“Kami Sudah Bergerak ke Arafah”

Penulis: Darmansyah

Minggu, 13 Oktober 2013 | 19:07 WIB

Dibaca: 2 kali

“Kami sudah bergerak ke Arafah,” sapa Kamarullah, Minggu sore WIB, mengabarkan ke “nuga.co” tentang posisi calon haji dari Banda Aceh, yang terbang lewat kloter tujuh, 6 Oktober lalu. “Sudah berada dalam bus. Insya Allah beberapa saat lagi sudah di Arafah,” ujar dengan nada pasti.

Bersamaan dengan kabar dari Kamrullah, proses puncak haji 1434 Hijriah memang sedang dimulai. Jamaah Indonesia bersama dengan seluruh jamaah di dunia, secara simultan, bergerak menuju Arafah untuk memulai agenda di Armina, Arafah, Muzdalifah dan Mina.

Inilah sebuah prosesi yang maha besar. Maha dahsyat. Dan sangtat emsoional tanpa harus mel;upakan faktor rasional kehadiran para jamaah di padang tandus, yang kalau bukan musim haji lengang dan hanya dikunjungi peziarah.

Menurut Kamarullah, sejak paginya, jamaah yang bergabung dengan kloter tujuh Aceh ini sudah naik ke mobil dan bergerak meninggalkan pemondokan dengan mengenakan pakaian ikhram. Satu per satu jamaah menaiki bus yang akan mengantarkan mereka ke kawasan Arafah.

Dalam perjalanan ke Arafah, menurut Kamarullah, dari atas bus “saptco” ratusan ribu jamaah memenuhi jalanan sehingga menyebabkan kendaraan bergerak tersendat. Ada yang berjalan kaki, ada dengan mobil terbuka. Dan banyak yang bergelantungan di atap-atap bus.

Bukan main emosionalnya. Sebuah perjalanan yang mengingatkan kita kala orang berjalan ke “Padang Mahsyar.” Semuanya mengenakan ihram. Putih, putih dan putih. Kesucian. Kebersamaan dan tak ada yang melebihi yang lain selain dari taqwanya kepa Allah.

Sesuai dengan kesepakatan yang telah dicapai oleh otoritas perjalanan haji Indonesia, jamaah yang diberangkatkan pada pemberangkatan awal, merupakan jamaah yang tinggal di posisi padat.

Ini dimaksudkan untuk menyisati kemacetan jalanan menuju Arafah.. karena seluruh jamaah bergerak ke satu titik yang sama seperti yang berasal dari wilayah Bakhutmah dan Misfalah.

Selain itu, setiap bus akan ditemani oleh satu penunjuk jalan. Seperti yang kita tahu, sopir di Makkah ini banyak yang bukan asli warga sini, sehingga untuk mengurangi bus yang tersasar kini dilengkapi dengan penunjuk jalan. Jumlah penunjuk jalan tersebut sesuai dengan bus yang disediakan maqobah.

Sebelum berangkat ke Arafah, Muzdalifah dan Mina, para jamaah sudah diingatkan tentang kesiapan fisik. Diperlukan kesiapan secara fisik karena semua kegiatan di Armina. Di sana akan menguras energi yang sangat besar.

Beberapa hari lalau, petugas kloter juga telah memberitahu tentang perlunya menjaga kesehatan dengan tidak memaksakan ibadah sunah yang berlebihan. “Jika ada yang sudah melaksanakan umroh lima kali atau tujuh kali disetop dahulu, simpan tenaga untuk pelaksanaan Armina,” kata Kamarullah mengutip peringatan pimpinan kloter..

Juga kepada jamaah sudah diberitahu saat di Arafah menuju Musdalifah dan Mina sebaiknya membawa makanan yang mengenyangkan, bergizi, dan menyehatkan. Misalnya bawa kurma, pisang ambon, dan roti, karena bisa jadi kita seharian di perjalanan.

Walau pun jarak antara tiga tempat itu hanya beberapa belas kilometer banyak pengalaman para jamaah yang menembusnya hingga semalaman.

Dua hari sebelumnya, seperti dikabarkan Kamarullah, untuk jamaah haji sudah bisa menunaikan tawaf dilantai tiga Masjidil Haram.“Alhamdulillah. Saya sudah melaksanakan tawan dari lantai tiga, dan secara beranting kabar ini juga sudah diberitakan kepada jamaah lainnya.”

Sebelumnya lantai tiga tawaf di Masjidil Hara mini ditutup karena sedang dikerjakan penyelesaian. Lantai dua belum rampung. Lantai tiga sudah di cor lantainya dan belum di pasangi keramik tapi sudah dibersihkan dan diperkenan untuk dipakai.

Lantai tiga ini dibuka dan diperkenankan untuk jamaah sejak Rabu 9 Oktober dini hari. Tapi tak banyak orang yang tahu. Saya sejak kemarin pagi sudah bertawaf di sana.

Atas pembukaan itu, jamaah bisa lebih longgar untuk melakukan tawaf di lantai dua dan tiga, Tapi kebnayakan tetap memilih untuk bertawaf di lantai satu. Mereka merasa lebih afdhal ketika berada di sana.

Kamarullah mengaku, nyaman saat melakukan tawaf di lantai tiga Masjidil Haram. Meski belum di keramik, namun lantai sudah di plester dengan baik. Dia mengatakan bahwa areal tawaf di lantai menjadi alternative kala kepadatan terjadi lantai dasar.

Dengan pembukaan lantai satu, dua dan tiga Masjidil Haram dan tempat tawaf portable, bisa menampung sekira 60 ribu jamaah per jam. Sebelum tawaf portabel dibangun, jumlah jamaah yang bisa ditampung di Masjidil Haram mencapai 48 ribu jamaah

Komentar