Medan Kini Dibelit Kemacetan Parah

Penulis: Darmansyah

Rabu, 9 Juli 2014 | 19:59 WIB

Dibaca: 0 kali

Laporan Arminsyah, wartawan “nuga” di Medan
====

Medan mengalami belitan kemacetan parah sejak beroperasi penuhnya kereta bandara, Stasion Lapangan Merdeka – Kuala Namu, selama tiga bulan terakhir, yang menyebabkan terjadinya simpul mati arus kendaraan di kawasan perkotaan.

Simpul mati yang paling membelit, lapor wartawan “nuga” di Medan, Arminsyah, terjadi di simpang Jalan Pandu – Cirebon- Sisingamangaraja hingga berimbas ke Jalan Suprapto – Katamsi dan Jalan Pemuda.
Simpul mati ini juga terjadi di kawasan Jalan Juanda simpang Katamso yang juga berimbas hingga ke berbagai jalan arteri lainnya.

Dilaporkan Arminsyah, Jalan Palang Merah- Palangka Raya hingga Jalan A Yani juga sangat padat hingga meluberkan kemacetan ke Jalan imam Bonjol.

Kemacetan ini, tulis Arminsyah, tidak hanya terjadi di jam sibuk, pagi dan sore, tapi juga merata sepanjang hari. “Dulunya kemacetan tidak menjadi kusut seperti ini. Masih bisa diurai oleh polentas dengan mengatur trafik secara manual.”

Kini kemacetan makin mejadi-jadi karena rute kereta bandara Stasion Lapangan Merdeka – Kuala Namu langsir setengah jam sekali. Langsir kereta api ini menyebabkan terjadinya penumpukan di lintasan rel dan sulit di urai karena jadwal kereta sangat ketat.

Kemacetan juga di perparah oleh ketiadaan kebijakan Pemko untuk memuluskan tanjakan pada lintasan rel. Lintasan rel yang berada di sekitar jalan-jalan utama pelintasan kereta bandara sangat buruk, bergelombang bahkan tak terurus sehingga laju kendaraan tak bisa di percepat.

Akibat buruknya tanjakan pelintasan rel ini terjadi penumpukan kendaraan di lampu stop sehingga memacetkan arus lalu lintas di semua ruas jalan arteri. Akibat kemacetan yang terjadi di semua ruas jalan arteri, mengakibatkan luberannya terjadi di seluruh kota.

Menurut pengamat lalu lintas di Medan, Adrian Panggabean kepada Arminsyah, kemacetan di kota provinsi Sumatera Utara ini sudah sampai pada tingkat “membahayakan.” Ia dengan tandas berani mengatakan, bahwa kemacetan di Medan, terutama di pusat kota sudah menyamai Jakarta.

“Bahkan pada jam-jam tertentu melebihi Jakarta,” kata Adrian.

Pengamat “traffic” itu telah pernah mengusulkan kepada Pemko untuk membuat jalan layang pada setiap pelintasan padat. Ia menunjuk pelintasan Jalan Pandu dan Jalan Palang Merah sudah mutlak dibangun jalan jalan layang.

“Kita gregetan dengan Pemko. Tak ada nyali mereka untuk mengucurkan anggaran untuk membangun jalan laying. Padahal sebagai salah satu kota dengan tingkat pertumbuhan kenderaan tertinggi di Indonesia, Medan seharus sudah membangun laying sepuluh tahun lalu,” katanya.

Yang paling parah justru terjadi di simpang Jalan Pandu – Cirebon- Sisingamangaraja hingga ke Simpang Katamso dan jalan Pemuda. Yang lain, tak kalah kacaunya terjadi di kawasan Jalan Palang Merah- Jalan Cirebon yang mengakibatkan akses Jalan Kereta Api, Palangka Raya hingga arah Pusat Pasar menjadi kacau balau.

