Minggu Paling Berdarah di Jalur Gaza

Penulis: Darmansyah

Senin, 21 Juli 2014 | 08:51 WIB

Dibaca: 0 kali

Gaza mengalami “pendarahan.” Dan, Minggu, 20 Juli 2014, tercatat sebagai hari paling berdarah setelah tentara Israel secara membabi-buta membunuh lebih seratusan anak-anak, orang tua dan pemuda pejuang Hamas dalam invasi darat brutal sepanjang empat tahun terakhir.

“Gaza adalah luka terbuka dari invasi militer yang tidak mengenal kemanusiaan. Biadab. Itu kata yang bisa diucapkan,” ujar Malek Karim, reporter jaringan Televisi Al Jazzera dari sebuah sudut Kota Gaza yang “bonyok” oleh bom dan mortir.

Menurut laporan jaringan Televisi Al Jazzera dari Kota Gaza, mayat-mayat bergeletakan sepanjang lorong di distrik Shejaiya, di dekat Gaza CIty. Serangan di kota ini, Minggu, menewaskan enam puluh dua warga dan melukai tak kurang dari dua ratus lima puluh warga lain.

“Israel biadab. Mereka hanya tahu bunuh dan bunuh. Tak ada upaya mereka untuk menahan diri dan bertindak jauh lebih banyak untuk kepentingan jahiliyahnya,” teriak Malek dengan bibir bergetar dan kalimat terputus-putus.

Mereka tidak menghormati hukum humaniter yang “mengharamkan” penyerangan ke fasilitas sipil dan penerapan syarat ketat untuk penyerangan ke fasilitas sipil bila benar-benar ada indikasi kuat pemanfaatan militer di sana.

“Terlalu banyak orang tak berdosa yang mati … dan mereka hidup berada dalam ketakutan di pantai sempit di jalur memanjang pantau Laut Tengah”.

Hingga pagi ini Al Jazzera mencatat setidaknya 438 warga Palestina tewas dalam serangan Israel di Gaza, lebih dari sepertiga dari mereka wanita dan anak-anak.

Sementara itu, sayap militer Hamas Brigade Ezzedine al-Qassam hampir tak pernah takut dengan invasi militer itu mengatakan sebanyak dua belas pejuangnya berada di wilayah Israel selama enam jam sebelum terlibat baku tembak dengan pasukan Israel.

“Mereka membalaskan darah syuhada kami, terutama anak-anak kami. Kami berhasil menewaskan enam prajurit Israel dan melukai beberapa lainnya,” demikian pernyataan Brigade Ezzedine al-Qassam.

Dalam baku tembak di lokasi terpisah, juga pada Sabtu, militer Israel menewaskan dua pejuang Palestina di wilayah selatan Gaza setelah mereka menembakkan roket anti-tank ke arah sepasukan tentara Israel.

Sejauh ini sudah tiga belas tentara Israel tewas sejak negeri itu menggelar operasi militer untuk menghentikan serangan roket dari Jalur Gaza pada 8 Juli 2014 lalu.

Perlawanan Hamas tidak hanya lewat serangan berani mati pejuangnya. Mereka juga memanfaatkan apa saja yang bisa dipakai untuk melawan “zionisme” paling terkutuk itu. Seekor keledai yang dilengkapi bom meledak setelah ditembak militer Israel.

Taktik unik ini digunakan kelompok Hamas di kota Rafah yang terletak tak jauh dari perbatasan Jalur Gaza dengan Mesir.

Tak ada korban tewas atau cedera saat para prajurit Tentara Pertahanan Israel melepaskan tembakan saat keledai itu berjalan menghampiri mereka. Akibat tembakan itulah bahan peledak yang dibawa si keledai meledak.

Seorang bloger yang tak menyebut identitasnya mengunggah kabar ini ke idfblog.com, sebuah situs blog resmi milik militer Israel. Bloger ini mengatakan seekor keledai secara mencurigakan berjalan mendekati pasukan Israel.

“Pasukan Israel menembak keledai itu dan hewan tersebut meledak di jarak yang aman. Tak ada korban luka dari pihak IDF,” kata bloger itu.

Menurut bloger tersebut, para prajurit merespon informasi dari aparat Badan Keamanan Israel yang mengatakan militan Gaza akan memnggunakan hewan yang membawa bahan peledak dan mengirim mereka ke arah pasukan darat Israel.

Ini bukan kali pertama Hamas menggunakan hewan dalam konflik melawan Israel. Pertama kali Hamas menggunakan hewan sebagai “kurir bahan peledak” adalah sekitar 1995.

Saat itu, seorang pria Palestina menunggang seekor keledai yang menarik gerobak penuh bahan peledak. Pria Palestina itu kemudian meledakkan diri dan keledainya di posisi IDF di Khan Yunis, Gaza.

Komentar