Nelson Mandela Kritis

Penulis: Darmansyah

Senin, 24 Juni 2013 | 09:55 WIB

Dibaca: 0 kali

Nelson Mandela kritis. Berita itu menyebarkan dengan kecepatan tinggi di hampir seluruh media dunia. Tokoh perlawanan apartheid itu memang sudah dua pekan terakhir terbaring di rumah sakit. Kondisinya naik turun, tapi tak pernah membaik. Usia tua, 94 tahun. Itu juga faktor yang menretai kelabilan kesehatannya..

“Dokter telah melakukan segala kemungkinan untuk meningkatkan kondisinya,” kata sebuah pernyataan resmi rumah sakit, seperti dikutip BBC, Senin WIB.

Mandela, presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan, dilarikan ke rumah sakit di Pretoria pada awal Juni, dengan keluhan infeksi paru-paru yang berulang, setidaknya tiga kali sepanjang tahun ini. Tapi kondisinya terus memburuk selama 24 jam terakhir. ” Madiba berada di tangan yang baik,” kata Zuma, Presiden Afrika Selatan, dengan mengangis menyebut Mandela dengan nama keluarga Madiba.

Mandela memang semakin lemah di rumah sakit di Pretoria dalam “kondisi serius.” Menurut laporan CNN yang mengutip keterangan kantor kepresidenan, Mandela bernapas dengan alat bantu dan istrinya berada di sisinya. Setelah tidak memberikan perkembangan selama 48 jam, pemerintah mengatakan pada Senin bahwa kondisi Mandela “tidak berubah”, tetap “serius”.

Salah seorang putrinya, Zenani Dlamini, yang merupakan Duta Besar Afrika Selatan untuk Argentina, telah kembali ke Afrika Selatan agar berada di dekat ayahnya.

Mandela sudah masuk dan keluar rumah sakit dalam beberapa tahun terakhir. Kali ini merupakan yang keempat dalam tujuh bulan terakhir.

Hari Minggu, warga Afrika Selatan melambungkan doa-doa dalam kebaktian mereka di gereja, dan harapan bagi pemulihannya pun tercurah dari seluruh dunia.

Sementara itu, halaman depan harian Sunday Times Afrika Selatan memuat berita berjudul, “Ini saatnya melepas dia pergi.” Harian itu mengutip teman lama Mandela, Andrew Mlangeni, yang mengatakan bahwa waktunya mungkin telah tiba bagi warga Afrika Selatan untuk mengucapkan selamat jalan kepada ikon yang dicintai itu.

“Dia telah masuk ke rumah sakit berkali-kali. Cukup jelas bahwa dia dalam kondisi tidak sehat dan ada kemungkinan tidak akan pulih lagi,” kata Mlangeni kepada harian itu. “Begitu keluarga merelakannya, rakyat Afrika Selatan akan mengikuti. Kami akan mengucapkan terima kasih, Tuhan, Engkau telah memberi kami pria ini, dan kami akan melepaskan dia juga,” kata Mlangeni.

Presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan itu mendapat perawatan 24 jam, dan rumahnya dilengkapi dengan peralatan medis yang mencerminkan adanya unit perawatan intensif.

Sejarah masalah paru-parunya bermula ketika dia menjadi tahanan politik di Robben Island pada masa apartheid, dan ia telah berjuang melawan infeksi pernapasan selama bertahun-tahun. Tahun lalu, ia menghabiskan liburan Natal dengan menjalani pengobatan untuk infeksi paru-paru dan batu empedu, salah satu masa perawatan rumah sakit terpanjang sejak pembebasannya dari penjara tahun 1990.

Mandela telah dianggap sebagai bapak pendiri demokrasi Afrika Selatan. Ia menjadi tokoh internasional selagi bertahan selama 27 tahun di penjara karena melawan apartheid, sistem segregasi rasial di negara itu.

“Dia mengajarkan kepada kita … bahwa kita meningkatkan kemanusiaan kita sendiri ketika kita melayani dan membuat perbedaan bagi kehidupan orang lain,” kata Mac Maharaj, juru bicara Presiden Jacob Zuma. “Sangat mudah untuk melayani diri sendiri, kepentingan sendiri, tetapi melayani kepentingan orang lain, membuat hidup mereka lebih baik, mengubah kualitas seluruh umat manusia.”

Tahun 1993, Mandela dan Presiden Afrika Selatan saat itu, FW de Klerk, bersama-sama memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian. Pemimpin legendaris itu terpilih sebagai presiden kulit hitam pertama bangsa itu setahun kemudian. Ia hanya menjabat satu periode, seperti yang telah dijanjikannya.

Dia tidak muncul di depan publik sejak Afrika Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010. Walau jarang tampil dalam beberapa tahun terakhir, ia tetap populer dan dianggap sebagai pahlawan demokrasi di negara itu. Tahun lalu, Afrika Selatan meluncurkan uang kertas baru dengan gambar Mandela yang sedang tersenyum di salah satu sisinya, sebagai salah bukti status ikoniknya.

Pengaruh Mandela pun meluas jauh melampaui perbatasan Afrika Selatan. Setelah ia meninggalkan kantor kepresidenan, ia memediasi konflik di bagian lain Afrika hingga ke Timur Tengah.

Komentar