close
Nuga News

“Tjakra Donya,” Lonceng Hadiah Cheng Ho

Aceh bukan hanya terkenal pantai dan wisata alamnya. Bermacam situs sejarah yang tersimpan di berbagai lokasi yang bernilai sejarah tinggi.

Salah satunya ialah Lonceng Cakra Donya yang terletak di Museum Aceh, Banda Aceh.

Bagi masyarakat Aceh, lonceng bersejarah yang dibuat pada tahun 1409 Masehi itu sudah tidak asing lagi.

Lonceng berbentuk stupa, setinggi seratus dua pula lima  sentimeter dan lebar dua puluh lima sentimeter.

Masih kokoh tergantung di halaman Museum Aceh. Inilah saksi bisu kekuatan armada militer Kerajaan Aceh Darussalam di masa jayanya

Berdasarkan catatan sejarah, lonceng itu adalah hadiah Kaisar Yonglee yang berkuasa di daratan Tiongkok kepada Kerajaan Samudra Pasai, sebagai wujud persahabatan kedua kerajaan.

Lonceng itu diantarkan langsung oleh Laksamana Ceng Ho ketika melawat ke Aceh guna membangun kerja sama dalam bidang keamanan dan perdagangan.

Karena itu, armada laut yang dimiliki Kerajaan Samudera Pasai sangat kuat, bahkan memiliki kapal induk terbesar di dunia yang akhirnya direbut oleh kerajaan dari Portugis lalu diserahkan ke Spanyol.

“Tetapi lonceng ini tidak direbut oleh Portugis karena ini adalah hadiah termegah dari kerajaan China dan bentuk ikatan persahabatan dengan China.”

“Mungkin dengan pertimbangan itu, lonceng ini tidak pernah direbut oleh penjajah mana pun,” kata Tarmizi Abdul Hamid, seorang kolektor manuskrip Aceh

Saat Kerajaan Pasai takluk di tangan Kerajaan Aceh Darussalam pimpinan Sultan Ali Mughayatsyah, lonceng itu disita dan dibawa ke Koetaradja, pusat Kerajaan Aceh Darussalam. Pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda.

Lonceng itu awalnya diletakkan di atas kapal perang Sultan Iskandar Muda bernama Cakra Donya, kapal induk milik armada Aceh pada waktu itu.

Karena ukurannya yang sangat besar, Portugis pernah menyebutnya dengan nama Espanto del mundo atau teror dunia.

Lonceng itu selanjutnya diberi nama Lonceng Cakra Donya. Namanya diambil dari kapal perang itu. Cakra berarti kabar, dan Donya artinya dunia, sehingga Lonceng Cakra Donya dapat diartikan sebagai kabar dunia.

“Inilah salah satu bukti kedigdayaan maritim Aceh pada waktu itu. Lonceng ini dahulu dipergunakan sebagai alat pemanggil bila ada sesuatu yang darurat di laut,” katanya.

Setelah tak digunakan di kapal dan sebelum diletakkan di halaman Museum Aceh, lonceng Cakra Donya sempat digantung di kompleks Istana Darul Dunia, di sudut kanan Masjid Raya Baiturrahman.

Lonceng sering dibunyikan ketika penghuni Istana harus berkumpul untuk mendengar maklumat Sultan, memanggil orang untuk salat, tanda berbuka puasa, dan lain-lain.

Benda itu dipindahkan Museum Aceh  dan masih di sana sampai sekarang.