Menurut Adrian kepada “nuga” situasi kemacetan di Medan dengan beroperasinya kereta bandara Stasion Lapangan Merdeka – Kuala Namu menjadi dilema bagi Medan. Dilema itu menyangkut antara kebutuhan kereta bandara dengan kondisi daya tamping arus lalu lintas kendaraan di Medan.

“Mereka tak pernah memikirkan dampaknya. Padahal kita sudah mengingatkan di berbagai diskusi, trayek kereta bandara setiap setengah jam akan menjadikan Medan sebagai belanga kacau balau,” kata Adrian.
Dari pantauan Arminsyah, kemacetan di seputar pusat kota medan yang menjadi lintasan kereta bandara kini tidak lagi mengenal waktu. Terjadi sepanjang hari sejak beroperasinya kereta. Bahkan puncaknya terjadi kala sore hingga jam 22.00 WIB.

Memang kacau. Dan hampir tidak ada penanganan. Pemko membiarkan semuanya terjadi.

Kekacauan lalu lintas ini, menurut pengamatan “nuga,” makin menjadi-jadi karena seringnya pemadaman listrik bergilir yang menyebabkan “traffic light” tidak berfungsi. “Kalau lampu pengatur lalu lintas padam jangan tanya lagi betapa kacaunya kota ini, “ gerutu Daus Sembiring, sopir sebuah perusahaan yang bergerak di bidang cargo udara.

Sembiring menuding kereta api yang melintas menuju Bandara Kualanamu setiap 30 menit sekali sebagai biang kemacetan yang tak bisa dihindari.

Sebelumnya pejabat dinas perhubungan Medan sudah berjanji akan menempatkan petugas dan mengimbau pengendara untuk menghindari lewat perlintasan kereta api itu kalau tidak penting sekali. Kalau ada jalur lain, maka kita mengimbau pengendara untuk lewat jalur lain.

Staf itu mengaku tak bisa berbuat banyak, hanya bisa menempatkan petugas di persimpangan jalan menuju perlintasan kereta api itu. Petugas itulah nantinya yang mengatur arus lalu lintas secara manual.

“Kalau pengalihan arus, kita belum bisa pastikan. Lihat dulu situasinya. Kalau memang parlu, maka kita akan lakukan,” urainya.

Solusi untuk mengantisipasi kemacetan tersebut, lanjutnya, adalah membangun underpass atau jalan layang kereta api.

“Solusinya memang membangun under pas atau jalan layang. Pemko Medan sudah mengajukan permohonan pembangunan underpass atau jalan layang itu ke pusat. Tapi, untuk sementara kita akan melakukan pengaturan manual dulu bekerja sama dengan Satlantas Polresta Medan,” sebutnya.

Sedangkan Kasat Lantas Polresta Medan Kompol Budi Hendrawan ketika dikonfirmasi mengatakan, pihaknya juga akan menempatkan petugas di persimpangan jalan, namun melihat situasi dulu.

“Persoalan yang timbul nanti bukan hanya masalah macet. Pasti ada juga mobil mogok di atas rel tersebut. Ini akan bahaya ketika kereta api lewat. Jadi kita juga harus melakukan antisipasi,” katanya.

Budi menambahkan, kalau situasi kemacetan mengerikan, maka akan dilakukan imbauan kepada pengendara untuk menghindari perlintasan kereta api tersebut. Kalau dibutuhkan, mungkin juga akan dilakukan rekayasa lalulintas.

Pemerhati Tata Kota Bakti Alamsyah memprediksi, kemacetan tersebut memang tidak bisa dihindari lagi. Bukan hanya di situ, seputaran Lapangan Merdeka diperkirakan akan mengalami kemacetan luar bisa.

“Sepertinya kita memang belum siap untuk menghadapi Bandara Kualanamu itu. Persoalannya adalah, pembangunan sarana pendukungnya tidak dipikirkan sebelumnya. Mengandalkan pengaturan manual itu tidak akan efesien,” tegasnya

Komentar