Sinabung Masih Belum Aman

Penulis: Darmansyah

Senin, 11 November 2013 | 19:20 WIB

Dibaca: 0 kali

Letusan Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, selain merusak lahan pertanian warga, juga berdampak pada pola kehidupan masyarakat yang dicekam ketakutan dan was-was. Banyak warga yang terkena dampak stress akibat berulangnya ancaman lahar dan awan panas yang semburkan gunung api teraktif itu.

Hingga, Senin, kerugian akibat kerusakan pertanian yang ditimbulkan oleh letusan Sinabung di tiga kecamatan saja, sudah mencapai Rp 4 miliar.

Kepala Dinas Pertanian Sumatera Utara, M Roem S mengatakan, ada 4.467 hektar lahan pertanian yang rusak pascaletusan Gunung Sinabung yang. Lahan itu ada di Kecamatan Payung, Tiga Ndeket dan Namanteran.

“Di tiga tempat ini saja kerugian diperkirakan mencapai empat hingga lima miliar rupiah, belum lagi di tempat lainnya,” katanya.

Dia menjelaskan, warga terpaksa mengungsi sejak 29 Oktober lalu dari desanya masing-masing. Hingga saat ini, masih banyak warga yang bertahan di pengungsian. Sementara, lahannya tak ada yang mengurus.

Selain itu, kata Roem, ada 3.440 hektar lahan lainnya yang juga terkena dampak erupsi, tapi kerusakannya tidak terlalu parah dan masih bisa diurus oleh warga.

“Hujan yang sering turun membantu memperbaiki lahan warga dengan menyirami langsung debu yang lengket di daun serta dahan,” ucapnya.

Sambung Roem, akibat lainnya yaitu terjadi kelangkaan dan kenaikan harga sayuran serta buah-buahan di sejumlah pasar tradisional di Medan.

Gunung Sinabung telah beberapa kali meletus dan mengeluarkan debu vulkanik. Pertama kali meletus pada 2010 silam. Hingga saat ini, pemerintah melalui badan vulkanologi masih menetapkan status siaga level III.

Warga yang tempat tinggalnya berjarak tiga kilometer dari kaki Gunung Sinabung belum diperbolehkan pulang ke rumahnya masing-masing.

Hingga senin, 11 November 2013, Gunung Sinabung masih dalam status siaga. Artinya penduduk yang berjarak tiga kilometer dari puncak gunung harus tetap mengungsi atau bersiaga jika sewaktu-waktu gunung api itu mengeluarkan lahar dan awan panas.

Komentar