Kerusuhan KJRI Jeddah, Seorang TKW Meninggal

Penulis: Darmansyah

Senin, 10 Juni 2013 | 11:51 WIB

Dibaca: 0 kali

Kerusuhan yang berbuntut pembakaran KJRI di Jeddah menewaskan seorang tenaga kerja wanita bernama Marwah bin Hasan, usia 55 tahun, asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Direktur Perlindungan WNI dan Bantuan Hukum Indonesia, Kementerian Luar Negeri, Tatang Budie Utama Razak, membenarkan adanya seorang “te-ka-we” usia tua yang meningal dalam kerusuhan di Jeddah.

“Asal Bangkalan, Jawa Timur. Kami bersama putrinya yang juga bekerja di sini,” kata Tatang, seperti dikutip dari wawancara dengan Metro TV, Senin pagi. Marwah, berdasarkan keterangan putrinya, masuk ke Arab Saudi sejak 2005 seusai melakukan ibadah umrah. Sejak itu, hingga saat ini ia tidak mengantongi dokumen apa pun. Rencananya, KJRI akan memfasilitasi pemulangan jenazah korban.

Sebelumnya diberitakan, seorang perempuan Indonesia tewas dalam kebakaran yang dipicu aksi protes ribuan tenaga kerja Indonesia di luar Konsulat Jenderal RI di Jeddah, Arab Saudi, Minggu. Para TKI itu mendatangi Konsulat untuk mengurus status imigrasi mereka, kata sebuah sumber Konsulat sebagaimana dilaporkan kantor berita AFP, Senin.

Sekitar 8.000 TKI berkumpul di luar Konsulat itu. Mereka mencoba untuk mengurus berkas imigrasinya yang selama ini berstatus sebagai pekerja asing ilegal di negara itu dalam menghadapi batas waktu yang diberikan Kerajaan Saudi untuk memulihkan status mereka atau mereka harus meninggalkan Saudi.

Kericuhan terjadi saat ratusan ribu TKI mengantre untuk memperbaiki status imigrasinya. Lamanya waktu mengantre membuat beberapa TKI emosi dan memicu kekisruhan.

“Pekerja melemparkan batu dan botol ke arah petugas. Tindakan mereka langsung dibalas dengan tembakan peringatan,” ujar seorang saksi mata, seperti dikutip Reuters, Senin.

“Selama beberapa jam suasana sangat mencekam. Pintu besi hampir dapat ditembus dan kami sempat mengevakuasi orang-orang dan barang-barang berharga,” kata seorang staf konsulat..

Langkah pemutihan SPLP dilakukan sejak 26 Mei lalu. Tapi antrean selalu membludak, dan pada hari Minggu itu sempat beredar isu bahwa hari itu hari terakhir. Padahal isu itu tidak benar, pemutihan SPLP hingga Juli.

“Kami umumkan dengan pegeras suara melalui mobil polisi. Namun dalam beberapa saat sejumlah WNI semakin tidak terkendali dan memaksa untuk memaksa masuk. Sejumlah WNI mencoba memanjat tembok untuk memaksa masuk dan membuka pintu, namun kami dengan staf serta beberapa anggota masyarakat yang ada di dalam mencoba menghalau di tengah lemparan berbagai benda dari luar,” jelasnya.

Bahkan, seorang petugas keamanan KJRI Mustafa dipukuli oleh sekelompok orang dan sempat masuk ICU. Pemukulan juga menimpa beberapa WNI yang ikut antrean namun meminta agar rekan-rekannya tenang dan tak berbuat rusuh.

Marwah dilaporkan meninggal akibat tidak kuat berdesak-desakan. Dia terdesak dan dehidrasi sehingga kritis dan meninggal dunia.Beberapa TKI juga dilaporkan berusaha membakar bangunan konsulat. Video yang beredar memperlihatkan tembok konsulat yang terbakar. Pemerintah Arab Saudi sedang mengejar pekerja ilegal di negaranya. TKI yang tertangkap terancam dihukum.

Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Gatot Abdullah Manysur, menuturkan kronologi kebakaran di depan Konsulat Jenderal RI di Jeddah. Awalnya, kata Gatot, kantor Konsulat melayani warga negara Indonesia atau tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Arab Saudi.

Loket dibuka seperti biasa, yakni pukul 5 sore. Jam loket biasanya memang dibuka sore. Mengingat cuaca di Arab Saudi akhir-akhir ini cukup panas, sehingga jam buka loket harus digeser ke sore hingga malam.

Kemudian, entah dari mana, ada isu yang berkembang bahwa pelayanan pemutihan akan berakhir pada hari Minggu, 9 Juni 2013. Kontan, para warga Indonesia yang mengantre ini pun panik. “Terjadilah chaos, mereka mulai anarkistis,” kata Gatot., Senin, 10 Juni 2013.

Mereka ingin menyerbu loket agar segera dilayani. Tapi upaya mereka dihalangi petugas yang mengamankan gedung Konsulat. Aksi dorong-dorongan antara petugas dan warga negara Indonesia pun tidak bisa dihindari.

Upaya massa menerobos tidak berhasil karena petugas mampu menghalau mereka. Ditengarai tak puas, kata Gatot, massa pun mulai membakar plastik-plastik di depan Konsulat Jenderal RI di Jeddah itu. “Kejadian bakar-bakar itu magrib,” kata Gatot.

Karena plastik yang dibakar, maka asap yang mengepul berwarna hitam. Kepulan asap ini terlihat jelas dalam video berjudul “Konsulat Jenderal RI Jeddah Dibakar TKI”, yang diunggah di YouTube hari ini.

Gatot yang sedang berada di Jeddah mengaku terus memantau kejadian tersebut. Ia kemudian melaporkan peristiwa itu kepada Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa. Kata Marty, Gatot harus tetap fokus pada pelayanan. “Ya, pokoknya lakukanlah semaksimal mungkin, beri pelayanan maksimal,” kata Gatot menirukan Marty.

Ia sendiri sadar bahwa kejadian tadi tidak bisa dihindari, mengingat ada ribuan warga, bahkan puluhan ribu yang menginginkan pelayanan pemutihan tersebut. Tapi, meski puluhan loket sudah dibuka Konsulat, tetap saja masih ada warga yang belum terlayani. “Kurang sabar saja,” katanya.

Komentar