Isu Kudeta, Hanya Omong Kosong!

Penulis: Darmansyah

Senin, 25 Maret 2013 | 11:37 WIB

Dibaca: 2 kali

Isu kudeta yang dilansir oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dua pekan lalu, dan diretorikan dengan gegap gempita oleh tokoh-tokoh “frustrasi” semacam Ratna Sarumpaet, Adi M Massardi, Adnan Buyung Nasution dan Rizal Ramli, hanya “pepesan kosong” dan menjadi “lawak” yang tidak membuat orang terbahak ketika tokoh-tokoh dari dua kutub bersebarangan tampil dalam debat yang tidak bermutu di televisi.

Ratna Sarumpaet, bekas artis yang kini menjajal sebagai opisisi yang “non massa” itu, tampil di televisi dengan gaya memuakkan tanpa memberi lawan debatnya mengemukakan pendapat. Ia melakukan pembenaran diri sendiri dan mengatakan, tentang “ilusi” pemerintahan demosioner yang akan mereka ambil alih jika mampu menumbang pemerintahan SBY-Budiono.

Ratna yang oleh banyak orang tidak mengenal kiprah politiknya dan arah perjuangannya, bergabung dengan tokoh “sakit hati,” karena tidak mendapat posisi di pemerintahan, semacam Adnan Buyung Nasution dan Rizal Ramli, Dua tokoh terakhir ini, dulunya, pernah mendapat jabatan pemerintahan dan kemudian menjadi oposan tanpa partai, serta berteriak lewat slogan kegagalan negara memberi kesejahteraan kepada rakyatnya, dan terjebak dalam penyakit “post power syndrome” tentang kebenaran sepihak.

Para tokoh ini, termasuk Adi M Massardi, yang dulunya pernah menjadi jurubicara Gus Dur dan menjual kebersamaannya ini kemana-mana, terlihat loyo karena massa yang dihembuskannya akan “mengganyang” istana itu itu hanya mensponsori pembagian sembako, yang menurut sebuah sumber berasal dari iuran yang mereka sumbangkan.

Demonstrasi besar-besaran yang mereka janjikan untuk mengkudeta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menurut rencana bakal dilaksanakan Senin, 25 Maret 2013, hari ini, sepertinya tak akan terjadi.
Para aktifis yang menamakan dirinya Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia, seperti pengajuan izin yang disampaikan ke Polda Metro Jaya, hanya mencantumkan kegiatan bakti sosial. “Mereka mengadakan pembagian sembako di halaman kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia,” kata Kahumas Polda Jaya Rikwanto.

Seorang pengamat politik, yang biasanya sering “nongkrong” menunggu “job” wawancara di televisi berita, mengatakan dengan kecewa, “yang demo hanya kakek-kakek dan nenek-nenek.” Ia sudah sempat datang ke sebuah stasion televisi untuk membahas demo besar ini. “Eeee.. Cuma bagi sembako. Mau dikomentari apa,” katanya berlalu dari stasion TV tersebut.

Sesuai dengan surat pemberitahuan yang disampaikan Neta S. Pane, seorang aktifis LSM kepolisian tersebut, ditandatangani Ketua Presidium MKRI Ratna Sarumpaet dan Sekretaris Jenderal, Adhie Massardi. Bakti sosial ini diperkirakan melibatkan 3.000 orang. Kendati menolak menyebutkan jumlah, Rikwanto memastikan ada personel yang diterjunkan untuk mengamankan kegiatan itu.

Adhie Massardi mengatakan perubahan ini dilakukan karena ada tekanan dari berbagai pihak terhadap pengurus majelis. “Banyak teror kepada kami,” kata dia. Pembagian sembako, lanjut dia, akan diisi orasi yang isinya menuntut Presiden Susilo mundur.

Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto sebelumnya sudah melarang pengurus, kader, organisasi sayap dan organisasi massa yang berafiliasi dengan partainya turut serta dalam unjuk rasa yang bertujuan melengserkan Presiden Yudhoyono. “Kami tetap konsisten dengan jalur konstitusional,” kata Prabowo Subianto.

Presiden Yudhoyono yang memiliki agenda tersendiri tak terusik dengan pernyataan-pernyataan keras majelis. “Tidak ada pengaruhnya terhadap kegiatan presiden,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik, Daniel Sparringa. Hari ini, presiden dijadwalkan bertemu Presiden Liberia Ellen Johnson-Sirleaf dan bertolak ke Bali untuk menghadiri High Level Panel of Eminent Persons on Post-2015 Development Agenda.

Komentar