Luz Berhenti Bikin Kartun Nabi Muhammad

Penulis: Darmansyah

Kamis, 30 April 2015 | 15:47 WIB

Dibaca: 0 kali

Ingat majalah “satir” terbitan Paris, Perancis, “Charlie Hebdo” dengan desain sampulnya menampilkan karikatur Nabi Muhammad?

Tentu. Dengan itu kita juga bisa mengingat bagaimana Rasul Allah itu diperlakukan semena-mena lewat karikatur penghinaan yang membangkitkan “gairah” jihad umat Islam sedunia.

Nah. Semua orang, mungkin tahu tentang karikatur itu bersama nama majalahnya. Tapi sangat sedikit orang yang tahu siapa pembuat karikatur pelecehan itu.

Nama si karikaturis itu adalah Renald Luzier atau Luz.

Dialah sosok yang mendesain sampul Charlie Hebdo pasca serangan teror di kantor redaksi majalah satir itu, yang menampilkan karikatur Nabi Muhammad, yang berwajah sedih dan meneteskan air mata, serta memegang kertas bertuliskan, ‘Je Suis Charlie’. Saya Charlie.

Tepat di bawah nama Charlie Hebdo, tertera kalimat Tout est Pardonne — semua telah dimaafkan.

Wartawan Charlie Hebdo, pada saat itu, membela keputusan memasang kartun Nabi Muhammad di edisi pertama mingguan ini setelah diserang oleh dua orang bersenjata pekan lalu.

Para wartawan majalah itu mengatakan sampul tersebut lembut, jenaka, dan menggambarkan semangat yang ingin dibawa oleh Charlie Hebdo.

Sepuluh wartawan Charlie Hebdo, termasuk pemimpin redaksi, tewas dalam serangan yang dilancarkan dua pria bersenjata.

“Ini bukan sampul yang diinginkan dunia tetapi yang kami inginkan. Bukan yang diinginkan para teroris, sebab tidak ada teroris di dalamnya,” kata kartunis Charlie Hebdo yang dikenal dengan nama Luz.

“Hanya ada gambar orang yang menangis. Itu gambar Mohammad. Saya minta maaf kami harus menggambarnya lagi. Tetapi Mohammad yang kita gambar sedang menangis. Tak lebih dari itu,” jelasnya.

Karikaturis ini pula yang merancang halaman muka majalah yang terbit setelah sejumlah serangan Paris
Lantas, ada apa dengan Renald Luzier atau Luz!

Kini Luz telah sadarkan dan menemukan jalan kebenaran berpikir.

Seperti dikuti “nuga” dari BBC News, Kamis, 30 April 2015, Luz mengatakan, ia tak akan menggambar Nabi junjungan umat Islam itu lagi.

“Saya tak lagi tertarik menggambarnya Nabi Muhammad.”

“Saya lelah menggambar kartun Nab.. Lelah menggambar Sarkozy mantan Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy. Aku tak akan menghabiskan hidupku dengan menggambar mereka lagi,” kata dia.

Penggambaran para nabi — termasuk Nabi Muhammad dilarang dalam ajaran Islam. Pelarangan itu untuk mencegah pemujaan.

Namun, atas nama “kebebasan” yang menjadi milik “barat” dan terutama Perancis, beberapa kali Charlie Hebdo melakukannya.

Pada November 2011, kantor majalah tersebut juga pernah diserang bom molotov tak lama setelah menerbitkan kartun Rasulullah.

Seperti diketahui, dalam bulan Januari lalau lalu, kantor Charlie Hebdo diserang sekelompok teroris secara membabi buta.

Dua belas orang tewas dalam peristiwa berdarah ini termasuk pemimpin redaksi majalah yang bermarkas di Paris, Prancis ini dan juga seorang polisi.

Majalah ini memang kerap menimbulkan kontroversi karena menggambar kartun Nabi Muhammad.

Sepekan setelah serangan brutal itu, awak redaksi Charlie Hebdo yang selamat, termasuk Luz kembali memuat kartun Nabi Muhammad pada sampul majalah.

Mereka mengerjakannya di kantor majalah Liberation.

Terbitnya Charlie Hebdo kembali, pada saat itu, tak menyurutkan keangkuhannya untuk memasang karikatur Nabi Muhammad lagi.

Dan peristiwa itu kembali menyulut kemarahan negara-negara Islam. Edisi ini sendiri disebut ludes hingga delapan juta eksemplar, yang merupakan rekor bagi pers Prancis.

Namun, seperti yang dikatakan Luz tadi, dirinya tak akan lagi menggambar karikatur Nabi Muhammad.

“Para teroris tidak menang,” ucap Luz, masih kepada majalah Les Inrockuptibles. “Mereka akan menang jika seluruh Perancis terus takut,” tambahnya.

Majalah satir itu tidak hanya fokus menghina Rasul umat Islam itu, tapi juga membuat sejumlah karikatur yang menyinggung perasaan pemeluk agama lain.

Paus dan biarawati dijadikan bahan olok-olok. Pun dengan sejumlah tokoh.

Karena kartun halaman depan majalah itu selalu mencolok dan judul menghasut, Charlie Hebdo selalu dapat ditemukan di kios koran dan penjual buku.

Pengakuan Luz, yang berhenti membuat kartun, bertepatan dengan niatnya merilis buku kartun berjudul “Catharsis”– cara dia mengekspresikan dirinya setelah kematian tragis para koleganya.

Pascateror, Charlie Hebdo menerima dukungan dana jutaan euro. Namun, keamanan finansial itu justru membuat Luz bertanya-tanya soal masa depan media tersebut.

“Apakah Charlie masih majalah politik? Atau menjadi majalah berita,” kata dia.

Format baru akan terbit pada September mendatang. Namun tak banyak rincian yang diketahuinya.

bbc news, leberation dan sumber lain

Komentar