Wukuf di Arafah Berlangsung Khidmat

Penulis: Darmansyah

Senin, 14 Oktober 2013 | 18:13 WIB

Dibaca: 26 kali

Puncak ibadah haji, wukuf di Padang Arafah, Senin, 14 Oktober 2013, siang waktu Mekkah, berlangsung khidmat. Tak ada insiden ditempat berkumpulnya tiga juta manusia dari berbagai bangsa, berbagai negara dan berbagai ras.

Sebuah ritual yang maha agung maknanya. Maha agung pesonanya. Dan maha agung kemuliaannya.

Para jamaah yang berada di luar tenda berkumpul di Jabal Rahmah dan Masjid Namirah. Mereka ingin memanjatkan doa di tempat terbuka. Berkumpulnya para jamaah di Masjid Namirah karena ingin mendekatkan diri pada ritual yang pernah di lakukan Rasulullah. Rasul ketika berhaji mendirikan tenda di pinggiran Masjid Namirah, yang kini berada.

Sejak kemarin hingga pagi tadi tiga juta mansuia, hampir dua juta datang dari luar Arab, meninggalkan Mekkah. Ada yang naik bus dengan rute Mekkah Arafah dan ada dengan berjalan kaki lewat Mina-Muzdalifah dan Arafah. Mereka menjalani ritual ini seperti dilakukan Rasulullah dengan bermalam di Mina.

Sedangkan bagian terbesar dari jemaah calon haji lengasung menuju Arafah lewat rute yang lainnya. Keduanya, hanya pilihan. Prosesinya bernilai sama. Menuju Arafah untuk melaksanakan wukuf. Dan wukuf sendiri adalah puncak dari haji.

juta juta jamaah haji telah berkumpul di Padang Arafah pada Senin, 14 Oktober 2013. Mereka melakukan wukuf yang menjadi puncak ritual haji yang dilakukan pada 9 Zulhijah.

“Arafah mewakili esensi haji,” kata Bilal Philips, pendiri Islamic Online University, pada Alarabiya. Jika seorang jemaah calon haji luput melakukan wukuf di Arafah, maka berarti dia meninggalkan salah satu rukun penting dalam pelaksanaan ibadah haji.

Dengan kata lain, haji yang dilakukannya tidak sah. “Maka, dari perspektif berhaji, wukuf di Arafah adalah pilar yang sangat penting,” dia menambahkan.

Jamaah Indonesia sendiri di masing-masing tenda mereka mengadakan kegiatan sejenis dan memanjatkan doa-doa. Mereka memanfaatkan waktu-waktu mustajab ini dengan sebaik-baiknya. Wukuf di Arafah akan berlangsung hingga terbenam matahari.

Bersamaan dengan bergeraknya jamaah calon haji ke Arafah, untuk kemudian malamnya ke Muzdalifah “mabit,” serta melanjutkan perjalanan ke Mina melempar jumrah.

Sebagian kecil dari jamaah, usai jumrah “aqaba,” akan langsung turun lagi ke Mekkah untuk tawaf ifadah, atau tawaf ziarah, dan seterusnya sai dan memotong rambut. Maka, bagi mereka yang melaksanakan ibadah secara beruntun ini selesailah seluruh esensi hajinya. Mereka hanya akan melakukan satu lagi ritual, tawaf perpisahan.

Bagi jamaah haji Indonesia urutan ritual ini tidak dilakukan secara missal. Selain memerlukan fisik yang prima juga dibutuhkan kecermatan menghitung waktu kembali. Biasanya jamaah calon haji Indonesia baru melaksanakan tawaf ifadah setelah kembali dari bermalam di Mina.

Bergeraknya para jamaah ini ke Arafah-Muzdalifah dan Mina, Mekah ditinggal sementara. Di saat sepi seperti ini, kiswah, kain penutup Ka’bah yang menyelubungi bangunan persegi empat itu, akan diganti.

“Kiswah akan diganti pada Senin sebagai tradisi tahunan,” kata pejabat kerajaan Arab Saudi seperti dilansir Alarabiya, Senin, 14 Oktober 2013.

Kiswah menyelubungi Ka’bah selama musim haji. Beratnya kiswah sekitar 670 kilogram dan dibuat dari sutera murni dan dicelup warna hitam dan ditambahkan dengan katun putih. Ayat-ayat Al-Qur’an disulam pada kiswah dengan menggunakan benang emas murni.

Direktur umum pabrik kiswah, Mohammed Abdullah Pajudeh, mengatakan ada lebih dari 240 pekerja yang terlibat dalam pembuatan kiswah tahun ini. Biaya pembuatan kiswah setiap tahunnya ditaksir lebih dari 22 juta Riyal Saudi.

Pajudeh juga mengatakan 700 kilogram sutera dan 120 kilogram perak dan serat emas digunakan dalam pembuatan kiswah.

Pada 1927, Raja Saudi King Abdul Aziz memerintahkan pembangunan pabrik yang dimaksudkan untuk pembuatan kiswah Ka’bah. Pabrik ini menjadi saksi selama puluhan tahun pembuatan kiswah menjadi bentuknya dan kualitasnya yang terbaik.

Sebagai bagian rukun haji, setiap jemaah akan melakukan tawaf dengan Ka’bah sebagai pusatnya. Kaum Muslim menghormati Ka’bah dan percaya itu adalah bangunan yang didirikan Nabi Ibrahim dan puteranya Ismail untuk menyembah Tuhan yang tunggal.

Komentar