September, Polonia Tutup Dan Kuala Namu Operasional

Penulis: Darmansyah

Minggu, 14 April 2013 | 12:22 WIB

Dibaca: 0 kali

Kuala Namu, Deli Serdang, Sumatera Utara. Enam tahun sudah pembangunan bandara besar itu dikerjakan. Sudah terlewatkan satu tahun, dari rencana semula lima tahun, jadwal finishing sekaligus peengoperasinnya. Bahkan, sepanjang tahun 2013, telah dua kali jadwal peresmiannya direvisi. Semula akan diresmikan Januari. Mundur Juni, dan kini direncanakan September. Dan itu pun belum  jelas apakah akan jadi kenyataan.

Ketika kami datang ke sana, awal pekan kedua April, penyelesaian fisik bandara telah rampung 95 persen. Sektor privat yang dibangun oleh PT Angkasa Pura II, yang masih dalam tahap penyelesaian antara lain stasion kereta api, gedung administrasi, perkantoran kargo, masjid dan gedung peralatan. Sedangkan, terminal penumpnag dan stasion pengisian bahan bakar sudah tuntas seratus persen.

Pembangunan lainnya, yang menjadi sektor publik, seperti landasan pacu, jalur parkir, areal parkir pesawat, perkantoran,  stasion pemadam kebakaran dan pusat listrik juga telah selesai seluruhnya.

Memang masih ada hambatan dari sisi akses jalan masuk ke bandara setelah 45 kepala keluarga masih ngotot menuntut ganti rugi yang tinggi. Tuntutan ini sedang dinegosiasi terhadap tanah di sepanjang 800 meter. Jalan akses ini, tidak seluruhnya menjadi hambatan total. Ketika kami datang kesana, jalan akses itu sudah bisa dilewati walau pun sedikit berkelok.

Tentang hambatan pembebesan tanah ini pihak Angkasa Pura sudah menyerahkannya kepada Peerintah Kabupaten Deli Serdang. Terjadi tolak tarik harga yang semula dijanjikan Rp 300 ribu permeternya, yang kemudian hanya Rp 75 ribu dan terakhir terjadi cekcok baru bahwa tanah itu ternyata milik hak guna usaha PT Perkebunan  Nusantara II.

Entah mana yang paling benar, kita tidak tahu, tapi persoalan pembebasan tanah untuk kepentingan infrastruktur memang sudah menjadi hambatan klasik. Banyak pembangunan infrastruktur jalan, jaringan kereta api atau pun proyek pembangunan listrik yang tertunda hingga bertahun-tahun akibat ketidakcocokan ganti rugi antara pemilik dengan proyek.

Hambatan jalan akses ini memang menjadi alasan tertundanya pengoperasian. Tapi bukan hambatan mutlak. Sebab akses transportasi ke bandara terbesar besar, termodern dan memiliki teknologi terbaru di Indonesia bagian barat itu masih bisa didatangi  dengan kereta bandara. Seluruh jalur kereta bandara  sudah tuntas, hanya pembangunan stasion yang masih dalam tahap finishing atapnya.

Kalau beroperasi kelak, Kuala Namu menjadi satu-satunya  bandara di Indonesia yang memiliki akses kereta api. Kereta bandara sepanjang 30 kilometer ini bisa ditempuh selama 30 – 35 menit dari stasion utamanya, di depan Lapangan Merdeka, Medan.  Yang pasti tak ada hambatan perjalanan bagi penumpang yang ingin mempergunakannya karena adanya kepastian tiba.

Kereta bandara ini, menurut pihak PT Railin, pihak yang mengoperasikannya, akan meluncur setiap satu jam sekali. Dan kereta bandara ini menjadi salah satu pilihan dari pilihan lainnya akses menuju bandara Kuala Namu. Akses lainnya itu, jalan biasa dan jalan tol yang ketika kami datang sudah menyelesaikan tahapan tendernya.

Pembangunan bandara Kuala Namu memang di rancang untuk sebuah proyek besar yang mendukung pertumbuhan ekonomi belahan barat nusantara. Tapi karena penyelesaiannya tidak memenuhi jadwal yang disepakati proyek ini dikhawatirkan akan menyebabkan menunda momentum “booming” lajunya kedatangan wisata.

Proyek ini, menurut pihak Angkasa Pura II tidak boleh tertunda lagi, dari rencana terakhir, September 2013,  hanya karena ganti rugi tanah yang 800 meter tidak terselesaikan. Sebab, proyek yang dimulai pembangunannya 2007 untuk menggantikan fungsi bandara Polonia, sudah menghabiskan dana Rp 4,7 trliun. Rp 3,4 trliun dari anggaran proyek ditanggung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara,  sedangkan sisanya Rp 1,3 trliun adalah investasi dari PT Angkasa Pura II.

“Hanya kerena pembebasan tanah untuk jalan akses sepanjang 800 meter kita harus menanggung rugi, itu sama sekali tidak bisa diterima dengan akal sehat. Harus ada kesediaan masing-masing kita bekerja keras dengan mengorbankan kepentingan sempit,” kata seorang pejabat di Angkasa pura ke “nuga.co.”

Molornya jadwal operasional dan peresmian bandara akan menjadikan tertundanya pertumbuhan angkutan penumpang penerbangan di wilayah Sumatera. Polonia yang kini menghadapi kelebihan kapasitas penumpang dan trafik penerbangan kewalahan untuk beroperasi. Polonia kini dipadati 7, 9  juta penumpang pertahun dari kapasitasnya aslinya 900.000 penumpang.

“Sudah terlalu padat. Tidak layak lagi untuk sebuah bandara penghubung di Indonesia bagian barat,” kata pejabat Angkasa Pura II. Dengan pemaksaan Polonia tetap beroperasi akan menimbulkan ketidaknyamanan penerbangan dan penumpang.

Bila Kuala Namu siap dioperasikan, ia akan mampu menampung penumpang 8, 1 juta penumpang pertahun. Ia akan menjadi pusat pertumbuhan angkutan udara sekaligus menjadi penghubung bagi kelanjutan penerbangan ke berbagai kota yang ada di Indonesia bagian barat ini.

Nantinya, Kuala Namu  akan meningkatkan kunjungan wisataa antar negara dengan tujuan ke berbagai destinasi yang ada di Aceh, Sumatera Barat, Riau mau pun di Sumatera Utara sendiri karena fasilitasnya sangat mendukung.

Khusus fasilitas bandara sendiri, selain kelengkapan bagasi yang sudah sngat modern, bandara juga akan dilengkapi dengan hotel, gerai penjualan berbagai produk dan gerai kuliner yang bercita rasa melayu, minang, dan aceh. Selain akan menjadi tempat transit penumpang bandara Kuala Namu juga disiapkan sebagai bagi wisata kuliner.

 

Komentar