Rusia Siap Perang Kalau Suriah Diserang

Penulis: Darmansyah

Sabtu, 14 September 2013 | 10:08 WIB

Dibaca: 7 kali

Rusia menyelamatkan Suriah dari serangan Amerika serikat lewat dua opsi kebijakan. Upaya diplomatik, dengan menawarkan penyerahan dan pemusnahan senjata kimia milik Damaskus lewat sebuah otoritas independen, dan melindungi kedaulatan kepemimpinan Presiden Bashir Al Asaad lewat pengiriman persenjataan dan kapal perang di Laut Tengah.

Rusia memang sedang berkejaran dengan waktu untuk melucuti ambisi AS menyerang Suriah dengan membereskan semua prosedur penyerahan senjata kimia ke badan independen.

Menteri Luar Negeri Rusia Lavrov sudah bertemu dengan Menlu AS John Kerry di tengah “perang: ejek antara Moskwa dengan Washington mengenai status perdamaian di Suriah. Washington mengatakan, Rusia adalah “anjing” penggonggong untuk Suriah, dan berjuang dengan “lari sendiri” untuk melindungi sobat Timur Tengahnya itu.

Sedangkan Moskwa, lewat wawancara Vladimir Putin dengan jaringan televisi “CNN” mengejek AS sebagai tukang gebuk yang lari terbirit-birit kalau mendengar “bom.” Putin Juga mengajak rakyat Amerika Serikat untuk turun kejalan melawan “monster” peraqng di Gedung Putih dan Kongres.

Dalam dua hari terakhir misi diplomatik Rusia berhasil merampungkan persetujuan Suriah untuk memulai proses pemusnahan senjata kimia miliknya. PBB telah menerima surat yang menyatakan Suriah bergabung Konvensi Pelarangan Senjata Kimia.

“Dalam suratnya, Presiden Bashar al Assad berjanji akan memusnahkan senjata kimianya,” ujar juru bicara PBB, seperti dikutip Guardian..

“Dia berharap diplomasi berjalan mulus untuk mempercepat prosesnya,” lanjut juru bicara tersebut.

Di PBB, Assad diwakili Rusia untuk berunding dengan Amerika Serikat . Negosiasi dilakukan untuk menentukan prosedur pemusnahan senjata kimia Suriah. Rusia mengutus Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov untuk melakukan perundingan. Sementara AS menunjuk Menteri Luar Negeri John Kerry.

“Kata-kata dari Pemerintah Suriah saja tidak cukup,” ujar Kerry, di tengah proses diplomasi di markas PBB di Kota Jenewa, Swiss.

“Ini bukan main-main. Pemerintah Suriah harus membuktikannya secara nyata. Kami percaya rencana ini bisa terealisasi,” tambahnya.

AS dan Rusia dikabarkan masih berdebat soal status pemusnahan senjata kimia. AS ingin pemusnahan itu bersifat resmi dan didasari oleh resolusi PBB. Dengan begitu, Suriah akan menerima sanksi jika mangkir dari janjinya. Sedangkan Rusia mengusulkan agar pemusnahan senjata kimia bersifat sukarela.

Walau pun sudah berada di jalur diplomatic, kondisi Suriah tetap panas. Rusia dikabarkan kembali mengirim aramada lautnya ke dekat perairan Suriah.

Pengerahan ini disebut sebagai yang terbesar sejak masa Uni Soviet. Sebelumnya, Rusia telah mengirim kapal perang Moskva ke lokasi yang sama. Kapal perang Moskva ditakuti karena dilengkapi dengan rudal vulkan yang dapat menghancurkan musuh berukuran besar.

Armada laut Rusia nantinya akan berhadapan dengan lima kapal perang Amerika Serikat. Kapal perang AS tersebut disiapkan untuk menyerang Suriah jika proses diplomasi gagal.

“Rusia ingin menunjukan bahwa mereka adalah pemain besar dalam isu ini,” ujar pejabat Rusia yang tidak disebut namanya, seperti dikutip Guardian.

Namun, sebagian pengamat pesimis kekuatan laut Rusia bisa menang melawan AS. Mereka menyebut kapal perang yang dikirim Rusia ke Suriah mayoritas sudah berumur tua.

“Pengerahan kekuatan laut ini menunjukkan kepentingan Rusia yang besar di Suriah,” ujar mantan pejabat militer Rusia, Laksamana Vladimir Komoyedov.

“Sayangnya, yang mereka kirim adalah kapal-kapal tua yang telah berumur lebih dari 30 tahun. Kita butuh kapal yang lebih baru untuk menghadapi AS,” lanjutnya.

Komentar