“Bosan-nya Kami Disini Bang!….”

Penulis: Darmansyah

Selasa, 21 Januari 2014 | 14:15 WIB

Dibaca: 0 kali

Suasana di sebeuah lokasi pengungsian Sinabung di Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumut, ketika di kunjungi wartawan “nuga.co” di Medan, Arminsyah

“Bosannya kami terus di pengungsian ini bang!….”
Jawaban di atas sangat khas “batak.” Langsung, tidak memutar, dan sulit untuk merumuskan jawabannya. Itulah yang di pungut wartawan “nuga.co,” di Medan, Arminsyah, ketika datang ke posko pengungsian di Kabanjahe dan Brastagi, Selasa, 21 januari 2014, sebelum SBY datang, dan bercakap-cakap dengan Mulia Sembiring tentang kondisinya di penampungan, di sebuah gereja di Kabanjahe.

Penduduk Desa Guru Kinayan itu, sudah dua bulan lebih, bersama istri dan tiga anaknya “tidur makan” di sana. “Bukan soal makannya yang kami persoalkan. Nun di sana itu. Rumah dankebun kami telantar,” ujar mengarahkan telunjuknya ke barat Gunung Sinabung yang terus mengeluarkan awan panas dan semburan abu vulkanik.

Menurut Mulia Sembiring, rumah yang ia bangun selama bertahun-tahun, kini, tak bisa lagi ditinggali. Ladang tempat ia bertanam sayur mayor dan hortikultura sudah mampus akibat debu vulkanik erupsi Sinabung.

Dengan suara sendu, Mulia memelas, tak ada lagi tempatnya mencari penghasilan tetap. “Kondisi kami sekarang sudah rusak semuanya,” kata Mulia.

Mulia adalah satu dari ribuan petani yang kini benar-benar sudah terkapar oleh keganasan Sinabung. “Kami dibunuh pelan-pelan. Dibunuh oleh status awas dan waspada. Matilah kami semuanya disini,” ujar lelaki yang memiliki dua hektar kebun sayur dan satu hektar kebun hortikultura.

Sebelumnya, Mulia mengatakan, hasil kebun yang ia dapatkan lebih dari cukup untuk membiayai kehidupannya. Bahkan, dari hasil pertaniannya itu ia bisa menyekolah satu dari tiga anaknya ke Medan.

“Kini anaknya yang kuliah di Medan itu sudah ngos-ngosan untuk membiayai hidup. Satu dua sepeda motornya sudah di leong. Masih bisa kuliah. Tapi kalau begini terus mampuslah aku,” ujarnya lagi.

Rumah dan kebun Mulia termasuk dalam kawasan bahaya. Hanya tiga kilometer dari Sinabung. Selama lebih dari dua bulan ia tinggal di pengungsian, Mulia tidur di sebuah tenda besar bersama ratusan pengungsi lainnya. Istrinya tinggal di tenda pengungsi perempuan, persis di sebelah tendanya.

Selama mengungsi, sebenarnya Mulia masih bekerja, dengan mendapat upahan menggarap ladang warga di sekitar pengungsian. Upah yang diperoleh digunakan untuk menutup kebutuhan yang tak tersedia di posko pengungsian, sisanya ditabung. Itu pun, kalau ada yang tersisa untuk ditabung.

Kebutuhan pengungsi di posko ini relatif terpenuhi dibandingkan posko lainnya. Lokasinya tak terlalu jauh dari Gedung DPRD Kabupaten Karo yang tak lain adalah posko utama, tempat pendistribusian bantuan.

Sumber air bersih di posko ini juga terbilang cukup. Bagi Lista, hal yang paling membuatnya khawatir adalah saat Sinabung telah sembuh dari “batuknya”, dan kembali ke kediamannya. Tak tahu harus kembali ke mana. Kondisi rumahnya tak memungkinkan untuk ditinggali. Ladang sebagai sumber mata pencaharian rusak dilibas abu vulkanik.

Hanya harapan yang menyemangatinya. Harapan akan ada bantuan untuk kembali membangun rumah dan ladangnya, serta jaminan dari pemerintah untuk kehidupan yang lebih baik setelah mengungsi.

“Di tempat kami sudah enggak ada yang bisa diambil, kami lumpuh total. Kami cuma ingin setelah ini bisa dijamin hidup lebih baik,” katanya.

Berlainan dengan Mulia Sembiring. Seorang pengungsi lain, di Jalan Jamin Ginting arah ke Brastagi, Arminsyah bertemu dengan Kasur Tarigan. Lelaki dari Desa Berastepu, Kecamatan Simpang Empat ini, tak banyak bicara.

Ia merasa sangat tertekan.. Raut wajahnya muram. Ada risau yang mengambang dari wajahnya.s. Dari obrolan sesudahnya, dia mengaku digelayuti pikiran soal ladang dan rumah yang dihantam debu vulkanik Sinabung sejak tiga bulan lalu.

Sejak gunung itu mulai “batuk”, lokasi rumahnya masuk kawasan berbahaya. Bahkan sejak status aktivitas gunung itu masih Siaga. “Setengah rumah kami sudah tertimbun debu. Kami takut rumah itu ambruk,” kata Kasur.

Hidup keluarga ini pun, sejak itu langsung berubah.. Di pengungsian, kenyamanan adalah barang langka. Kasur tidur beralaskan selembar matras. Semua semakin serba prihatin.

Selama di pengungsian, Kasur mengaku mendapat cukup bantuan. Makanan tersedia, meski seadanya. Demikian pula obat-obatan.

Hanya ada satu masalah, sebut dia, yakni air bersih. Untuk mendapatkan air bersih, dia harus membeli di rumah warga yang berdekatan dengan pengungsian.

Ladangnya, sama seperti yang dialami Mulia. Panen cabai, jagung, dan kopi raib. Pria berperawakan jangkung ini sudah kehilangan nafkah. Dengan suara parau, dia mengaku tak terlalu pusing dengan kondisi pengungsian.

Tentang kunjungan SBY, baik Mulia maupun Kasur mengaku ada banyak hal yang ingin dia sampaikan. Presiden SBY mau menjamin pemulihan kehidupan para pengungsi setelah letusan Gunung Sinabung berlalu.

Mulia dan Kasur adalah dua di antara puluhan ribu warga yang harus mengungsi dalam tiga bulan terakhir karena letusan Gunung Sinabung. Para pengungsi ini sadar, harta yang hilang tak akan gampang diraih kembali.

“Kami ikhlas yang sudah berlalu. Tapi kalau Presiden ke sini, ada banyak hal yang ingin kami sampaikan. Buat kami, yang penting masa depan mereka anak-anak.”

Komentar