Mesir Pecah Dalam Dua Kubu Ekstrim

Penulis: Darmansyah

Minggu, 7 Juli 2013 | 12:04 WIB

Dibaca: 3 kali

Mesir kini terpecah dalam konflik paling mematikan, dan akan membelah negeri paling terkemuka di Timur Tengah itu dalam dua kubu yang akan menjelmakan “hantu” bagi masa depannya.

Mengerasnya konflik Islamis dengan “sekuler nasionalis” makin menjadi liar usai penunjukkan Mohamed El Baradai, mentor oposan yang menggulingkan Presiden Mohamed Morsi bersama militer, sebagai perdana menteri oleh “acting” Presiden Adli Mansour.

Penunjukan ini yang disambut dengan gairah oleh kelompok oposisi Mesir akan ditandai dengan demonstrasi penolakan Minggu ini oleh kubu Islamis yang dimotori oleh Ikhwanul Muslim.

Oposisi yang menyebut Mohamed ElBaradei sebagai reformis sebenarnya tidak memiliki massa dukungan. “Ia tidak memiliki massa pendukung dan partai yang benar-benar mampu menyokong pemerintahannya. Ia akan terjebak jadi boneka militer,” ulas reporter Televisi Alzajera dari Kairo.

Berita ditunjukkan El Baradai sebagai perdana menteri di sampaikan oleh Khaled Dawoud dari Front Penyelamat Nasional, kelompok oposisi utama Mesir. “Presiden Interim Adli Mansour akan melantik ElBaradei di hari penunjukan resminya sebagai perdana menteri,” kata jurubicara oposisi itu.

Mohamed ElBaradei dikenal memimpin oposisi melawan diktator Husni Mubarak yang kemudian jatuh akibat aksi massa pada 2011.

Sebelum kembali ke Mesir dan memimpin oposisi, ElBaradei dikenal sebagai ketua Badan Tenaga Atom Internasional. Dia juga adalah salah seorang pemenang hadiah Nobel perdamaian.

Menanggapi penunjukan ElBaradai, seorang pejabat tinggi Partai Kebebasan dan Keadilan, sayap politik Ikhwanul Muslimin, mengatakan, kelompoknya menolak penunjukan Mohammed ElBaradei menjadi perdana menteri interim Mesir.

“Kami menolak kudeta ini dan semua hasilnya, termasuk ElBaradei,” kata politisi itu kepada Reuters dalam sebuah aksi di wilayah utara Kairo.

Mohammed ElBaradei adalah salah seorang tokoh utama dalam Front Penyelamat Nasional yang menyerukan percepatan pemilihan umum. Aksi kelompok inilah yang kemudian berujung pada kudeta angkatan bersenjata Mesir yang menumbangkan Muhammad Mursi awal pekan lalu.

Situasi Mesir kini benar-benar berada dipersimpangan jalan “chaos.” Ulama berpengaruh di Timur Tengah, Yoeusef al- Qaradawi, mengeluarkan fatwanya yang sangat keras dengan memberitahu rakyat Mesir untuk mendukung Muhammad Mursi dan mendesak militer mundur dari panggung politik negeri itu.

Ulama kelahiran Kairo itu, dalam fatwa yang kemudian diunggah di situs resminya itu mengatakan, intervensi militer yang kemudian melengserkan Mursi bertentangan dengan demokrasi dan konstitusi Mesir.

“Dr Al-Qaradawi menerbitkan fatwa tentang keharusan mendukung presiden Mesir terpilih Muhammad Mursi dan mempertahankan konstitusi. Beliau juga menyerukan Panglima Militer Abdel Fatah al-Sisi dan mereka yang mendukungnya untuk mundur demi mempertahankan legitimasi dan demokrasi,” demikian pernyataan di dalam situs resmi al-Qaradawi.

Al-Qaradawi menambahkan, banyak ulama dari Universitas Al-Azhar Kairo, salah satu institusi Islam paling berpengaruh di Mesir, menyetujui pandangannya.

Al-Qaradawi adalah ketua Federasi Ulama Internasional, merupakan pendukung utama revolusi yang “menyapu” sejumlah negara Arab pada 2011. Bulan lalu dia menyerukan perang suci melawan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Sementara itu aksi kekerasan di Mesir pascadigulingkannya Muhammad Mursi terus berlanjut dan kini korban tewas sudah mencapai 36 orang di seluruh Mesir akibat bentrok massa pro dan anti-Mursi.

Di ibu kota Kairo, ribuan pendukung Muhammad Mursi, Sabtu (6/7/2013), menggelar unjuk rasa di depan barak Pasukan Garda Republik sambil meneriakkan slogan-slogan anti-militer.

Militer Mesir kemudian melepaskan tembakan ke arah para pengunjuk rasa yang menewaskan setidaknya tiga orang demonstran.

Kekerasan terus berlangsung sepanjang Jumat malam hingga Sabtu pagi di pusat kota Kairo mengingatkan situasi yang sama dua setengah tahun lalu saat penggulingan Husni Mubarak.

Bedanya, massa yang dulu bersama-sama menggulingkan Mubarakan kini berseberangan dan bahkan baku hantam membela keyakinannya masing-masing.

Di tengah meningkatnya aksi kekerasan ini, Presiden Interim Mesir Adli Mansouy menggelar pembicaraan dengan panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Abdul Fattah al-Sisi dan Menteri Dalam Negeri Mohammed Ibrahim yang membawahi kepolisian.

Secara keseluruhan, sejauh ini dikabarkan 36 orang tewas, termasuk 12 orang di Alexandria. Kerusuhan ini terjadi usak shalat Jumat (5/7/2013), setelah Ikhwanul Muslimin mendorong pendungnya untuk turun ke jalan dalam apa yang mereka sebut sebaga “Jumat Kemarahan”.

Komentar