Umat Islam Usir Ziarah Yahudi di Al Aqsa

Penulis: Darmansyah

Senin, 27 Juli 2015 | 09:47 WIB

Dibaca: 0 kali

Masjid Al Aqsa kembali, Minggu malam, 26 Juli 2015, waktu setempat, menjadi arena perang antara peziarah Yahudi di hari Kenisah dengan umat Islam yang menghadang mereka dengan lemparan batu sebagai wujud perlawanan “intifadah”

Polisi Israel yang melerai pertikaian itu dengan memihak kepada komunitas Yahudi, memasuki mesjid Al Aqsa di Jerusalem, yang merupakan salah satu tempat tersuci umat Islam.

Saat polisi melakukan kekerasan, bentrokan masih berlangsung ketika para pejuang Islam menutup akses orang Yahudi ke kompleks mesjid itu pada hari berkabung tahunan Yahudi.

Orang-orang Palestina melemparkan batu dan mercon sementara polisi menembakkan granat kejut setelah pasukan keamanan memasuki kompleks Al Aqsa sebelum sempat masuk ke dalam mesjid itu.

Polisi mengatakan, mereka masuk beberapa meter ke dalam mesjid untuk menutup sejumlah pintu dalam upaya memulihkan ketenangan dan mengunci para perusuh yang berada di dalamnya.

Lebih dari tiga ratus personel keamanan memasuki kompleks itu ketika bentrokan terjadi dengan beberapa ratus orang Palestina, lapor seorang fotografer AFP.

Kementerian luar negeri Palestina mengecam pemerintah Israel karena memungkinkan apa yang mereka gambarkan sebagai kunjungan “provokatif” oleh orang-orang Yahudi garis keras.

Ini pertama kalinya pasukan keamanan Israel memasuki mesjid itu sejak November tahun lalu, saat bentrokan dengan jemaah juga terjadi.

Ada sejumlah korban dan orang yang ditangkap pada bentrokan hari ini, yang terjadi saat sejumlah orang Yahudi berusaha mencari akses ke kompleks mesjid itu pada Tisha B’av, hari untuk memperingati kehancuran pertama dan kedua apa yang oleh orang Yahudi disebut sebagai kenisah itu.

Orang-orang Palestina marah dengan apa yang mereka anggap sebagai gangguan oleh orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi boleh berkunjung ke kompleks itu tetapi mereka dilarang untuk berdoa di sana.

Kompleks di puncak bukit di dalam Kota Tua Yerusalem itu, yang merupakan salah satu titik ketegangan di Timur Tengah, merupakan situs paling suci dalam Yudaisme dan ketiga tersuci dalam Islam, setelah Mekkah dan Madinah. Orang Yahudi menyebut tempat itu Temple Mount atau Bukit Kenisah.

“Para perusuh bertopeng melarikan diri ke dalam mesjid dan mulai melemparkan batu kepada polisi dari dalam Al Aqsa,” kata polisi dalam sebuah pernyataan.

“Mereka melemparkan mercon ke arah polisi … Karena konfrontasi itu dan tindakan para perusuh yang meningkat dan dengan tujuan mencegah cedera lebih lanjut pada polisi … pasukan memasuki mesjid beberapa meter dan menutup pintu-pintu mesjid, demi memulihkan ketertiban.”

Polisi mengatakan, setelah serangan singkat mereka ke mesjid itu, mereka lalu menarik diri dan daerah itu pun tenang. Akses ke tempat itu kemudian dibatasi.

Protes pecah di jalur dan lorong-lorong kota tua di sekitar masjid. Para demonstran berhadapan dengan polisi. Polisi menembakkan granat kejut.

Sejumlah orang bersumpah untuk melindungi Al Aqsha.

“Kami siap mati,” kata Khaled Tuffaha, seorang Palestina pemilik toko.

“Semua orang sudah siap mati.”

Seorang mahasiswa Yahudi belia, yang membawa kitab Taurat dan mengatakan dia berada di dalam kompleks saat bentrokan, berpendapat bahwa orang-orang Yahudi dan Muslim harus berbagi akses.

“Satu hari untuk orang Yahudi, satu hari bagi umat Islam,” kata mahasiswa itu, Josef Maklov.

Polisi mengatakan, seorang pria muda Yahudi berusaha untuk masuk sambil mengenakan filakteri, kotak kulit kecil yang berisi teks-teks suci yang dikenakan oleh laki-laki Yahudi Ortodoks saat berdoa.

Saat diberitahu untuk menyingkirkan filakteri itu, pria tersebut menolak dan memegang pagar, menggigit seorang polisi yang mencoba untuk menyingkirkan dia sebelum pria itu kemudian ditangkap.

Setidaknya tiga pelempar batu ditangkap dan empat polisi terluka ringan, kata pihak berwenang.

Pasukan polisi telah dikerahkan di Kota Tua semalam karena takut terjadi kerusuhan saat ribuan orang Yahudi berbondong-bondong ke Tembok Barat untuk upacara doa tahunan.

Setelah polisi Israel memasuki mesjid itu pada November, Jordania, salah satu dari sedikit negara-negara Arab yang punya hubungan diplomatik dengan Israel, menarik duta besarnya.

Israel merebut Jerusalem timur dalam Perang Enam Hari tahun 1967 dan kemudian mencaploknya dalam sebuah langkah yang tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.

Israel menganggap seluruh Jerusalem sebagai ibukotanya yang tak terpisahkan, tetapi Palestina mengklaim sektor timur kota itu sebagai ibukota negara masa depan mereka.

Komentar