Obama Yang Bisa Kalahkan Republik

Penulis: Darmansyah

Minggu, 20 Oktober 2013 | 09:45 WIB

Dibaca: 0 kali

“Hanya Barack Obama yang bisa menaklukkan sindrom kejayaan Republikein. Mereka seharusnya memang sudah kalah,” tulis Adam Oneal, redaktur politik “Washington Post,” tentang kekalahan “Tea Party” yang selama lebih dari satu dekade terakhir menggerogoti Amerika Serikat lewat “konservatisme.”

“Post” dalam artikel Adam yang sangat keras dan tajam, meminta Partai Republik a berbenah setelah kalah dalam duel “shutdown” pekan lalu. Partai Republik disebutnya terlalu terpaku dengan kesuksesan masa lalu.

Politisi Republik memang bangga dengan masa lalu partai mereka. Mereka memuja mantan Presiden AS, Ronald Reagan, yang dianggap sebagai simbol kaum konservatif.

Reagan memimpin AS selama dua periode dari 1981 hingga 1989. Pemerintahan Reagan tercatat sebagai puncak kejayaan Partai Republik. Dia membawa AS memenangkan Perang Dingin dengan Uni Soviet.

Adam mengutip otokritik dari juru strategi Partai republic, Ford O’connel, yang mengatakan, Ronald Reagan sudah wafat. Mereka harus menerimanya. Tutup kebanggan yang berlebihan.

O’Connel menjelaskan, zaman Reagan berbeda dengan sekarang. Reagan tidak perlu berhadapan dengan media selama 24 jam nonstop. Pada zaman Reagan juga belum ada media sosial.

“Reagan merupakan pemimpin yang baik pada zamannya, namun saat ini keadaan sungguh berbeda. Mereka tidak akan berkembang dengan mengikuti langah yang dijalani Reagan”

Usai kekalahannya dari Barack Obama dalam kasus “shutdown,” Partai Republik, kini, terpecah dua. Satu masih dengan konservatis usangnya sedangkan yang lainnya bergerak kea rah konservatisme modern. Beberapa politisi Republik menyebut partainya salah strategi.

“Duel ini justru menjatuhkan reputasi kita di mata masyarakat AS,” ujar Senator asal Partai Republik, Lindsey Graham, seperti dikutip Guardian..

Shutdown terjadi ketika Partai Republik menolak proposal anggaran dan pagu utang dari Partai Demokrat. Mereka menuntut program layanan kesehatan yang dikenal dengan nama Obamacare direvisi sebelum anggaran disetujui.

Namun, Partai republik akhirnya menyerah setelah AS terancam kebangkrutan akibat tidak bisa membayar utangnya. Mereka pun menyetujui proposal anggaran dan pagu utang tanpa revisi berarti untuk Obamacare.

“Kita seharusnya fokus menentang Obamacare. Shutdown ini menurunkan tingkat popularitas partai. Sementara popularitas Obamacare justru makin meningkat,” lanjut Graham.

Sorotan kini tertuju pada Pemimpin DPR AS asal Partai Republik, John Boehner. Politisi Republik yang beraliran moderat menuduh Boehner terlalu mengikuti keinginan kelompok garis keras. Kubu garis keras ingin duel terus dilakukan walaupun hal tersebut melukai ekonomi AS dan popularitas partai di masyarakat.

“Partai Republik bisa kehilangan kursi mayoritas di DPR jika tidak hati-hati,” tutur anggota DPR asal Partai Republik, Charles boustany.

Sebaliknya, kubu garis keras Partai Republik mengecam kelompok moderat. Kubu garis keras yang dikenal dengan nama Tea Party yakin bisa memenangkan duel jika saja kelompok moderat tidak menyerah.

“Kesepakatan ini sangat buruk dan membuat frustasi warga AS,” ujar Senator yang menjadi corong Republik selama shutdown, Ted Cruz.

Komentar