Sinabung Tak “Muntah” dan “Batuk” Lagi

Penulis: Darmansyah

Senin, 16 September 2013 | 15:10 WIB

Dibaca: 0 kali

Berdasarkan laporan dari Kabanjahe, usai zuhur, Senin siang, kontributor “nuga.co” di Medan, Arminsyah, mengabarkan, “Sinabung baru saja berhenti memuntah debu. Namun begitu, asap warna abu-abu terus keluar dari kawah. Pengungsi terus bolak balik ke desanya untuk mengamankan harta bendanya sekaligus member makan ternak milik mereka.”

Arminsyah yang pagi tadi sudah berada di lokasi pengungsian di Kabanjahe dan Brastagi, menuliskan di “email”nya, kondisi Sinabung relatif bersahabat sejak pagi ini hingga menjelang sore. Tidak batuk-batuk dan muntah lagi. Pergerakan abu vulkanik dan dentumannya tak lagi seliar hari Minggu kemarin. “Sudah mulai bersahabat. Dan ini memungkin pengungsi untuk pulang ke kampungnya. Paling tidak di siang hari.”

Berdasarkan pantauan terakhir, yang dikeluarkan oleh pos pengamat vulkanologi, Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, sudah berhenti memuntahkan debu ke udara. Namun, asap masih terlihat keluar dari kawah.

Berhentinya semburan abu vulkanik itu seiring dengan menurunnya aktivitas gempa di sekitar kawah gunung setinggi 2.451 mdpl tersebut. Kondisi gempa vulkanik pagi tadi sampai siang ini cendrung mengalami penurunan. Kalau tadi malam bisa terjadi tremor sampai 10 kali, tapi pagi sampai siang ini hanya enam kali.

Kondisi itu berdampak langsung pada kualitas asap yang dihasilkan kawah Sinabung. Meski masih membumbung tinggi hingga 150 meter, tapi sudah tak mengandung material debu lagi dan tidak ada erupsi.

Penurunan gempa dan kualitas asap, lapor Arminsyah, tidak serta merta bisa mengubah status gunung tersebut. “Statusnya tetap di level III atau Siaga. Kami juga belum mencabut peringatan mengungsi pada warga. Kami masih membutuhkan data lebih banyak sebelum mengubah status tersebut,” catat Arminsyah yang mengutip petugas di pos pengamat.

Erupsi gunung tertinggi di Sumatera Utara tersebut menyebabkan hampir 6.000 orang mengungsi ke tujuh lokasi. Mereka berasal dari enam desa yang tinggal di radius tiga kilometer dari kawah. PVMBG merekomendasikan agar radisu tiga kilometer dari kawah streril dari warga.

Hingga menjelang siang jumlah pengungsi yang didapat dari data pejabat penanggulangan bencana Kabupaten Karo, sudah i mencapai 5.956 jiwa yang tesebar di tujuh lokasi pengungsian. Jumlah tersebut meningkat dibanding kemarin yang mencapai hanya 3.710 jiwa. Status gunung api tipe B itu juga masih berada di Level III atau Siaga.

Pejabat penanggulangan juga menjelaskan, sebagian besar pengungsi berasal dari enam desa di Kecamatan Naman Teran yang berada di radius tiga kilometer dari puncak Sinabung. Ketiga desa itu adalah Desa Simacem, Bekerah, Sukameriah, Sukanalu Teran, Sigarang-garang, dan Mardinding. Sesuai rekomendasi pejabat vulkanologi, area itu memang harus dikosongkan.

Meski berada di pengungsian, aktivitas sekolah tetap berjalan. Warga juga beraktivitas seperti biasa. “Saat ini sekolah berjalan normal. Sebagian masyarakat tetap menjalankan aktivitas secara normal,” bebernya.

Menurutnya, logistik untuk para pengungsi juga terus disuplai, meliputi 2.000 selimut, masker, makanan, dan minuman. Selain itu, posko kesehatan juga telah didirikan oleh Dinas Kesehatan Pemkab Karo dan Pemprov Sumut.

“Bantuan dari berbagai pihak saat ini masih berdatangan untuk membantu pengungsi. Sebagian masyarakat secara mandiri telah mengevakuasi ternaknya,” terangnya.

Peningkatan jumlah pengungsi tersebut seiring dengan diperluasnya wilayah terdampak letusan Sinabung. Saat itu, kawah Sinabung kembali mengeluarkan asap tebal yang membubung tinggi, hingga mengenai desa yang sebelumnya tidak terdampak.

Komentar