Lokasi Tabrakan Dan Kuburan Uje Di”keramat”kan

Penulis: Darmansyah

Kamis, 2 Mei 2013 | 16:16 WIB

Dibaca: 4 kali

Keluarga ustaz “Uje” Jeffry al-Buchori mencemaskan adanya upaya selentingan orang yang “mengeramatkan” lokasi tabrakannya di kawasan Pondok Indah, dan “memuja” kuburannya di Pemakaman Karet Tengsin.

Pihak keluarga mengimbau masyarakat agat tidak  mengambil sesuatu dari makam ustaz Jefri al Buchori di Kawasan Karet Tengsin, Jakarta Pusat. Seperti diketahui, beberapa orang kerap mengambil sesuatu dari makamnya. Bahkan, nisan Uje pun dikabarkan sempat hilang.

“Tolonglah untuk tidak mengambil apa-apa dari makam. Takutnya nanti jadi syirik. Katanya ada yang ambil tanah buat bawa pulang. Pokoknya jangan begituan deh. Datang saja kirimin doa, ya sudah,” imbau adik Uje, Aswan Faisal.

Menurut Aswan, banyaknya para pedagang yang datang di sekitar makan juga berkah tersendiri bagi warga. Bahkan menurut Aswan, ada sebuah cerita unik yang terjadi di makam tersebut. “Kemarin ada orang bule Dia datang. Tapi karena dia non-muslim, akhirnya menyuruh tukang dagang yang ada di sana untuk bacakan Surat Yasin,  dan bule itu berdiri di belakangnya. Ada juga dua orang SPG yang penjual rokok juga datang ke makam Uje. Dia menangis tersedu-sedu, Uje waktu itu bilang, ‘Aku akan mulyakan dirimu jika orang mengejeknya.

Masih seputar pernak pernik kehidupan Uje, Aswan Faisal, sang adik kepada “nuga.co”   mengakui sebelum mendapat hidayah Allah, sang kakak dulunya  nakal. Namun, ustadz gaul itu seketika berubah setelah “dijedotin” saat umrah.

“Waktu itu saya tidur, Uje datang nongol dari genteng. Dia baru pulang habis dugem. Dia ketok-ketok minta bukain pintu. Karena bokap saya galak, dia takut,” cerita Aswan.

Setelah terjerumus dunia hitam, ada sebuah peristiwa yang membuatnya sadar.  Uje melakukan perubahaan besar dalam hidupnya, yakni saat menjalankan ibadah umrah.

“Dia  dan dirinya sendiri mau berubah. Tiba-tiba ibu saya ngajak umrah. Ketika dia ziarah di depan makam Nabi. Baru keluar dari pintu makam, dia bilang ‘Gue dilempar terus dijedotin ke tembok. Gue nangis waktu itu dua jam’. Baru dari situlah perubahan dia drastis. Dari situlah juga dia mulai dakwah yang awalnya dipandang sebelah mata,” papar Aswa

Sosok Uje tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang sempat terjerumus dunia hitam. Karena itu Uje bisa memahami karakter anak-anak muda yang gaul.

“Beliau itu Ustadz selengean, pecicilan. Kadang teknik dakwah dia (Uje) enggak masuk di saya, tapi diterima di masyarakat,” kata sang  adik. Uje dulu pernah ngomong ‘Gue enggak mau makai ‘. Kita bilang, ‘Ah, lo belum rasain saja lo‘. Eh pas sudah ngerasain, dia malah jadi bandar. Tapi ini adalah perjalanan. Pengalaman Uje berada di dunia gelap, ini menjadi bekal dia untuk berdakwah dengan teknik baik,” tandasnya.

Bahkan, kata sang adik, sang kakak sempat memiliki keinginan membuat tato bertuliskan “Jagalah Kebersihan”. Itu pernik dari sang ustaz yang  disukai berbagai kalangan, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Bahkan anak muda bertato pun senang dengan dakwah yang disampaikan ustadz gaul itu.

“Yang suka ngobrol sama Uje itu, ada yang tangannya bertato. Waktu itu Uje dakwah di Rasuna Said, itu panitianya anak-anak yang ditindik gitu. Mereka mau begadang sampai jam 02.00 jadi panitia,” cerita Aswan saat ditemui di Studio Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu, 1 Mei 2013 malam.

Karena itu, tidak aneh jikaUje pernah mengungkapkan keinginannya memiliki sebuah tato. Namun tato yang diinginkan Uje sangat berbeda dengan yang lainnya. Sebab dia menginginkan sebuah tato bertuliskan “Jagalah Kebersihan”.

“Uje pengin bikin tato, tapi enggak jadi. Dulu Uje mau bikin tato tulisannya, ‘Jagalah Kebersihan’. Benar dia yang cerita gitu,” tutup Aswan

Komentar