Tanjung Gusta Porak Poranda, Napi Tetap Sahur dan Buka

Penulis: Darmansyah

Sabtu, 13 Juli 2013 | 14:40 WIB

Dibaca: 0 kali

Narapidana Tanjung Gusta dari balik jeruji sisa kebakaran

Kondisi Penjara Tanjung Gusta, di Jalan Pemasyarakatan 27 porak poranda, tulis kontributor “nuga.co” di Medan, Arminsyah. Bertandang ke lokasi rehabilitasi narapidana yang terkenal sering bermasalah itu, Arminsyah hanya menemukan dua bangunan yang utuh. Masjid dan gereja. “Hanya dua bangunan itu yang tidak dibakar dan rusak. Yaang lainnya macam suasana usai perang,” lapornya.

Di tulis Arminsyah, Sabtu dinihari WIB ia sempat terenyuh melihat para narapidana yang tetap
melaksanakan sahur puasa meski sebagian bangunan hangus terbakar. Dapur LP pada kebakaran kemarin tidak ikut dilalap api. “Dari kemarin sudah seperti biasa. Tarawih, buka puasa dan sahur sudah berjalan normal.”
Ibadah puasa napi di bulan Ramadan tidak terganggu.

Para napi tetap mendapat suplai makanan dari LP. “Fasilitas makanan terakomodir semuanya.” Pembersihan masih terus dilakukan oleh narapidana. Mobil pengangkut bahan makanan juga terlihat keluar masuk LP.

Jam besuk untuk hari ini, Sabtu, ditutup. Dan sudah dibertahu kepada keluarga narapidana. Namun masyarakat yang hendak membawa makanan dapat menitipkanya ke petugas LP.

Sementara itu, seperti dibertakan “Antara,” Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mengaku mendapat kiriman pesan singkat dari seorang napi saat kerusuhan di Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Gusta, Medan, Sumatra Utara.

Sang napi yang meng”sms” SBY mengatakan, kondisi penjara sangat menyedihkan. Tak ada air dan listrik. Penghuni berjubel.

Menurut SBY, pihak Lapas tidak merespons keluhan para napi tersebut, sehingga terjadilah kerusuhan yang menewaskan lima orang itu.

“Dan tidak ada respons yang memadai, tapi provokator memang ada. Napi juga memiliki hak-hak dasar yang harus kita penuhi, ini bulan Ramadan, banyak di antara mereka yang juga berpuasa. Jadi jangan gara-gara napi lantas kehilangan hak dasarnya, ini prinsip,” tegas SBY.

SBY, menurut “Antara,” sangat marah ketika mengetahui kerusuhan di Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Gusta, Medan, Sumatera Utara, melalui media massa. SBY kecewa dengan lambannya informasi yang dia dapat saat kerusuhan di Tanjung Gusta. Bahkan, saat itu televisi internasional telah menyiarkan terlebih dahulu.

“Dibandingkan informasi yang saya dapatkan dari sistem, harus sama cepatnya apa yang disiarkan rakyat ke dunia. Harus sama cepatnya, bahkan kalau bisa lebih cepat,” cetusnya.

SBY juga melihat pemberitaan di media sosial, menunggu informasi dari pemerintah, responsnya pun sangat lamban. “Saya juga mengikuti pemberitaan di sosial media. Saya sudah masuk ke Twitter dan Facebook sehingga the real time sudah mengerti apa yang jadi pendapat mereka. Saya tunggu respons dan reaction time itu kurang cepat, daerah, pusat, Medan, dan kita. Sepuluh jam tanpa official statement, itu tidak bagus,” ungkapnya.

Seharusnya, kata SBY, saat itu juga pemerintah cepat mengeluarkan pernyataan terkait kerusuhan yang menewaskan lima orang tersebut.

“Tidak harus pernyataan itu menunggu lengkapnya informasi, tidak harus segala sesuatunya dilakukan. Keluarkan statement, ‘ya pemerintah sedang mengatasi, investigasi sedang dilakukan’, dan seterusnya,” kata SBY yang saat itu mengenakan kemeja berwarna biru.

Kendati demikian, SBY menghargai MenkumHAM Amir Syamsudin yang langsung berangkat ke Medan.

“Saya hargai MenkumHAM berangkat ke sana. Saya juga cek langsung. Ke depannya, apa yang terjadi agar ada langkah-langkah cepat dan bukan pembiaran. Pernyataan juga yang cepat,” tegasnya.

Komentar