Abu Sinabung Menutupi Medan

Penulis: Darmansyah

Minggu, 24 November 2013 | 15:04 WIB

Dibaca: 0 kali

Untuk pertama kalinya sejak meletus, tiga pekan lalu, abu yang dilontarkan oleh letusan Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Minggu, 24 November 2013, membuat Kota Medan berkabut. Hingga siangnya, menurut laporan kontributor “nuga.co,” di Medan, Arminsyah, lewat surat elektroniknya, masih diliputi suasana “kabut.”

Abu vulkanik letusang Sinabung ini meyenyebar sejak Sabtu malam yang dibawa angin ke ibu kota provinsi. Abu itu belum membahayakan kesehatan warga.

Kondisi serupa juga pernah dirasakan warga Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh yang menerima abu vulkanik Sinabung akibat tiupan angin menuju daerah itu. Terkadang, Kota Kabanjahe yang dekat dengan Sinabung tidak terkena, tetapi Kota Brastagi yang lokasinya lebih jauh yang kena akibat pengaruh tiupan angin itu.

Pemkot Medan, menurut Arminsyah, telah mengeluarkan rilis agar penduduk tidak panik.. “Jangan panik, tetap tenang. Ini hanya fenomena alam,” tulis rilis Pemko Medan Minggu siang.

Pemerintah menaikkan status Gunung Sinabung dari siaga (level III) menjadi awas (level IV) terhitung sejak Minggu (24/11/2013). Status ini merupakan status bahaya paling tinggi untuk kategori gunung api.

Arminsyah, yang mengutip, penjelasan yang dikeluarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pukul 10.00 WIB, mengabarkan status Sinabung sudah berada pada tahap “awas.” Perkembangan status awas ini sudah disampaikan ke berbagai pihak, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

“BNPB bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumut, Komandan Tanggap Darurat Erupsi Gunung Sinabung, segera mengambil langkah-langkah terkait kenaikan status gunung api tersebut,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, Minggu menjelang siang.

Status awas merupakan status tertinggi untuk gunung api dilihat dari aktivitas vulkaniknya. Gunung Sinabung yang berada di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mendapatkan status ini karena diindikasikan aktivitasnya terus meningkat. Status baru ini juga mengindikasikan akan ada peningkatan intensitas letusan dan makin meluasnya lontaran material berukuran 3-4 cm hingga mencapai jarak 4 km.

“Direkomendasikan masyarakat yang bermukim di radius 5 kilometer dari kawah Gunung Sinabung untuk diungsikan terlebih dahulu. Perkiraan awal sekitar 15.000 jiwa masyarakat yang tinggal di radius 5 km harus mengungsi. Saat ini persiapan evakuasi sedang disiapkan,” kata Sutopo.

Setelah cukup lama tidak aktif, Gunung Sinabung meletus untuk pertama sekali pada 29 Agustus 2010. Setelah berhenti selama tiga tahun, Sinabung kembali meletus lagi sejak September lalu dan mendapatkan status tertinggi yakni awas sejak hari ini.

Oekan lalu, terjadi berkali-kali erupsi Sinabung. Kegiatan Sinabung sangat aktif dan sulit diprediksi. :Sangat aktif, tulis Arminsyah seperti ia kutip dari petugas pemantau di Kabanjehe.

Erupsi paling eksplosif dari Sinabung pernah melontarkan abu vulkaniknya setinggi 10.000 meter. Erupsi tersebut disertai getaran dan suara gemuruh yang terasa hingga Kecamatan Berastagi yang berjarak lebih kurang dua puluh kilometer dari puncak Gunung Sinabung.

Bahkan dari radius empat kilometer, terlihat kilatan api berwarna merah dan ungu. Kejadian itu setidaknya terlihat sampai lima kali. Erupsi tersebut disertai luncuran awan panas sepanjang 500 meter dan disertai lontaran lava pijar.

Warga yang mendengar suara gemuruh itu pun berlarian keluar rumah. Mereka panik dan ketakutan. ”Besar sekali suaranya. Tidak apa-apakah di sini?” kata Nora Sitepu (23), warga Berastagi.

Seusai erupsi, terjadi hujan abu berwarna abu-abu gelap hingga radius 7 kilometer dari puncak Sinabung. Desa Tiga Pancur, Ujung, Perteguhan, dan Gajah, Kecamatan Simpang Empat pun dihujani abu.

Komentar