Kabut Asap Batalkan Acara Parlemen Malaysia

Penulis: Darmansyah

Rabu, 26 Juni 2013 | 12:31 WIB

Dibaca: 0 kali

Serangan atas permintaan maaf Presiden SBY terhadap kabut asap asal Sumatera ke Singapura dan Malaysia, merupakan pencitraan para politisi yang salah arah dan tidak melihat dengan realistis penderitaan yang dialami oleh dua Negara tetangga itu.

Pengamat lingkungan merasa “geli” dengan “serangan” para politisi yang mencitrakan dirinya sebagai nasionalis sejati dengan mengabaikan derita kemanusiaan yang kini juga ditanggung oleh penduduk kedua Negara itu.

Memang Indonesia yang paling menderita. Tapi derita itu juga kita ekspor menjadi penderitaan orang lain. “Apa ini namanya manusiawi. Apa salah kalau kita minta maaf. Nasionalis ya nasionalis. Tapi jangan membuat orang menderita. Salah arah serangan mereka. Nggak ada isu lain,” kata seorang pengamat lingkungan mencibir seliweran para politisi.

Sebagai negara yang terpapar kiriman asap Sumatera, Malaysia untuk pertama kalinya dalam sejarah melaksanakan upacara pembukaan parlemen di dalam gedung. Hal itu terpaksa dilakukan mengingat kabut asap yang menyelimuti Malaysia sejak pekan lalu.

Pada umumnya, pembukaan pertemuan pertama Parlemen Malaysia akan disertai dengan inspeksi pasukan pengawal oleh Raja Malaysia. Tetapi untuk pertama kalinya Yang di-Pertuan Agong Tuanku Abdul Halim Mu’adzam Shah, terpaksa memeriksa pasukan di dalam gedung. Demikian diberitakan The Straits Times, Rabu 26 Juni 2013.

Kabut asap tebal yang menutupi Malaysia memaksa warga untuk tidak melakukan kegiatan di luar ruangan. Bahkan sekira 200 sekolah terpaksa ditutup agar tidak timbul penyakit terhadap siswa.

Indeks Polusi Udara di Port Klang dan Banting di Selangor, dikabarkan terus menembus level berbahaya. Kondisi udara di wilayah itu dinyatakan tidak sehat untuk dihirup.

Tetapi di wilayah Penang, berdasarkan data API, kualitas udara dikabarkan berangsur membaik pada Selasa 25 Juni. Dibandingkan pada Senin 24 Juni, kondisi di Penang saat ini jauh lebih baik.

Di Negara Bagian Perak, sekitar 102 sekolaha terpaksa ditutup karena Indeks Polusi Udara yang terus meningkat. Polusi udara di Seri Manjung dilaporkan mencapai level 322 hari ini.

Pejabat Dinas Pendidikan Distrik Manjung, Perak, Muhd Suod Mat Thani mengatakan, penutupan tersebut termasuk 21 sekolah menengah pertama dan 81 sekolah dasar. Sekira 40 ribu siswa terpaksa tidak masuk sekolah akibat kabut asap yang menyelimuti.

“Kami mendapatkan izin dari Departemen Pendidikan dan memberitahu pihak sekolah dan kepala sekolahnya langsung. Sesi belajar pagi berjalan sesuai jadwal karena siswa sudah berada di sekolah,” ujar Muhd Suod, seperti dikutip Bernama.
“Jam sekolah untuk hari ini dan besok akan digantikan kemudian hari,” lanjutnya.

Sebelumnya, kepala sekolah yang berada di Distrik Manjung melakukan pertemuan untuk membahas situasi kabut asap. Mereka juga membahas langkah pencegahan yang harus dilakukan.

“Orangtua diminta untuk membatasi kegiatan luar anak-anak mereka. Sementara anak-anak yang terpengaruh kabut asap harus segera di bawa ke dokter untuk dirawat,” imbuhnya.

Sementara itu kabut asap yang paling hebat dalam sejarah ini juga melibatdua perusahaan Malaysia, antara lain PT Lagam Inti Hibrida and PT Bumi Reksa Nusa Sejati. Keduanya beroperasi di Pelalawan dan Indragiri Hilir, Riau

Lembaga monitor perkebunan kelapa sawit The Roundtable on Sustainable Palm Oil melakukan penyelidikan terhadap lima anggotanya, terkait dengan kabut asap yang terjadi atas dugaan pembakaran disengaja di Sumatera.

Lima perusahaan diminta keterangannya oleh RSPO. Mereka diharuskan untuk menyerahkan peta perkebunan kelapa sawit yang dioperasikan selama ini.

Dari lima perusahaan, tiga di antaranya adalah perusahaan milik Malaysia. RSPO akan membandingkan peta perkembangan dengan peta kebakaran hutan yang dirilis oleh American Nasa sebagai bagian dari penyelidikan.

“Bila hasil penyelidikan menunjukkan adanya tindakan sengaja, maka RSPO tidak akan segan-segan mengambil tindakan,” ujar pihak RSPO, seperti dikutip The Straits Times, Rabu. Beberapa perusahaan yang menjadi anggota RSPO menunjukkan dukungannya atas penyelidikan ini. Mereka ingin membuktikan bahwa pihaknya tidak bersalah.

“Sime Darby mendukung penuh inisiatif RSPO. Saya ingin menegaskan komitmen Sime Darby yang memiliki kebijakan tidak membakar lahan. Kebijakan ini sudah tertanam di seluruh operasi perusahaan perkebunan kelapa sawit,” tutur Direktur Sime Darby Mohd Bakke Salleh.

Sementara pihak Kuala Lumpur Kepung yang diwakili oleh Sin Chuan Eng menyatakan, pihaknya akan memberikan peta digital dari perkebunan mereka kepada RSPO. Sin menegaskan, Kuala Lumpur Kepung akan mendukung penuh proses investigasi.

Anggota dari RSPO dilarang untuk melakukan pembakaran disengaja untuk membuka lahan kelapa sawit baru. Mereka menentukan prosedur standar untuk mengatasi kebakaran hutan.

Komentar