Tamatnya Riwayat Sebuah “Yellow Page”

Penulis: Darmansyah

Selasa, 5 September 2017 | 10:18 WIB

Dibaca: 0 kali

Masih ingat “buku “ yellow page yang berisi nomor telepon dan diterbitkan hampir diseluruh kota dunia?

Ya, yellow page memang sangat terkenal dan dicari oleh hampir semua komunitas.

Dan kini, bersamaan dengan datangnya teknologi informasi lewat gadget, pamor yellow paper pun “mati.”

Dan kabar terbaru mengatakan bahwa yellow pager telah tutup buku atau “mampus.”

Ya juga, setelah lima puluh satu tahun berkibar Yellow Pages akhirnya harus berhenti cetak mulai Januari tahun depan

Bersamaan dengan itu kenangan akan buku kuning besar itu pun menyeruak.

Di era kejayaan telepon rumah, khususnya di Indonesia, Yellow Pages merupakan buku wajib yang harus terbaring di samping perangkat telekomunikasi tersebut.

Nomor-nomor yang tertera di dalamnya bisa dimanfaatkan untuk mencari berbagai nomor telepon. Mulai dari nomor-nomor penting seperti Rumah Sakit, Polisi, Pemadam Kebakaran, hingga nomor telepon residensial — yang mungkin salah satunya adalah rumah gebetan.

Begitu yang dialami Anto, pegawai salah satu perusahaan swasta. Yellow Pages mengingatkan Anto pada masa-masa ketika ia mendekati wanita idamannya.

“Kalau ingat Yellow Pages pasti ingat waktu pendeketan sama gebetan. Cari-cari nomornya, sudah itu telepon buat pastiin,” ujarnya.

Memori Anto pun berputar. Saat menelepon waktu itu, ketika yang menjawab orang lain, maka ia lebih memilih untuk langsung menutupnya.

Situasinya berbeda apabila wanita yang diincarnya ini yang mengangkat teleponnya.

“Butuh waktu percobaan berkali-kali sampai akhirnya bisa mengobrol,” ucapnya sambil terkekeh-kekeh mengenang masa lalu.

Pengalaman yang sama juga dialami oleh Una.

Perempuan yang punya hobi travelling ini, ketika SMA bersama teman-temannya sering memanfaatkan Yellow Pages untuk cari tahu nomor telepon gebetan.

Untuk mengetahuinya, tentunya harus terlebih dahulu tahu nama orang tuanya, karena nomor telepon yang tercantum di Yellow Pages berdasarkan kepemilikan rumah.

“Waktu itu ada gebetan bersama. Cari nama bapaknya terus telepon. Tapi pada akhirnya dimatiin pas diangkat, karena nggak berani,” ungkap Una sambil terkekeh.

Sementara Rio, pria memiliki jabatan strategis sebuah perusahaan, mengatakan setelah memasang telepon di rumahnya, ia kemudian mengecek nomor teleponnya sudah tercantum atau belum di Yellow Pages.

“Oh iya, waktu itu sambil cari-cari nomor telepon dealer kendaraan di Yellow Pages. Di sana kan banyak informasi perusahaan beserta nomor teleponya,” imbuh dia.

Tentu saja tamatnya riwayat yellow page ini bersamaan dengan maraknya internet.

Yellow Pages tercatat sudah lebih dari lima dekade menjadi salah satu sumber informasi masyarakat di berbagai dunia.

Bagi mantan para penggunanya, Yellow Pages adalah sebuah nostalgia.

Sebelum ada Google, Yellow Pages sering dimanfaatkan orang-orang untuk mencari informasi nomor telepon atau alamat sebuah perusahaan.

Buku tebal dan kertas latar belakang kuning menjadi ciri khas yang membuatnya disebut Yellow Pages.

Yell, perusahaan yang menaungi Yellow Pages, baru-baru ini telah mengungkapkan pernyataan resmi terkait penutupan buku direktori daftar nomor telepon rumah paling fenomenal pada masanya tersebut.

“Setelah lima puluh satu tahun Yellow Pages berproduksi, kami bangga mengatakan memiliki pelanggan yang masih menyimpan edisi Yellow Pages pertama di tahun 1966. Bagaimana pelanggan yang mereka dapati usai lima puluh tahun?,” ujar CEO Yell Richard Hanscott dilansir The Guardian, Selasa, 05 September

Yell mengungkapkan, akan mencetak dua puluh tiga juta edisi terakhir yang diharapkan bisa menjadi suvenir untuk pengguna direktori yang terkenal dengan logo dua jari melangkah ini.

Keputusan perusahaan untuk memberhentikan cetakan Yellow Pages, dikarenakan masyarakat sudah beralih ke internet.

Kemunculan Google hingga media sosial, saat ini lebih memudahkan masyarakat mendapatkan informasi diinginkan.

Setelah berhenti terbit, Yellow Pages akan sepenuh transformasi ke dunia digital. Yell sendiri telah mempersiapkan situsnya dengan alamat yell.com.

Penawaran gratis pun disodorkan bagi yang ingin mendaftarkan bisnisnya di platform tersebut.

“Seperti bisnis kebanyakan, Yell telah menemukan kesuksesan permintaan digital yang telah berubah dan inovasi. Kami akan menempatkan diri untuk membantu bisnis lokal dan konsumen sukses di online, sekarang dan di masa depan,” kata Hanscott.

 

Komentar