Sinabung Masih Bergejolak

Penulis: Darmansyah

Rabu, 18 September 2013 | 17:05 WIB

Dibaca: 2 kali

Sinabung masih bergejolak. “Batuk” kecil dan mengeluarkan asap, gunung api yang pernah meletis tiga tahun lalu itu, masih ditetap sebagai siaga tiga. Kemarin, Selasa tengah hari, 17 September 2013, Sinabung melontarkan debu vulkanik yang menyiram Kota Brastagi dan makin menambah jumlah pengungsi.

Hari ini, Rabu, seperti dilaporkan kontributor “nuga.co” di Medan, Arminsyah, Sinabung belum bisa tenteram. Masih kedengaran gejolak pergerakan di perutnya. Kawahnya masih menyemburkan asap.

Hingga menjelang sore Sinabung belum bisa didekati. Petugas pos vulkanologi meminta kepada penduduk lima desa di kaki Sinabung untuk tidak pulang kedesanya. “Kita perkirakan akan terjadi letusan. Untuk itu jangan dulu mendekat,” ujarnya.

Untuk meniadakan korban akibat letusan, yang sewaktu-waktu bisa meledak, pihak aparat di Kabupaten Karo menugaskan aparat polisi dan tentara untuk menutup jalan ke desa-desa yang dianggap rawan.

Mereka bersiaga dengan senjata lengkap di pemukiman yang ditinggal warga, yang kini berada di lokasi pengungsian, menyusul meningkatnya aktivitas Gunung Sinabung beberapa hari terakhir. Keberadaan mereka untuk memastikan lokasi itu aman dari kejahatan di tengah bencana.

Seperti yang terlihat di Desa Sukanalu, Kecamatan Naman Teram, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Di kawasan paling parnah terkena debu vulkanik tersebut, personel mendirikan tenda-tenda untuk bermalam. Sedikitnya ada 28 orang aparat yang disiagakan.

Mereka tidak hanya memantau aktivitas di jalur yang menjadi pintu masuk ke kawasan pedesaan di sekitar gunung, tetapi juga melakukan patroli secara berkala ke setiap desa.

“Itu patroli untuk mewaspadai aksi kejahatan dengan sasaran rumah-rumah yang di tinggal pemiliknya karena terpaksa mengungsi,” ujar Kapolsek Simpang Empat, AKP Irianto di lokasi, Rabu, 18 September 2013, kepada wartawan yang mewawancarainya..

Pengawasan akan terus dilakukan sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Sementara itu Badan Nasional Penanggulangan Bencana merilis data terbaru jumlah pengungsi korban letusan Gunung Sinabung di Kecamatan Naman Teran Kabupaten Karo, Sumatera Utara, telah mencapai 7.542 jiwa setelah letusan kedua kemarin.

Pertambahan jumlah pengungsi ini menyusul semakin luasnya wilayah yang terkena debu vulkanik pasca-letusan kedua. Warga yang awalnya bertahan, akhirnya memutuskan untuk ikut ke pengungsian.

Sutopo, juru bicara BNPB mengatakan, meski jumlah pengungsi bertambah, namun belum ada korban jiwa akibat letusan Gunung Sinabung. BNPB terus berkordinasi dengan Pemkab Karo, untuk pelayanan pengungsi.

“Tadi kita sudah serahkan bantuan siap pakai senilai Rp300 juta kepada Pemkab Karo. Bantuan itui disampaikan Menko Kesra Agung Laksono melalui Wakil Gubernur Sumut, Tengku Erry Nuradi,” ungkapnya.

Sutopo mengaku air bersih dan obat-obatan menjadi dua hal yang paling dibutuhkan para pengungsi. Pasalnya usai letusan kedua, seluruh lokasi pengungsian diterpa debu vulkanik yang cukup tebal.

“Dinas PU sudah melakukan pendistribusian air bersih dari PDAM ke semua titik pengungsian. Sementara Dinsos provinsi juga sudah memberikan makanan siap saji sebanyak 1.500 bungkus. Belum cukup memang, tapi kita harap itu bisa menutupi pertambahan jumlah pengungsi,” tukasnya.

Akibat dari letusan Sinabung, seperti dilaporkan Arminsyah, bahan kebutuhan pokok, terutama sayur dan buah-buhan melonjak harganya di pasar-pasar Medan. Wortel, kol, buncis, brokoli dan sebagainya sudah mencapai kenaikan dua kali lipat.

Selain harga menjulang, ketersediaannya juga terbatas. Ini menyulitkan para ibu rumah tangga, pemilik warung dan distribusinya ke daerah sekitarnya. Di Banda Aceh, hingga Rabu, pasokan sayur dari Medan merosot tajam. Lonjakan harga tak bisa dihindari.

Begitu juga dengan pasokan ke Riau dan daerah-daerah di Sumatera Utara sendiri.

Komentar