurangi kebutuhan akan perawatan ortodontik yang mahal – sekaligus mencegah kambuh setelah kawat gigi dilepas.

Jika Anda bernafas lewat mulut, lidah Anda turun dari langit-langit mulut ke bagian bawah mulut dan tekanan dari pipi bisa menyebabkan berubahnya susunan gigi.

Jika Anda sering bangun di malam hari untuk buang air kecil, mungkin peyebabnya adalah karena bernafas lewat mulut.

Sedikitnya karbon dioksida yang dikeluarkan melalui pernafasan mulut dapat menyebabkan otot-otot halus, seperti kandung kemih Anda, berkontraksi, sehingga Anda lebih mungkin bangun dan perlu pergi ke kamar kecil.

Bernafas lewat hidung juga mengurangi resiko sleep anea, suatu kondisi dimana lidah menghalangi jalan napas dan mengakibatkan dengkuran.

Dan mendengkur tidak hanya menyebalkan, tapi juga berbahaya.

Sleep apnea dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan jangka panjang seperti tekanan darah tinggi, serangan jantung, stroke, dan peningkatan risiko kecelakaan di jalan.

Lalu bagaimana kita harus bernafas saat memulai olahraga lari?

Seringkali kita tidak memikirkan bagaimana kita bernafas.

Padahal cara bernafas memberi dampak yang besar pada jarak yang bisa kita tempuh dan kenyamanan saat berlari.

“Bernafas saat berlari adalah sebuah teknik khusus yang harus dilatih,” ujar Budd Coates, pelatih lari sekaligus penulis buku tentang pernafasan saat berlari, Running on Air.

Coates telah mengembangkan cara bernafas yang mengajarkan para pelari untuk bernafas dalam pola ganjil dan genap, misalnya mengambil nafas dalam tiga langkah lari, dan membuangnya dalam dua langkah.

“Bernafas dengan cara ini membuat Anda bisa berlatih dengan akurat dan berlari lebih cepat,” ujarnya.

Kebanyakan pemula, bernafas tidak beraturan saat belari. Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang baru mulai berlatih lari tidak memiliki pola dalam bernafas.

Kebalikannya, para pelari berpengalaman umumnya menyesuaikan tarikan nafas mereka dengan langkahnya untuk efisiensi.

Salah satu hal terpenting tentang pola bernafas ini adalah kita bisa memaksimalkan pengambilan oksigen yang dibutuhkan tubuh saat berlari, sesuai dengan irama langkah kita. Dengan pasokan yang terjaga, otot kita tidak cepat mengalami kelelahan.

Selain pola bernafas, postur tubuh dan ayunan tangan saat berlari juga mempengaruhi cara kita bernafas. Postur yang tidak benar akan mengurangi jumlah oksigen yang kita hirup, sementara ayunan tangan kita berkorelasi dengan irama langkah kita. Semua itu harus menjadi kesatuan gerakan yang berirama.

Hal lain soal bernafas adalah belajarlah bernafas dengan diafragma atau bagian atas perut kita daripada bernafas dengan dada. Bernafas dengan dada membuat kita lebih mudah terengah-engah.

Selain itu, menurut Coates, saat berlari sebaiknya kita bernafas melewati hidung namun membiarkan mulut kita sedikit terbuka untuk membantu pernafasan. Bernafas lewat mulut saja membuat kita cepat lelah dan tidak efektif.

Semua hal tentang pernafasan itu bisa dilatih perlahan, mulai dari lari lambat saat pemanasan, hingga berlari lebih cepat dan lebih jauh. Awalnya Anda pasti akan berpikir, namun kemudian bernafas dengan pola itu akan menjadi kebiasaan dan kemampuan berlari Anda pun menjadi lebih baik

Komentar