close
Nuga Region

Erupsi Sinabung Makin Ganas

Sepanjang Rabu, 08 Januari 2014, Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, sepertinya berdiam sejenak, setelah kemarin, hari Selasa, terjadi erupsi yang tidak hanya menyebarkan abu vulkanik tetapi juga disertai kerikil dan pasir yang menyebabkan terjadinya hujan lumpur.

Penduduk yang radius desnya berada lebih dari lima kilometer dari Sinabung, setelah selama kemarin tinggal di rumah atau tempat pengungsian, Rabu pagi, kembali ke lahan-lahan pertanian dan perkebunan mereka di tengah ancaman udara mendung dan kemungkinan terjadinya lagi erupsi dan semburan awan panas.

Luncuran awan panas yang terjadi Selasa mencapai jarak empat kilometer ke arah tenggara. Warga Desa Tiga Pancur, Kecamatan Simpang Empat, kepada wartawan “nuga.co,” Arminsyah, yang datang di tengah hujan lebat yang disertai pasir dan batu berbentuk lumpur, mengatakan luncuran tersebut terjadi sangat cepat tanpa disertai lontaran debu vulkanik seperti kejadian biasanya.

Hingga sore Arminsyah yang bergabung dengan mantan wapres Jusuf Kalla terpaksa memakai mantel dan penutup kepala untuk menghindari timpukan hujan pasir dan kerikil. Mobil yang ditumpangi Arminsyah berdetak-detak ketika disiram hujan.

“Suasananya sangat menyengsarakan. Kami berpindah dari satu pos pengungsian ke lokasi pengungsian yang lain,” tulis Arminsyah lewat surat elektroniknya.

Menurut Arminsyah, hingga Rabu status Sinbanung yang dikeluarkanm Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi aktivitaasnya tetap “Awas”. Dengan status ini, warga dilarang berada di radius lima kilometer dari kawah gunung.

Arminsyah juga mencatat, jumlah pengunsi sampai dengan hari ini sudah sangat besar. Tercatat 22.000 orang yang tersebar di dua puluh titik.Bahkan penduduk Desa Tiga Pancur, yang kampungnya berada di luar jangkauan erupsi juga ikut mengungsi.

Sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia Pusat, M Jusuf Kalla kepada wartawan dihadapan pengungsi, hari Rabu pagi, ia menyatakan, erupsi Sinabung belum bisa ditetapkan sebagai bencana nasional. Alasannya, penanggulangan bencana masih mampu diatasi oleh jajaran di tingkat kabupaten dan provinsi.

“Kalau kabupaten dan provinsi tidak lagi mampu menanggulangi karena skala bencananya sangat besar dan memakan banyak korban, maka erupsi Gunung Sinabung baru bisa dikategorikan bencana nasional,” ujar Kalla.

Rombongan Kalla menyertakan pula Kepala Bidang Penanggulangan Bencana PMI Pusat Soemarsono dan sejumlah pakar. Selain pengamat sosiologi politik Thamrin Thamagola, dalam rombongan ini terdapat pakar manajemen Rhenald Kasali, pakar kebijakan umum Andrinov Chaniago, dan Pembantu Rektor II Universitas Paramadina Wijayanto Samirin.

Menurut mantan Wakil Presiden Indonesia ini, alasan letusan Sinabung belum dapat masuk kategori bencana nasional juga karena belum ada letusan besar dan korban jiwa. “Ini bedanya dengan di Gunung Merapi, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kalau di Sinabung ini, warganya lebih siap sehingga saat terjadi erupsi, mereka bisa segera diungsikan sehingga tak ada korban jiwa,” ujar Kalla.

Sebelumnya, dalam laporannya, Ketua PMI Sumut Rahmat Shah berharap letusan gunung ini segera dinyatakan masuk kategori bencana nasional. Alasan yang dia kemukakan adalah banyaknya pengungsi dari peristiwa alam tersebut. Hingga Selasa, jumlah pengungsi akibat letusan Gunung Sinabung tercatat mencapai lebih dari 22.000 jiwa.

“Apakah mereka harus kembali ke rumahnya di desa atau direlokasi. Ini mungkin Pak JK bisa menjelaskan apakah aktivitas Sinabung sudah bisa dikategorikan sebagai bencana nasional,” ujar Rahmat.

Dua mahasiswi Universitas Methodis Medan, Sisca dan Rosy, Rabu pagi menangis di hadapan Ketua PMI Pusat M Jusuf Kalla, di Gereja Kristen Batak Karo. Mereka sudah satu bulan meninggalkan kampus karena tidak mampu membayar biaya kuliah, akibat menjadi pengungsi erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumut.

“Kami tidak berani datang ke kampus karena sudah tidak membayar kuliah sejak mengungsi. Kebun orangtua kami rusak akibat debu Gunung Sinabung. Jadi, kami minta bantuan keringanan uang kuliah,” kata Sisca, yang datang bersama rekannya Rosi.

Menurut Sisca, biaya kuliahnya satu juta rupiah juta per semester. “Kami ada sekitar 40 mahasiswi,” tambah Sisca.Mendengar keluhan itu, Jusuf Kalla terlihat mencatat dan lantas berjanji akan membantu.

Selain itu, ada seorang ibu pengungsi di Gereja Katolik Kabanjahe yang diberi kesempatan berbicara. “Tentu, kedatangan Pak JK bersama rombongan digerakkan oleh Tuhan. Tabungan kami sudah habis untuk hidup di lokasi pengungsian. Terima kasih atas bantuannya,” ungkap ibu itu.

Lalu, di Masjid Agung Kabanjahe, Kalla juga menemui sekira 600 pengungsi. “Saya ikut prihatin dengan kondisi bapak dan ibu semua. Kita semua tidak tahu sampai kapan Gunung Sinabung ini erupsi. Tetapi, doa saya, semoga cepat selesai dan berakhir dengan baik sehingga semuanya bisa kembali ke desa tanpa kekurangan suatu apapun,” ujar Kalla.

Dalam kesempatan itu, Kalla dan PMI Pusat dan daerah memberikan sejumlah bantuan, antara lain obat-obatan, bahan makanan. Ada pula bantuan berupa material bahan bangunan yang bakal digunakan saat erupsi Sinabung kembali normal.

Tags : slide