Medan “Bersih” Debu Vulkanik Sinabung

Penulis: Darmansyah

Kamis, 18 Juni 2015 | 09:19 WIB

Dibaca: 0 kali

Laporan wartawan “nuga” di Medan, Arminsyah

Debu vulkanik dari erupsi Sinabung, yang Rabu kemarin menyelimuti Kota Medan, hari ini, Kamis, 18 Juni 2015, mulai menghilang tapi tidak mengurangi kekhawatiran warga terhadap kemungkinan akan datang lagi bersamaan dengan belum berakhirnya erupsi gunung api di Kabupaten Karo itu.

Wartawan “nuga,” di Medan, Arminsyah, Kamis pagi, 18 Juni 2015, melaporkan dari pusat kota bahwa suasana Kota Medan terasa lebih adem setelah kemarin sempat membuat panik.

“Tidak Nampak lagi kendaraan yang melintas diselimuti abu berwarna putih,” tulis Arminsyah dalam laporannya.

Kemarin suasanya sempat membuat warga ketakutan keluar rumah.

Abu vulkanik yang menyelimuti Kota Medan, Rabu kemarin, sudah terlihat sejak pukul 08.00 WIB.
Menurut catatan Arminsyah sejumlah kawasan yang lebih dahulu di lalui debu adalah Kecamatan Medan Tuntungan, Sunggal, Amplas, Polonia, Helvetia, Maimun dan Kecamatan Medan Kota.

Sinabung sendiri hingga Rabu malam sedang memuntahkan awan panas dari mulut kawahnya. Tapi muntahan debunya tidak lagi mengarah ke Kota Medan. Ini disebabkan perubahan arah angin yang lebih ke Tenggara.

Walau pun sempat diselimuti debu vulkanik, aktifitas warga Kota Medan tidak ada yang berubah.
Semua berjalan sebagaimana biasanya.

Akan tetapi masih banyak warga Medan yang belum menyadari dampak dari terpapar atau menghirup debu vulkanik dari gunung Sinabung. Banyak diantara warga yang enggan menggunakan masker, walaupun mereka melihat debu vulkanik itu berterbangan dibawa angin.

Padahal, jika seorang manusia terhirup debu vulkanik, akan mengganggu sistem pernafasan. Sebab debu vulkanik dapat merusak paru-paru manusia.

Sebelum datangnya debu vulkanik itu, pejabat vulkanologi telah merilis bahwa Kota Medan dinyatakan aman dari sebaran debu vulkanik Sinabung.

“Kota Medan aman dari sebaran debu Sinabung,” tulis Arminsyah mengutip rilis pejabat vulkanologi.

Untuk diketahui Gunung Sinabung meletus untuk pertama kalinya, Minggu, 15 September 2013 dan terus berulang hingga sekarang..

Tentang adanya rumor bahwa letusan Gunung Sinabung akan memicu serangkaian letusan gunung di Pulau Sumatera, pejabat vulkanologi mengungkapkan itu hanya isu.

Jika untuk memicu gempa tektonik di sekitar gunung, mungkin terjadi. Tapi erupsi Sinabung sampai saat ini belum ada tanda-tanda kemungkinan akan memicu gempa tektonik. Secara ilmiah, letusan gunung berapi tidak memicu gunung-gunung berapi lainnya, apalagi yang letaknya berjauhan.

Akibat letusan dan erupsi Sinabung terbaru ini, ribuan warga desa di lereng Gunung Sinabung diharuskan mengungsi. Memang ada sebagian dari mereka menolak meninggalkan rumah meski peringatan meningkatnya aktivitas erupsi gunung tersebut.

Sampai tulisan ini ditulis, baru sepuluh ribu dari tiga puluh tiga ribu warga yang tinggal di zona bahaya mengungsi ke tenda pengungsian atau gedung pemerintahan.

Belum ada laporan tentang korban luka dalam erupsi yang terakhir.

Warga desa bersikeras untuk tinggal dan merawat ladang mereka. Mereka yakin bisa menyelamatkan diri jika ada erupsi besar. Yang kami bisa lakukan hanya meminta mereka untuk segera mengungsi.

Gunung Sinabung ditetapkan dalam level aktivitas paling berbahaya dalam dua minggu ini.

Pada hari Selasa, kemarin, Gunung Sinabung mencatatkan empat puluh delapan kali menyemburkan awan panas, paling jauh mencapai tiga kilometer kilometer ke arah tenggara. Gunung ini juga menyemburkan asap dan debu vulkanik setinggi tujuh ratus meter di udara.

Ribuan orang, termasuk para perempuan dengan bayi di gendongan mereka, meninggalkan tempat tinggal mereka sejak Senin setelah aktivitas Gunung Sinabung terus meningkat.

Sejumlah orang yang mengungsi dengan sepeda motor tiba dengan wajah yang dipenuhi debu vulkanik.

Komentar