Tentara Mesir Bunuh 42 Orang Pengikut Ikhwanul

Penulis: Darmansyah

Senin, 8 Juli 2013 | 18:21 WIB

Dibaca: 0 kali

Mesir kritis. Mesir makin dalam terbenam dalam konflik yang sangat ganas setelah tentara membunuh 42 orang dan melukai ratusan lainnya pengikut Ikhwanul Muslimin di depan gerbang markas angkatan darat. Pembunuhan ini telah membelokkan isu peta jalan demokrasi di Mesir dan menghasilkan pergolakan baru melawan hegemoni tentara.

Momentum pembunuhan dijadikan oleh Ikhwanul Muslimin Sayap politik Ikhwanul Muslimin, Partai Kebebasan dan Keadilan , menyerukan agar rakyat Mesir melakukan perlawanan terhadap orang-orang yang mencuri revolusi menggunakan tank.

Selain itu, Ikhwanul Muslimin juga mendesak dunia internasional untuk melakukan intervensi demi mencegah Mesir menjadi Suriah kedua. “Kami mendesak agar komunitas internasional dan seluruh warga dunia agar melakukan intervensi untuk mencegah pembantaian dan menghindari terciptanya Suriah baru di dunia Arab,” kata PKK.

Sebelumnya, Ikhwanul mengatakan, sebanyak 35 pendukung presiden terguling Muhammad Mursi tewas diterjang peluru militer Mesir.

“Pendukung Mursi sedang berdoa ketika polisi dan tentara menembakkan peluru tajam dan gas air mata ke arah mereka. Akibatnya, sebanyak 35 orang tewas dan jumlah korban tampaknya akan terus bertambah,” demikian pernyataan Ikhwanul Muslimin.

Sementara itu militer Mesir, Senin, mengatakan, “teroris bersenjata” telah berusaha menyerbu markas pasukan elite Garda Republik dan menyebabkan seorang petugas keamanan tewas. Demikian pernyataan militer negara itu seperti dikutip situs web harian milik negara, Al-Ahram.

“Saat fajar, sebuah kelompok teroris bersenjata berusaha menyerbu bangunan Garda Republik …menyerang pasukan tentara dan polisi, yang menyebabkan kematian seorang perwira dan membuat beberapa orang lain terluka, termasuk enam orang dalam kondisi kritis,” kata pernyataan itu.

Ikhwanul Muslimin, kelompok pendukung presiden terguling Muhammad Mursi, yang telah menggelar aksi protes di luar markas Garda Republik, mengatakan, 16 demonstran dari kelompoknya telah ditembak mati..

“Para pendukung Mursi sedang berdoa saat polisi dan tentara menembakkan peluru tajam dan gas air mata terhadap mereka. Hal ini menyebabkan sekitar 35 orang tewas dan angka itu kemungkinan akan meningkat,” kata Ikhwanul dalam sebuah pernyataan.

Kasus pembunuhan ini menimbulkan gelombang kecaman baik dari dalam negeri Mesir mau pun berbagai negara. Pemimpin oposisi terkemuka Mesir, Mohamed ElBaradei mengecam pembunuhan sedikitnya 42 demonstran di luar markas besar Garda Republik di Kairo hari ini. Pemimpin liberal itu pun menyerukan adanya penyelidikan independen atas peristiwa itu.

“Kekerasan melahirkan kekerasan dan harus dikecam keras. Penyelidikan independen merupakan keharusan. Transisi damai adalah satu-satunya cara,” ujar peraih Nobel Perdamaian itu lewat akun Twitter resmi miliknya seperti diberitakan kantor berita AFP.

Kelompok National Salvation Front (NSF) yang dipimpin ElBaradei juga menyerukan adanya penyelidikan independen atas peristiwa tersebuit.

“Mengecam keras kekerasan tersebut dan menyerukan penyelidikan segera dan adil atas peristiwa tragis yang terjadi pada subuh tadi di depan markas besar Garda Republik, dan hasilnya harus dipublikasikan secara transparan kepada publik,” demikian pernyatan NSF.

Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu, , mengecam pembantaian 42 pendukung Muhammad Mursi yang berunjuk rasa oleh militer Mesir.

“Saya mengecam keras pembantaian pengikut Mursi atas nama nilai-nilai kemanusiaan yang kami perjuangkan,” kata Davutoglu lewat akun Twitter-nya.

Davutoglu juga menyerukan proses normalisasi politik di Mesir yang menghormati keinginan rakyat negeri itu.”Mesir adalah harapan demokrasi di Timur Tengah dan Turki akan selalu bersama dengan rakyat Mesir,” kata Davutoglu.

Kecaman terhadap proses politik Mesir juga datang dari Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan. Erdogan menyebut intervensi militer Mesir sebagai kudeta dan mengkritik keengganan Barat menyebut penggulingan Mursi ini sebagai sebuah kudeta.

Komentar