TNI AU Tahan Pesawat Militer AS di Bandara SIM

Penulis: Darmansyah

Senin, 20 Mei 2013 | 21:57 WIB

Dibaca: 0 kali

Pesawat militer jenis “Dornier” 328 milik militer Amerika Serikat yang terbang dari Srilanka, dengan tujuan Singapura, mendarat darurat tanpa izin di Bandara  Sultan Iskandar Muda.Pendaratan pesawat yang mengejutkan para petugas lapangan itu menyebabkan petugas Lanud  menahan pesawat militer tersebut.

Pendaratan pesawat tanpa izin ini, di duga karena kehabisan bahan bakar. “Mereka ingin  mengisi bahan bakar,” kata sebuah sumber di Lanuda Blang Bintang. Petugas  pangkalan udara dengan segera melakukan pemeriksaan kelengkapan dokumen pesawat  yang ditumpangi dua warga sipil dan tiga tentara AS.

“Ketika kami periksa dokumen penerbangannya, mereka tidak bisa menunjukkan,” kata Komandan Lanud Bandara Sultan Iskandar Muda, Kolonel Supriabu pada wartawan, Senin siang.

Sebenarnya pesawat dengan nomor penerbangan magma 01 sudah tertangkap radar saat melintas di udara Aceh. Mereka meminta izin untuk mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, karena kehabisan bahan bakar.

Namun ketika mendarat, mereka tidak bisa menunjukkan izin,  yang  merupakan kewajiban pendaratan yang biasanya  diperoleh  dari Mabes TNI dan Kementerian Luar Negeri.

Petugas melakukan penahanan sementara terhadap  pesawat dengan nomor registrasi US 305 itu. Pesawat dengan kapasitas 15 penumpang ini baru akan diizinkan kembali terbang ke daerah tujuan jika awak pesawat sudah bisa menunjukkan surat administrasi dan izin terbangnya.

Petugas juga melakukan interogasi terhadap pilotnya,  yang bernama  Tutle Colton Timothy, yang berpangkat “captain” berkewarganegaraan Amerika Serikat..

“Semua awak pesawat ini tidak diizinkan meninggalkan pesawatnya hingga dokumen yang dimintakan bisa ditunjukkan,” ujar Supriabu.

Pesawat itu, menurut Supriabu,  mendarat sekitar pukul 14.30 WIB, dalam perjalanan dari Srilanka dengan tujuan Singapura. “Setelah diperiksa, mereka tak punya izin. Kami memberikan petujunjuk agar mereka mengurus  izin,” ujarnya.

Pesawat itu membawa lima personil yang terdiri dari dua berstatus sipil dan tiga lainnya tiga militer. Personil pesawat itu  berencana menginap di Banda Aceh, “Tapi kami larang,” ujar Supriabu. Izin keberadaan mereka kemudian diproses ke Markas Besar TNI dan Kementerian Luar Negeri. Setelah ada izin mereka disuruh kembali terbang, tak boleh menginap. Izin baru difax dari Jakarta sekitar pukul 17.30 WIB. “Karena pesawat  militer dan personilnya ada yang militer, harus ada izin Mabes,” ujarnya.

Kendati demikian, kata Supriabu, untuk upaya perizinannya terbang kembali dibutuhkan  proses diplomatik. Ini diproses oleh Kedubes AS di Jakarta kepada  pemerintah.

Kelima awak pesawat warga negara Amerika Serikat adalah Tutle Colton Timothy (pilot/laki-laki), Priest Chyntia Ellizabeth (co-pilot/perempuan), Faire Loren Mattjew (teknisi/laki-laki), Moreno David Antonio (laki-laki) dan Sanchez Gaona Diego (laki-laki).

 

Komentar