Presiden Mesir, Morsi, Digulingkan

Penulis: Darmansyah

Kamis, 4 Juli 2013 | 08:53 WIB

Dibaca: 0 kali

Ikhwanul Muslim, atau Persaudaraan Islam, sebuah organisasi kenyal yang tak mampu di”bunuh” kehidupann dan kiprahnya di Mesir selama satu abad, hanya bisa berkuasa selama setahun lewat Presiden Mohammad Morsi, dan digulingkan oleh militer Rabu, 3 Uli 2013.

Persaudaraan Muslim yang memberi inspirasi bagi bangkitnya perlawan “musim semi” di Timur Tengah, dan menjadi contoh organisasi politik di dunia Islam seperti PKS di Indonesia, ternyata belum “siap” untuk mengendalikan sebuah pemerintahan karena dicurigai sebagai simbol penerapan syariat yang ketat.

Morsi, selama setahun memerintah, dipenuhi oleh intrik kekuasaan dan gagal mengadopsi kepentingan sekuler sebagai kompromi untuk melanggengkan kekuasaan. Para pengamat menuduhnya sebagai biang dari ketidakstabilan pemerintahan karena memberi akses bagi masuknya berbagai aturan syariat.

“Dia terlalu cepat menggalang kekuatan untuk tujuan politik dan mengabaikan pembenahan aspek ekonomi yang sangat diinginkan rakyat. Ia teledor. Ia juga merasa sangat kuat setelah memenangkan perebutan dua pilar kekuasaan, eksekutif dan legislative dan mengabaikan suara “silent mayoriti” yang menghendaki penanganan ekonomi dikedepankan.

Presiden Mesir Mohammad Morsi pun akhirnya lengser dari kekuasaannya. Militer Mesir kembali mengulang sejarah dengan mengumumkan bahwa Morsi tidak lagi menjabat sebagai presiden dan konstitusi Mesir dibekukan.

Hal yang sama pernah berlangsung dalam penggulingan Hosni Mubarak. Dan pernah juga dilakukan Gamal Abdel Nasser ketika menyingkir Najieb.

Pengumuman militer tersebut langsung disambut meriah oleh rakyat yang sudah menunggu sejak ultimatum dari militer Mesir kepada Morsi, sudah lewat. Pengumuman ini diutarakan langsung oleh Panglima Militer Mesir Abdul Fatah Al-Asisi.

Seperti dilansir Sky News, Kamis, Jenderal Al-Asisi menyatakan, akan membuat peta politik baru di Mesir yang dibangun oleh tokoh politik dan agama.

Lengsernya Morsi ini didukung oleh pihak militer, bersama dengan tokoh politik oposisi, kalangan tokoh agama baik warga Muslim maupun kalangan gereja Koptik Mesir.

Sebelumnya, militer Mesir mengaku bahwa mereka tidak bermaksud untuk turut campur dalam protes anti-pemerintah yang dilakukan rakyat Mesir. Mereka mengatakan bahwa hanya ingin menjaga rakyat yang ingin menyuarakan suaranya.

Tetapi sejak ultimatum 48 jam yang dilontarkan oleh militer sudah habis, Morsi dilaporkan bekerja di barak militer Garda Republik di Kairo. Kontak antara Morsi dengan pendukungnya pun telah diputus.

Mohamed Morsi digantikan oleh Ketua Mahkamah Agung Adly Mounsur ebagai presiden sementara, sesuai dengan konstitusi sampai dengan dilaksanakannya pemilihan umum. Usai digulingkan militer Mesir dari kursi kepresidenan, Morsi kini berada di dalam tahanan rumah.

“Morsi dan seluruh tim kepresidenan saat ini berada dalam tahanan rumah,” ujar putra salah satu staf Morsi, Gehad El-Haddad seperti dilansir dari AFP, Kamis.

Ayah Gehad, Essam El-Haddad merupakan orang kepercayaan Morsi. Essam diyakini juga salah satu orang yang ikut ditahan akibat kudeta militer ini.

Morsi saat ini sudah dipindahkan dari kantor presiden ke sebuah tempat yang masih dirahasiakan. Seluruh akses informasi mengenai keberadaan Morsi kini diputus. Banyak kalangan meyakini Morsi di tahan di sebuah fasilitas militer.

Orang-orang terdekatnya juga tidak bisa lagi mendapat akses informasi soal kondisi Morsi. Ia ditahan terpisah dari grup kepresidenan.

Kerusuhan akibat jatuhnya Morsi semakin melebar. Total korban tewas hingga saat ini menjadi delapan orang. Sebanyak 343 orang terluka akibat bentrokan di seluruh Mesir.

Pasukan keamanan Mesir juga telah mengklaim berhasil menangkap pemimpin Ikhwanul Muslimin, Saad el-Katatni dan Rashad Al-Bayoumi. Keduanya kini sudah ditahan.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Mesir Abdel Fattah al-Sisi mengumumkan penggulingan Morsi dari kursi kepresidenan. Ketua Mahkamah Konstitusi Mesir ditunjuk untuk menjadi pemimpin sementara hingga pemilu kembali digelar.

Komentar