‘Tsunami’ di UOB

Penulis: Darmansyah

Minggu, 20 Januari 2013 | 09:13 WIB

Dibaca: 0 kali

PLAZA UOB Berduka. Tiba-tiba terdengar teriakan histeris. “Ada air, ada air.” Air berwarna cokelat kehitaman bergemuruh, bergulung-gulung, menghantam tempat parkir seperti tsunami kecil. “Airnya deras sekali,” kata Irman, mengenang petaka di Plaza UOB itu.

Irman, lelaki berusia 40 tahun itu, sedang memarkir mobil dengan girang di basement 1 Plaza UOB di Jalan Sudirman, Jakarta, Kamis, 17 Januari lalu. Jam baru menunjuk ke angka 10.

Sopir yang bekerja untuk Bank UOB itu langsung memacu mobilnya. Mobil yang dikendarainya berhasil menerobos air yang masuk dengan gemuruh. Ia lolos karena ketinggian air baru setinggi 25 centimeter.

Menit-menit berikutnya, air berhembalang. Melumat. Melibas semua yang ada di lantai basement 1, 2, dan 3 . Tak terkecuali kantor-kantor di sana. Di basement 1 dan 2 terdapat sejumlah kantor, dari restoran, gereja, musala, hingga toko buku.

Adapun di basement 3 hanya terdapat tempat parkir mobil dan kantor pengelola parkir. Saat air masuk, sebenarnya ada peringatan. Tapi tak semua selamat. Air kelewat deras. Tiga orang teknisi terseret. Ironisnya, hilangnya tiga orang itu baru diketahui sehari kemudian.

Sudah 24 jam berlalu. Air masih menyesaki ruang-ruang basement. Dheni Suncoko, petugas evakuasi korban banjir dari Komando Distrik Militer Jakarta Pusat, nyaris putus harapan. Hanya ada gelap di sana.

Tim evakuasi sempat merusak lift untuk masuk ke basement. “Kami juga tidak bisa menyelam lama. Selain jarak pandang terganggu, oksigen pun terbatas. Hanya untuk 20 menit,” kata Mat Kholis, rekan Dheni, menambahkan.

Mukjizat itu datang pagi-pagi, Sabtu dinihari. Saat itu ruang antara air dan plafon basement sudah “terbuka” 40 sentimeter. Dheni, Mat Kholis, dan tiga rekannya menyelam menyusuri tiga basement. Mereka mencari dengan panduan petugas cleaning service yang selamat, Tri Santoso. Lelaki ini lolos dari cengkeraman “tsunami” karena mengapung dengan ban dalam mobil.

Dalam kegelapan, Dheni memanggil korban. Tiba-tiba Dheni tergetar saat sayup-sayup terdengar sahutan balasan yang pelan, “Oiii…,” Dheni menirukan suara Tito Fitranto, salah satu korban. Mereka menyelam menuju asal suara dan menemukan Tito bergantung lemas di pipa di basement 1.

Kepalanya menghadap kipas peniup udara. Dia masih hidup. Lebih dari 36 jam warga Kampung Bulak, Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur, itu bertahan di sana. Keluarganya histeris menyambut karyawan yang sudah empat tahun bekerja sebagai teknisi di UOB itu .

Semakin siang, air semakin surut. Hal itu memudahkan Dheni dan Mat Kholis menyelam. Sabtu pukul 06.00 pagi, mereka menemukan jenazah Abdul Haris Agus, 40 tahun, ditemukan tak jauh dari lokasi ditemukannya Tito. Sembilan jam kemudian, korban terakhir, Herdian Eko, 27 tahun, warga Kelurahan Pasar Manggis, Setia Budi, ditemukan mengambang di basement 3

Komentar