Rouhani: AS Serang Iran? “Silakan”

Penulis: Darmansyah

Senin, 16 September 2013 | 18:09 WIB

Dibaca: 1 kali

Dikalahkan oleh tekanan internasional, dan dipreteli keunggulannya dalam berdiplomasi dalam kasus senjata kimia Suriah, kini, Barack Obama bersama pentolannya di Washington, mulai mengancam akan menyerang Iran jika negara itu tidak menghentikan program nuklirnya.

Pernyataan frustrasi yang ditegaskan Obama ini dimaksudkan untuk menutup “kemaluan”nya dalam kegagalan menyerang Suriah, setelah Rusia bersedia menjadi “tameng” untuk melindungi rejim Damaskus.

Washington, yang menekan Barack Obama untuk melanjutkan petualangan keunggulan militernya, mulai merambah untuk menggugat Iran menghentikan program nuklirnya dengan ancaman akan di serang.

Berlainan dengan Suriah, yang kacau balau, akibat perang saudara, Irang menyambut ancaman Obama itu dengan mentakan,”silakan.” Presiden Iran Hasan Rouhani, dalam wawancara ekslusifnya dengan “Teheran News” menjawab ancama Obama itu dengan mengatakan,”Amerika Serikat tidak perlu menggertak. Silakan saja kalau mau menyerang. Sebab dalam gejolak pasca revolusi Iran, Washington pernah bertekuk lutut dalam kasus pembebasan sandera.”

Obama, yangmendapat tekanan elite Kongres, kembali mengeluarkan ancaman untuk Iran dengan mengatakan, “Saya kira Iran paham senjata nuklir lebih berbahaya daripada senjata kimia. Program nuklir Iran dan ancaman Iran terhadap Israel merupakan perhatian utama kami.

“The Guardian, Senin, 16 September 2013, mengutip pesan Obama, “Iran harus memetik pelajaran dari Suriah. Kami bisa saja menyerang Iran.”Pernyataan Obama didukung oleh Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu. Bersama Menteri Luar Negeri AS John Kerry, Netanyahu mengeluarkan peringatan kepada Iran.

“Iran akan menerima respons keras jika tetap melanjutkan program nuklirnya,” ucap Netanyahu.

Mengenai jadwal penghancuran senjata kimia Suriah, PBB berharap bisa dipenuhi pada pertengahan tahun depan. Proses pemusnahan akan diawasi oleh tim PBB. AS mengancam akan melanjutkan rencana serangan jika Suriah tidak mematuhi kesepakatan.

Isu senjata kimia Suriah mengemuka setelah AS menuduh rezim Bashar al Assad menyerang warganya sendiri dengan gas beracun. AS menyebut tindakan Assad itu sebagai pelanggaran HAM berat.

Seperti halnya nuklir Iran, senjata kimia Suriah dianggap sebagai ancaman Israel. Negara Zionis tersebut selama ini takut menyerang Suriah karena keberadaan senjata kimia. Dengan dimusnahkannya senjata kimia Suriah, Israel kini kehilangan satu ancaman dan bisa merasa lebih aman.

Israel menyambut baik kesepakatan pemusnahan senjata kimia milik Suriah. Israel selama ini merasa terancam dengan senjata kimia Suriah.

“Kesepakatan ini tidak akan tercapai tanpa adanya ancaman serangan ke Suriah,” ujar Perdana Menteri Benyamin Netanyahu, seperti dikutip CS Monitor. “Kesepakatan ini juga akan memukul Iran yang memiliki kepentingan di Suriah,” tambah Netanyahu.

Suriah memang menggunakan senjata kimianya sebagai pertahanan melawan Israel. Kedua negara masih bersengketa atas wilayah Dataran Tinggi Golan. Wilayah tersebut sebenarnya milik Suriah, namun Israel merebutnya dalam Perang Arab-Israel.

Walaupun senang dengan kemungkinan hilangnya ancaman dari Suriah, Israel masih ragu kesepakatan tersebut dapat sepenuhnya dijalankan. Mereka takut kesediaan Suriah memusnahkan senjata kimianya hanya akal-akalan untuk menhindari serangan Amerika Serikat.

“Kami berharap kesepakatan ini bisa berhasil,” ujar Menteri Pertahanan Israel Yuval Steinitz.

Kesepakatan pemusnahan Senjata Kimia Suriah disepakati AS dan Rusia dalam pertemuan di Markas PBB di Jenewa, Swiss. Pemerintah Suriah langsung mengklaim kesepakatan itu sebagai sebuah kemenangan karena bisa menghindari serangan AS. Sementara, oposisi Suriah dengan keras menolaknya.

AS mengancam akan menyerang setelah muncul dugaan rezim Bashar al Assad menggunakan senjata kimia untuk membunuh warganya sendiri. AS menuduh tindakan Assad itu sebagai pelanggaran HAM yang harus dihukum.

Komentar