Orang Tua Di Bireuen Cemaskan Meluasnya Prostitusi Remaja

Penulis: Darmansyah

Sabtu, 23 Februari 2013 | 09:46 WIB

Dibaca: 3 kali

PARA orang tua, terutama kaum ibu yang memiliki anak remaja baru gede di kawasan Bireuen dan sekitarnya, kini dihantui kecemasan  yang berlebihan usai  berita besar penangkapan lima mucikari dan satu pemakai jasa bisnis seks  di daerah tersebut. Tidak hanya cemas mereka juga mulai memproteksi pergaulan anak-anaknya dan  tidak mengizinkan kegiatan di luar keperluan sekolah.

Bukan hanya di kawasan Bireuen, para orang tua di kabupaten pedalaman seperti Bener Meriah dan Aceh tengah  juga merasa resah dengan prostitusi yang  marak menyeret para remaja dan difasilitasi oleh mucikari.

Para remaja yang terlibat praktek protitusi itu, menurut hasil pemeriksaan dari Polres Bireuen, tidak hanya berasal dari kota kabupeten itu, tetapi juga datang dari kecamatan Jeunib dan Samalanga yang letaknya  jauh lokasi ditemukannya praktek haram itu.

Seorang ibu rumah tangga yang enggan disebut namanya, perbuatan tercela yang menghinggapi remaja ini harus dibongkar tuntas dan dijelaskan kepada masyarakat duduk perkaranya. “Kita cemas. Kita kan punya remaja juga,” katanya.

Kata dia, letak geografis kini tak menjadi halangan bagi bisnis prostitusi bergeliat di berbagai daerah. Mengingat akses teknologi informasi semakin canggih dan bisa dimanfaatkan siapa saja tanpa mengenal batasan usia. Mencengangkan terkuaknya penangkapan mucikari kemarin, saya sampai memberhentikan anak les dan hanya izinkan ke sekolah untuk tambahan belajar,” ungkap ibu dua putri ini.

Irawati mengakui tak ada kata terlambat jika masih bisa berusaha membatasi gerak putrinya agar tidak terjerumus ke dalam lembah hitam tersebut. Ibu rumah tangga lainnya, asal Kecamatan Kota Juang juga merasa bimbang dengan pemberitaan prostitusi tersebut. Ia menyesalkan tindakan pelaku yang tidak memiliki hati nurani sehingga mengorbankan remaja usia muda dengan bersedia mengikuti apa-apa yang diperintahkan para mucikari.

Mereka berharap  aparat kepolisian terus memburu semua pelaku yang terlibat dalam jaringan itu agar tidak menimbulkan korban ABG terlalu banyak lagi ke depan,” ujarnya.

Untuk itu ia berharap kerjasama berbagai pihak untuk memberantas bisnis prostitusi terselubung ini. “Tak hanya tugas polisi atau WH saja, namun mari bersama-sama kita bertindak untuk masa depan generasi muda,” tandasnya.

Sementara itu aparat Kepolisian Resor Bireuen terus memburu para pelaku perdagangan manusia yang menghebohkan Bireuen beberapa waktu terakhir. Polisi sudah mengantongi nama-nama pelaku yang terlibat dalam bisnis seks di kota berjuluk Serambi Makkah ini.

Kapolres Bireuen, AKBP Yuri Karsono SIK mengatakan, hingga saat ini jumlah pelaku yang sudah ditetapkan menjadi tersangka, baru enam orang. “Nama lain memang sudah dikantongi kendati banyak yang menghilang dari tempat tinggal mereka,” ujarnya, Jumat.

Saat ini tim penyidik terus mencari dan memburu nama-nama yang dicurigai memiliki hubungan keterkaitan kuat dengan bisnis yang melibatkan banyak korban ABG di Bireuen. Sehingga aparat kepolisian setempat terus memfokuskan upaya penangkapan pelaku untuk mengungkap kasus tersebut.

Penggunaan nama samaran, seperti “mister Bro” kepada pengguna jasa PSK ini, disebut-sebut sedikit mempersulit identifikasi pelaku yang terlibat dalam bisnis prostitusi. Apalagi, bisnis seks yang satu ini tidak mengenal usia dan latar belakang pelaku atau penggunanya.

“Seperti yang kita amankan pertama kali melibatkan satu pengguna jasa yang berusia uzur,” tambah kapolres. Diakuinya penanganan kasus ini memakan waktu tidak sedikit, dan jaringan ini terorganisir rapi sehingga memerlukan perhatian khusus.

Komentar