Gelombang Panas di India Misterius

Penulis: Darmansyah

Minggu, 28 Juni 2015 | 17:21 WIB

Dibaca: 0 kali

Gelombang panas yang telah membunuh tiga ribu orang di India dan Pakistan hingga kini masih menyisakan teka-teki karena kondisi panasnya tidak satu alur dengan catatan yang tertera di temperature.

Gelombang panas ini di anak benua ini, seperti diberitakan, ternyata bergerak tidak simetris dengan temperature yang tersedia. Para ahli menyebut suhu panas ini sangat misterius karena terjadi pada saat kelembaban yang tinggi dan tanpa adanya pergerekan angin.

Perubahan iklim mungkin menjadi salah satu faktor yang memicu fenomena tak biasa itu. Panel Antar-pemerintah untuk Perubahan Iklim telah mengingatkannya.

“Pemanasan telah terjadi, pada level negara, di wilayah Asia Selatan selama abad ke-20 dan 2000-an,” demikian assesment report kelima IPCC menyebutkan.

“Frekuensi gelombang panas meningkat sejak pertengahan abad 20 di sebagian besar wilayah Asia.”

Ancaman gelombang panas selama ini tak mendapat perhatian karena terjadi perlahan, tak seperti banjir dan badai.

Ilmuwan di India dan Pakistan mengatakan bahwa temperatur tinggi hanyalah salah satu faktor di balik gelombang panas mematikan akhir-akhir ini.

Menurut mereka, tekanan udara, kelembaban tinggi, dan absennya angin juga memicu panas yang luar biasa. Mereka tidak tahu mengapa hal seperti itu terjadi kali ini.

Prakiraan temperatur menyatakan bahwa puncak gelombang panas terjadi minggu lalu dengan suhu mencapai empat puluh tiga derajat celsius.

Prediksi itu akurat, tetapi ada faktor lain yang membuat suhu terasa lebih panas, memicu seribu orang meninggal di Pakistan dan sebelumnya lebih dari dua ribu di India.

“Di Karachi, suhu terasa empat puluh sembilan derajat celsius dan itu yang kita sebut dengan indeks panas,” kata Muhammad Hanif, Direktur Pusat Prakiraan Cuaca Nasional Pakistan.

“Indeks panas lebih tinggi dari temperatur yang sebenarnya karena tekanan udara rendah dan kelembaban tinggi di area itu,” lanjutnya.

“Tekanan rendah, yang sangat tak biasa pada bulan Juni, menyebabkan angin laut tak ada sehingga menyebabkan panas yang tak tertahankan,” ungkap Hanif.

Hanid menerangkan kondisi di Pakistan. “Vortex (tekanan rendah) yang tumbuh di laut Arab bagian utara pada awalnya berada di atmosfer bagian atas,” katanya.

“Beberapa hari kemudian, vortex itu turun ke permukaan dan menjadi area bertekanan rendah,” tambahnya.

“Tekanan rendah dan kelembaban tinggi itulah yang menyebabkan panas tak tertahankan di Karachi, suhu seolah-olah empat puluh sembilan derajat celsius, sementara aktualnya 43 derajat celsius.”

“Di bagian selatan Pakistan, suhu udara yang terbaca empat puluh tujuh derajat, celsius tapi orang hanya merasa empat puluh satu derajat celsius karena tekanan tinggi dan kelembaban rendah. Itulah mengapa tidak ada orang meninggal di sana,” urai Hanif.

Fenomena seperti yang terjadi di Karachi semakin sering terjadi. Ilmuwan belum mengetahui sebabnya.

“Kita harus mencari tahu mengapa sirkulasi yang tak biasa ini terjadi saat ini,” ungkap Krishnan.

nvestigasi oleh ilmuwan India juga mengungkap adanya kondisi meteorologi tak biasa pada kasus gelombang panas kali ini.

“Panas di pantai hilang karena angin laut bertiup pada malam hari memiminalkan stres pada manusia,” jelas LS Rathore, Direktur Jenderal Departemen Meteorologi India.

“Tahun ini, itu tidak terjadi, dan apa yang kita alami pada dasarnya adalah pemanasan daratan yang berkepanjangan,” kata Rathore.

R Krishnan, Kepala Studi Perubahan Iklim di Institut Meteorologi Tropis India, mengatakan, dasar ilmiah untuk menjelaskan fenomena itu masih minim.

“Pemanasan yang berlangsung selama berhari-hari berkaitan dengan perubahan atmosfer,” ungkap Krishnan seperti dikutip BBC, Jumat, 26 Juni 2015.

“Kita tidak tahu yang memicu pola sirkulasi yang menyebabkan perubahan gerak angin dan mempertahankan panas,” urainya.

Komentar